Haley's posts with tag: traditional snack
 | Category: | | Desserts | | Style: | | Soulfood | | Servings: | | 12 parcels or one 14 cm cake |
Description:Walaaahhh... namanya kok sulit banget sih. Huehuehue... Pokoke ini puding jagung dengan santan lah. Resep kuambil dari buku Periplus, Indonesian Cakes and Desserts. Inilah persembahan saya (ceileeehhh) untuk MFM #8. Bikinnya guampiiingggg... ping ping... bisa sambil merem lah! Dan meski penampilannya gak mengundang, tapi coba deh, rasanyaa... alamaaaaaaaaaakkk asoyyy geboooyyyy!!! Bisa merem melek makan pudding ini. Lembut, manis, dan njagung banget!! Tapi ada sedikit tips yang harus diperhatikan. Pertama, klo gak dibungkus, jangan pakai loyang setengah linggkaran seperti yang aku pakai. Pakai saja loyang kotak. Alasi loyang dengan daun pisang atau alumunium foil. Lalu, balikkan saat puding udah bener-bener dingin, jangan anget-anget dibalik kek aku. Hahaha... Sesat dah!! Atau untuk penyajian personal, bisa pake personal cup alumunium foil maupun mangkuk kaca tahan panas. Ohya, untuk pengukusan sebaiknya dilebihin dikit dari waktu yang disarankan, pake 40 menit aja lah! Ingredients: 3-4 fresh cobs of corn 300 ml thick coconut milk (aku pake kara 200 ml dicampur air 100 ml) 2 eggs 70 gr sugar 2 drops vanilla essence 1 tablespoon cornflour Daun pisang untuk yang dibungkus Directions:1. Using a sharp knife, cut away the corn kernels from the cob to yield 300 gr (3 cups) corn kernels. Place them in a food processor and process until fine. Add the thick coconut milk to the corn and mix well. 2. Whisk the eggs, sugar, and vanilla essence together until the sugar dissolves. Add this to the corn mixture and stir in the cornflour to form a smooth mixture. 3. Pour the mixture into 14 cm shallow cake pan and steam until set, about 30 minutes. Set aside to cool and cut into 3 cm squares or diamonds. Alternativenya, bungkus bentuk tum dengan daun pisang, pakai alumunium foil personal cup atau mangkuk kaca tahan panas. Cara aku bikin: Karena cuma punya blender, maka aku blender jagung dengan santan dan gula sampai lembut, lalu masukkan telur, vanilla, dan tepung maizena, blender sekali lagi hingga tercampur rata, lalu tuang di loyang, masukkan ke kukusan. Guamping puooolll kan??? 
 | Category: | | Appetizers & Snacks | | Style: | | Soulfood | | Servings: | | 15 - 20 pieces |
Description:Ini yang kuposting untuk MFM #7 bertema beras dan dikomandoi oleh Yami. Meski hasilnya gak sempurna gara-gara suka improvisasi dan kelupaan naruh tepung beras. "Gak papa ya Yam?" Sudah lama banget pengen bikin ketan sarikaya ini, baru kelakon sekarang. Setelah kuevalusi ada 3 kesalahan yang aku buat: Pertama, berhubung aku pakai gula jawa batangan itu, biar mudah so aku cairkan dulu dengan 75 ml air, aku saring (kan suka ada bungkil kelapanya tu klo beli di pasar), bru aku tambahkan 125 ml santan kental dan telur. Sayangnya telurna gak sempurna yg ngocok, asal nyampur ajah. Jadi coconut custardnya gak oke deh penampakannya. Klo dilihat kek telur kukus. Hahahaha... Kedua, aku kelupaan naruh tepung beras, jadi pas dipanasin diatas panci lamaaa banget "Kok gak kenthel2 sih?". Alhasil, batas layernya gak terlihat jelas. ada bagian turun dan bikin ketannya ebrwarna coklat. Ketiga, pas custardnya dah kutuang, seharusnya pake api kecil saja, tapi aku gak merhatiin, jadi api kompornya tetep nyala gede, hasilnya tuh custard jadi bergelombang gak rata :p Ah ya wis lah, namanya juga belajar masak... Ntar lebaran klo bikin ini jadi udah lebih pinter... :p Ingredients: Resep dari buku Periplus, Indonesian Cakes and Dessert, 2002 Bottom Rice Layer450 gr uncooked glutinous rice, soaked overnight 1 teaspoon salt 125 ml thick coconut milk 1 pandanus leaf, torn lengthwise and tied into a not Custard Topping5 eggs 250 gr finely chopped palm sugar 200 ml thick coconut milk 1 tablespoon rice