Haley's posts with tag: thankful life & love
Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting?
Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?
Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?
I Korintus 4:7
1. Aku gak bisa ngubah-ubah css untuk layout blogku. Gak mudeng css itu apa... Aku cuman paham cs --cinta sejenis-- ups.... gak lhooo aku masih tertarik menjalin asmara ma cowok, tinimbang cewek! Nah, paling banter aku cuman bisa ngubah tampilan warnanya, padal aku pengen masang banner di blogku ituuu.... hiks. 2. Tulisanku biasa2 aja, klu aku kadang nulis issue petani, lha karena aku deket ma komunitas ini. Tapi gak seperti Siswono Yudohusodo, apalagi Mubyarto dan Sajogya... jaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuhhh. Malah tulisanku banyak curhat2an ra mutu... meski ada tulisan yg bikin kaget kayak gini... tapi aku bukan penyair kek si anak kreatif ini meski kadang bikin puisi (ra mutu) serta prosa ala kadarnya. Dan meski pernah bikin cerpen, daku bukan cerpenis kek temenku yg mo nraktir pizza hut hari ini karena cerpennya dimuat di koran (pssssssstttt.... jangan bilang2... ntar pada ikutttt... hihihi). 3. Ralat ya temen-temen, aku ini bukan pemrakarsa Rumah Kenari... ide awal tu dari temen ini dan temen ini, dan mereka lah yg berhasil mbujuki daku jadi pemandu sorak, sehingga para Multiplier Solo melahirkan Rumah Kenari. 4. Soal potret-memotret, yeeeee... di multiply ini banyak fotografer keren yg klu disebut bisa kriting jariku ngetik namanya... 5. Apalagi soal masak memasak, aku masih harus belajar banyak dari temen-temen di multiply. Jadiiii.... kalian semua keliruuuu!!!! Huhuhuhu....
Lihat, logo diatas aja aku comot dari jurnal si anak kreatif ini.... kagum daku, logonya bener2 kreatif!!! Dan aku bener2 gak kreatif!!! (Duh, sorry ya, tanpa mengurangi rasa hormat pada pembuat logo sebelumnya, tapi logo ini emang pantas diwartakan!) Tapi demi rasa hormatku pula pada kalian semua para multiplier, baik yg memberi award maupun tidak memberi award, daku lanjutkan award ini. The rules: 1. The winner may put the logo on her/his blog 2. Put a link to the person you got the award from. 3. Nominate 5 blogs. 4. Put links to the blogs. 5. Leave a message for your nominees.award
Dan yang kreatif menurutku:
1. Si anak kreatif, Nozqa 2. Mbak yang penuh kasih dan inspiratif, Arfi Binsted 3. Teman yang kepulan dapurnya selalu beda, Stella 4. Mbak yang tak pernah lelah berkarya, Theresa Jackson 5. Teman yang selalu belajar dan mempromosikan kuliner Indonesia, Pephy PS. Minta maaf buat Monica, yang tahun lalu pernah memberi award jambon ini, aku lupa alasannya waktu itu sehingga award ini tidak kuteruskan...
 Kalau suatu saat aku meninggalkan rumah tempatku makaryo sekarang ini, ini akan menjadi cerita yang akan selalu kukenang... (duileh, kalimat pertamanya kok sentimentil gini...)Tempatku makaryo bukanlah sebuah tempat yang indah. Malah kadang kala lebih mirip rumah hantu tinimbang rumah manusia (Apalagi kalau masuk ke dalamnya). Lokasinya saja di bagian paling pojok belakang sebuah perumahan bergang buntu. Tetangga sebelah satu-satunya sudah pindah sejak beberapa tahun lalu, otomatis cuman kami penghuni bernyawa di pojokan itu. Tetangga yang lain ada dibelakang kami. Di depan "rumah kami" ada sebuah kebun yang cukup luas. Tidak terlalu jelas siapa pemilik kebun tersebut, mungkin pengelola komplek, mungkin pula perseorangan. Adalah Pak Kirdi, penjaga malam rumah kami yang mengupayakan kebun tersebut sehingga bisa ditanami pisang, singkong, pepaya, sere, dan beberapa tanaman lain. Secara berkala--pada waktunya--Pak Kirdi dan istri akan memanen daun pisang, buah pisang, dan singkong dari kebun tersebut. Kadangkala, di hari siang panas, pikiran buntet, dan perut lapar keroncongan, pemandangan hijau di depan kantor terasa begitu mengundang dan menggairahkan. Betapa tidak?? Ada pisang, singkong, pepaya... Hingga kejadian yang kutulis berikut, tidak hanya terjadi sekali dua kali. "Pak Kirdi, minta singkongnya yaaa..." "Monggo, mendet kemawon." (Silahkan, ambil saja) dijawab sendiri oleh suara pertama *jabrul* (udah mirip suara nyabut singkong gak?)*clak... clak...* (udah mirip suara pisau nebas singkong gak?)