flour ¼ teaspon salt Directions:Bottom Rice LayerDrain the glutinous rice and place it in a 20 cm square cake pan. Add the salt, coconut milk and pandanus leaf. Place in a steamer and steam for 30 minutes or until the rice is cooked. Flake the rice with fork and then press down to compress it, using a folded banana leaf or alumunium foil to flatten the surface. Return to steamer and steam for 5 minutes before adding custard topping. Custard ToppingPrepare the custard topping, beat the eggs and sugar in a mixing bowl until the sugar disolves. Add the coconut milk and stir in the rice flour and the salt. Place the mixing over bowl over the sauce pan, of boiling water and heat, stirring all the time until the mixture starts to thicken and coat the back of spoon. Remove from the heat immediately and pur over the bottom rice layer. Steam over low heat for 25 minutes or until the custard topping sets. Cool the cake thoroughly before cutting into desired shaped (slices or diamond shape) 
 | Category: | | Appetizers & Snacks | | Style: | | Soulfood |
Description: Di daerah lain mungkin namanya berbeda. Mungkin ada pula yang menyebutnya sebagai kolak ubi/singkong. Tapi di Solo disebut Ande-Ande Lumut. Kalau memakai gula merah dan dibuat lebih kering namanya menjadi Kluwo.
Ingredients: 1 kg singkong, kupas, potong-potong 600 ml santan encer 200 ml santan kental 100 gr gula pasir 1 sdt garam 2 daun pandan, sobek-sobek
Directions: 1. Rebus singkong dengan santan encer, masukkan garam dan daun pandan, biarkan sampai singkongnya hampir empuk dan airnya menyusut 2. Masukkan gula dan santan kental, masak sampai empuk/matang. 
 | Category: | | Appetizers & Snacks | | Style: | | Soulfood | | Servings: | | 12 bungkus |
Description:Nah, eksperimen yang kedua ialah mendut coklat mete. Mendut yang di Jawa Timur disebut roko-roko (atau ruko-ruko), di Padang disebut Lapek Bugis, dan entah apa nama lainnya di daerah yang berbeda. Sebenarnya baik mendut maupun ronde memakai bahan dan adonan yang mirip. Perbedaannya hanya pada santan untuk menguleni adonan dan pemasakan akhir. Setelah matang, rasanya memang enak, tapi adonan tepung ketannya terlalu lengket. Berbeda dengan mendut yang biasa aku makan. Dari sini aku berpikir, mungkin pembuat mendut yang dijual itu mencampurkan tepung beras agar adonan tidak terlalu lengket. Begitukah? Ingredients:Adonan tepung: 200 gr tepung ketan dengan 1 gelas (belimbing) santan yang telah diberi sedikit garam. Pewarna (aku pake 1/2 sdt pasta coklat) Isi: campur 50 gr mete cincang (aku pake mete goreng), 50 gr coklat leleh, dan 40 gr gula pasir Areh: 150 ml santan kental dengan sedikit garam. (kemarin aku bikin tanpa garam, rasanya jadi kurang mantep, agak hambar) Kebutuhan lain: Daun pisang untuk membungkus dan potongan pandan Directions:1. Uleni 200 gr tepung ketan dengan 1 gelas (belimbing) santan yang telah diberi sedikit garam. Bagi menjadi 2 bagian, yang satu diberi warna coklat (aku pake pasta coklat ½ sdt) atau warna lain sesuka hati. Masing-masing bagian bagi menjadi 12 bagian. 2. Isi: campur mete cincang, coklat leleh, dan gula pasir 3. Beri isi bagian tengah adonan tepung, lalu bentuk bola-bola kecil. 4. Bungkus bola-bola tersebut dengan meletakkan daun pandan di dasarnya. Tiap bungkus berisi 2 buah bola coklat dan putih, lalu tuang 2 sdm areh didalam tiap bungkusan. 5. Kukus kurleb 20 menit hingga matang  
|  | Oleh mbak Puitri -- urusan logistik kantor -- aku dimintai tolong bawain snack meeting hari ini. Entah rada iseng, alasan selera atau alasan ideologis (soale rada susah dibedakan), aku bawain segala macem bentuk snack masyarakat agraris. Makanan kecil yang berattssss. Yang ringan cuma criping (kripik singkong). Selain pisang godog, empat jenis makanan yang kubawa adalah criping, gethuk, blanggreng (singkon goreng) dan prol tape. Dan keempatnya berbahan baku SINGKONG!!!
Nyammm... semuanyah suka dan doyan kok... :p |
 | Category: | | Appetizers & Snacks | | Style: | | Soulfood | | Servings: | | 30 pieces |
Description: Dibuat khusus untuk menyambut JSers Yogya yang tour kuliner di Solo hari Minggu kemaren. (Eh, Mbak Sriii... aku bikin sosis Solo niii...)
Ingredients: Kulit/dadar: 7 butir telur 300 ml santan encer/air 2 sdm terigu 1 siung bawah dan 1sdt garam haluskan
Isi: 250 gr daging giling 5 sdm santan kental 1 butir telur 2 - 3 sdm irisan gula merah 8 siung bawang merah, iris halus
Bumbu halus: 5 siung bawang merah 1 siung bawang putih 1/2 sdt ketumbar 1/4 sdt jinten 1/4 sdt merica 1/4 sdt pala 1 sdt garam
Directions: 1. Campur semua bahan dadar sampai lumer, jangan sampai grindil. 2. Buat dadar (aku pakai wajan diameter 20 cm) 3. Isi: Campur daging dengan bumbu halus, masukkan gula merah, santan, dan telor, campur hingga merata 4. Taruh 1 1/2 sdt daging isi pada dadar, taburi dengan bawang merah iris, gulung rapi dengan bentuk agak pipih memanjang. 5. Kukus 30 menit dalam langseng (kukusan) yang dialasi daun pisang. Mateng deh! 
 Minggu, 8 April 2007, aku dan Fera melewati daerah Coyudan (Jalan Dr.
Rajiman). Bersorak hatiku ketika melihat si Mbah penjual Ledre di jalan itu. Sudah berkali-kali aku sengaja lewat tempat itu
agar aku bisa membeli ledre buatan si Mbah ini, tapi si Mbah ini tak
pernah buka. Kupikir si Mbah ini sudah berhenti jualan karena memang
sudah sangat uzur. Maka, kupinggirkan sepeda motorku.
Dari si Mbah ini, yang kuincar adalah ledre ndog (ndog = telur).
Setahuku ledre ndog cuma bisa dijumpai disitu, sementara ledre pisang
banyak dijual di toko kue dan bakul tenongan. Bagi yang belum tahu
ledre ndog, tapi sudah tahu kerak telor Betawi, nah, ada kemiripan
disini. Tapi ledre ndog adalah versi sederhana kerak telor. Ledre ndog
berbahan ketan (yang sebelumnya sudah direndam semalaman), kelapa parut
setengah tua, telor bebek dan tentu saja garam. Dibuat seperti membuat
ledre namun bentuknya dibiarkan bundar seperti bentuk pizza, tidak
seperti ledre pisang yang setengah lingkaran.