"Matur nuwun Pak Kirdi."
"Inggiiiihhh..." Dijawab sendiri oleh suara pertama. Lalu oleh orang bersuara tersebut, ditanamnya lagi batang singkong yang sudah tak bersingkong... kamuflase. Sambil tersenyum geli masuk ke dalam rumah, bernyanyi kecil, dikupasnya singkong, dipotong-potong, lalu direbus dengan sesendok garam. Ketika mateng, langsung diserbu seluruh penghuni rumah, dinikmati dengan secangkir kupi atau teh anget.  Malam hari, saat Pak Kirdi ngantor, dihidangkan sepiring singkong rebus yang disisihkan dari serbuan penghuni rumah. "Monggo Pak, pohung godok dari kebun depan..." Pak Kirdi tersenyum paham sambil nyomot sepotong. Itu baru satu kasus singkong. Kadangkala aku tak tahan melihat pucuk-pucuk daun singkong yang muda dan tak termanfaatkan. Kuambil berpucuk-pucuk, kubawa pulang, dan jadilah makanan lezat di rumah; gulai daun singkong. Dan di saat membutuhkan, aku mengambil beberapa lembar daun pisang dan beberapa batang serei untuk keperluan masak-memasak. Belum lagi pepayanya yang ranum seringkali menggoda pernghuni rumah yang kepanasen. Namun, suatu kali, Pak Kirdi pernah kemalingan beberapa tandan pisang. Eitss, jangan main tuduh dulu. Para penghuni rumah ini tak ada yang "berani" mengambil sesisir-pun pisang. Bukan karena takut Pak Kirdi marah, hanya kami tak ingin lebih rakus dari sekedar beberapa batang singkong dan daunnya. Maling beneran lah yang mencuri tandan-tandan ranum tersebut. Uh, teganya...:((
Dikirimi teman template untuk menghitung budget keluarga. Disini kita bisa mencatat dan mengatur budget harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Tentu saja akan sangat berguna bagi pencatatan keuangan keluarga. Juga untuk bujangan seperti daku.
Setelah iseng-iseng, menghitung pendapatan tetap dan tak tetap. Juga memasukkan pengeluaran tetap dan tak tetap. Lho, kok hasilnya defisit? Defisit per bulan kurang lebih 10%. Padal itu pun blum mengeluarkan untuk saving.
Jadiii... kok aku bisa gak punya utang? Jadiii... kok aku masih bisa jalan-jalan kesana-kemari? Jadiii... kok aku masih punya (meski) sedikit tabungan?
Keknya salah deh ngitungnya... tapi tetep saja aku lega... Maturnuwun duh Gusti, karena rejeki yang Kau cukupkan untukku hari ini... :)
NB. Bagi yang pengen punya templatenya, silahkan lho download attachment ini.