Ledre ndog ini warnanya kuning kecoklatan. Kuning karena warna telor
bebek yang  digunakan, sedang kecoklatan karena pemanggangannya dengan
wajan dengan anglo arang. Rasanya gurih, perpaduan gurihnya telor dan
gurihnya kelapa parut. Meski telornya membalut hampir seluruh butiran
ketan yang digunakan, tetapi tidak ada rasa amis sedikit pun. Kalau
masih hangat ketannya akan terasa lembut dan tidak keras. Buatku ini
makanan yang sangat ngangeni, karena gak bisa didapat setiap saat.
Selain karena ingin menikmati ledre, aku juga bertujuan membuat tulisan
atau liputan foto tentang pembuatan ledre ini untuk blogku. Oleh karena
itu kuminta si Mbah itu membuatkan untukku. Sambil menunggu matangnya
ledre, aku bisa berbincang-bincang tentang pengalamannya berjualan
ledre dengan si Mbah ini, begitu pikirku. Namun ternyata apa yang
kupikirkan tak sama dengan apa yang terjadi.
"Mbah, wonten ledre ndog?" (Mbah, ada ledre ndog?)
"Wonten. Ngersakne pinten?" (Ada. Minta berapa?) Katanya singkat sambil
mengambil tas plastik dengan tangan kiri dan tangan kanannya mengambil
bungkusan di depannya.
"Sampun didamel tho mbah?" (Sudah dibuat tho Mbah?)
"Sampun." (Sudah)
"Lha kulo pengen didamelke langsung niku. Kulo pengen ningali ndamele.
" (Lha saya pengen dibuatin langsung. Saya pengen ngliat pembuatannya.)
"Wong niki nggih taksih anget kok." (Ini masih hangat kok) si Mbah
terlihat agak kesal, wajahnya mecucu (cemberut). Jawabannya adalah
penolakan bagiku.
"Nggih pun, niku kulo pendet setunggal nanging kulo didamelke setunggal
malih." (Ya sudah, itu saya ambil satu, tapi saya dibuatin satu lagi.)
Simbah itu diam saja. Tas plastik yang tadi sedianya akan dipakai untuk
membungkus dikembalikan. Lalu si Mbah itu melanjutkan aktivitasnya.
Sialan, aku dicueki si Mbah penjual ledre ini, gerutuku dalam hati.
"Pripun mbah?" (Gimana mbah?) tanyaku.
"Mboten saged." (Tidak bisa.) Jawabnya sangat singkat.
"kulo purun nenggo kok mbah. Bibar penjenengan damel niki." (Saya mau
menunggu kok mbah. Setelah penjenengan membuat yang ini.) Jawabku
sambil menunjuk ledre pisang yang sedang dimatangkan oleh si Mbah itu.
"Niki dangu. Pesenan, kalehdoso." (Ini lama. Pesenan, duapuluh) Katanya
sambil semakin mecucu. Wajahnya bahkan terkesan sangat tidak terbuka,
kaku dan "ra butuh ditukoni" (gak butuh pembeli) olehku.
Akhirnya melihat tanggapan si Mbah tersebut, dan melihat wajahnya yang
masam dan kaku, aku mengurungkan niatku untuk mewawancarai dan membuat
liputan foto. Segera kuambil keputusan.
"Nggih pun mbah, nyuwun setunggal. Pinten?" (Ya sudah mbah, minta satu, berapa?)
"Kawan ewu." (Empat ribu) Jawabnya singkat sambil memasukkan sebuah bungkusan ke plastik.
Kubayar lalu aku segera pergi. Sepanjang perjalanan aku menyesali
kejadian tersebut. Masih terbayang wajah si Mbah penjual ledre yang
masam dan kaku.
Sampai di rumah, kumakan ledre dengan tak bersemangat. Meski enaknya
masih sama seperti pertama kali kumemakannya puluhan tahun lalu.
 | Category: | | Appetizers & Snacks | | Style: | | Other |
Description: Dikasih singkong oleh tetangga, oleh-oleh dari desa. Pinginnya sih dibikin sawut asin/manis, tapi kok dikit banget, takutnya malah lengket semua di dandang. Huehuehue... Akhirnya jadi blanggreng (singkong goreng) deh. Gampang, enyak dan pasti disukai seluruh keluarga!
FYI, di pinggir lapangan Manahan Solo, ada penjual singkong goreng mentega, klo bulan puasa omzetnya bisa sampai 50 kg singkong per hari. Klo sempat mampir kesana, pilih yang plain aja, alias goreng mentega tanpa tambahan bumbu lain. Jangan pilih rasa barbeque, keju, atau pedas. Aneh banget rasanya...
Ingredients: singkong, kupas lalu potong-potong bumbu, haluskan: ketumbar, bawang putih, dan garam air minyak goreng secukupnya satu sendok makan margarin
Directions: 1. Rebus singkong dengan air dan bumbu halus sampai setengah mateng. 2. Panaskan minyak, masukkan margarin 3. Goreng singkong rebus hingga berwarna kuning kecoklatan 4. Sajikan hangat sebagai teman teh/kopi anget, atau jadi teman nonton tipi.

 | Category: | | Appetizers & Snacks | | Style: | | Other |
Description: Ini resep favorit, dan paling sering aku perkosa. Hasilnya selalu mekar dan enak. Kali ini pakai nangka, mumpung ada nangka hasil kebun (baca: halaman rumah). Nangka dipotong kotak-kotak ukuran dadu, lalu campurkan dalam adonan sesaat sebelum dikukus.
Hmmm... kali lain pasti bisa klo dicampur pisang, durian, kelapa muda, coklat chips, keju.... daging asap... rasanya aku prefer kue mangkok ini timbang muffin (dasar lidah agraris!! Wekeke...)
Ingredients: Ini resep asli kiriman Riva di NCC. 350 gr tepung beras 250 gr tape 600 ml air hangat 75 gr gula pasir 400 gr gula merah ( dicampur diair hangat ) saring 60 gr terigu 2sdt baking powder
Versi aku sama saja, tapi variannya yang beda. Air diganti santan direbus pake pandan. Klo gula merah lagi gak ada di dapur, ya pake gula pasir. Biar warnanya jadi seksi, ya tambah pewarna/pasta.
Directions: 1. Campurkan tape singkong dan tepung beras sambil ditungi air hangat sedikit demi sedikit sambil di aduk hingga adonan licin. 2. Masukan tepung terigu yang sudah dicampur dengan BP. 3. Masukan gula pasir. 4. Setelah adonan tercampur rata istirahatkan selama 1-2 jam. 5. Olesi cetakan kue mangkok dengan minyak, letakan di kukusan kemudian panaskan cetakan tersebut, setelah cetakan panas masukan adona kedalam cetakan. Tutup kukusan dengan serbet agar air tidak masuk ke adonan. 6. Kukus selama kurang lebih 10 menit hingga kue mekar. 7. Setelah matang keluarkan kue mangkok dari cetakan dan siap untuk dihidangkan.
Tips Riva:
- Masukkan se-dikit2 adonan tepungnya ditambah dg air gula (hangat ya). - gula pasir juga sama, tepung terigu juga, gula pasir terakhir. - ohya.. pas nyoba kukus, cobain 2 or 3 cetakan dulu.. kalo kira2 gak mekar..(pk ilmu sesat juga), adonannya tambahin air hangat 1/2 - 1 gelas. ok gutlak..ntar ceritain ya kalo dah coba.. ini kue sebenrnya guampanggg banget tp suka belagu..heheh
Tips Haley: - cek rasa tape, klo udah manis, kurangi takaran gulanya - ganti air dengan santan, dijamin rasanya tambah enak - saat mencampur adonan, pergunakan tangan anda, tepuk-tepuk adonan biar gak nakal dan mekar indah. wekekeke... - jika hendak dikonsumsi pagi hari, buat adonan malam hari, diamkan semalaman, tutup dengan serbet. Jika dikonsumsi sore hari, buat adonan di pagi hari. 
| |