Attachment: CONTOH BUDGET KELUARGA.xls
Ketika masih kecil, di rumahku ada sebuah pohon nangka yang sangat besar. Saking besarnya, kedua tanganku tak cukup panjang memeluk lingkar pohon tersebut. Pohon nangka besar ini daunnya pun banyak dan lebat, namun tak demikian buahnya. Hampir tak pernah berbuah. Hahaha… Bapakku mempertahankan pohon itu karena mampu memberi keteduhan dan filter bagi udara panas yang akan masuk ke rumahku. Sepulang sekolah, dengan teman sepermainan aku mengambil setiap helai daun kuningnya yang jatuh memenuhi halaman rumah kami. Lalu dengan bantuan biting, kami bikin daun-daun itu menjadi ikat pinggang dan mahkota, lalu mengandaikan diri sebagai ratu bermahkota daun nangka… :p (Anak-anak sekarang tidak mengenal permainan ini. Karena itu kuajak keponakanku mengambil setiap daun kering yangjatuh dan merangkainya. “Kayak gini kok permainan tho tante?” protes Theo, meski sebenarnya mereka pun menikmati mainan baru tersebut.) Kadang-kadang menjelang siang yang hening, ada burung “prenjak” berkicau dan bermain diantara dahannya. Mbah Nem dan Lik Yem lalu akan berseru, “Wah, prenjak-e ngganter, meh ono dayoh teko.” (Wah, burung prenjaknya berkicau nyaring, akan ada tamu yang datang). Hingga sampai sekarang aku percaya bahwa bunyi prenjak ngganter adalah tanda akan ada tamu. Benar atau tidaknya, walahualam… Namun setelah aku agak dewasa, pohon itu ditebang, digantikan dua pohon mangga yang sudah mulai besar, ditanam sederet dengan pohon nangka tersebut. Lumayan, meski buahnya pun tak begitu lebat, tapi pada musimnya, cukup untuk dibagi ke tetangga kanan kiri dan dikirim ke kakak-kakak yang di luar kota, agar mereka bisa merasakan buah mangga rumah. Kira-kira 3 tahun lalu, masku Yahya datang dengan membawa bibit nangka yang kira-kira sudah setinggi 1 meter. “Ayo nandur nangka meneh, ngganteni nangka sing dek mben.” Agakny a ada romantisme khusus dengan pohon nangka… “Wah, nunggu 6 tahun dong biar bisa manen.” “Ora, ini nangka genjah kok, cepet berbuah, gak usah nunggu terlalu lama.” Kemudian ditanamlah pohon nangka itu diantara banyak pohon di halaman rumah kami. Tak ada perlakukan khusus. Tak ada pemupukan dan perampalan batang, tidak seperti pohon mangga kami. Namun tahun ini nangka itu sudah mengalami panen kedua. Panen pertama setahun lalu boleh dibilang semacam percobaan saja. Hanya menghasilkan 4 buah, dan isinya pun lebih banyak damen-nya tinimbang nangka. Setelah aksi operasi nangka, bedah sana sini, hanya ditemukan 10 pongge nangga. Hahaha… Tapi kali ini lain. Pohon nangka kami benar-benar berbuah lebat. Hingga saat ini sudah 4 buah nangka besar dan 3 buah nangka kecil yang kami panen. Sementara di atas pohon masih terdapat lebih dari 5 buah nangka. Tentu saja bener-bener mblenger, apalagi sepuluh hari lalu 3 buah nangka matang dalam waktu bersamaan, sementara aku cukup sibuk untuk membelah satu-satu. Akhirnya mbak-mbakku dengan sukarela membawanya ke rumah mereka masing-masing, dan aku minta bersihnya saja, alias nangka yang sudah dipleceti. Olehku, selain kumakan langsung atau kubikin campuran es dawet, ada sebuah makanan yang kukangeni. Makanan sederhana yang bernama samarinda. Makanan ini hanyalah nangka yang diiris selebar 1 cm, kotak-kotak ataupun memanjang, lalu dicampurkan dalam adonan tepung, telur, gula dan garam. Hmmm… nyam…. Dimakan anget-anget pada pagi yang hening dengan secangkir kopi.
|  | Dalam masyarakat kita, lebaran sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi, tidak hanya bagi umat muslim, tapi juga bagi non muslim. Dan kami sekeluarga pun menyambutnya dengan suka karena inilah saat keluarga besar Bapak saling kumpul lengkap dengan anak menantu dan cucu.
Menyambut lebaran, rumah berbenah.
Pagi hari raya Idul Fitri, setelah sholat ied, lalu dilanjutkan ke makam, rumah kami selalu ramai…
Selamat hari Raya Idul Fitri 1428 H, mohon dimaafkan segala salah dan cela dalam setiap kata, hati dan perbuatan… |
“Berarti umurku yo ono pitung puluh no ya yen Pakde yuswane pitung puluh pitu.” (Berarti umurku sekitar tujuh puluh ya kalau Pakde umurnya tujuh puluh tujuh.) Seru Oomku di ultah bapakku kemarin. Iya, bapakku genap berusia 77 hari Sabtu lalu. Kalau dilihat dari usia, bapakku sudah sepuh banget ya. Tubuh dan wajahnya pun sudah terlihat renta. Tapi dilihat dari staminanya, bapakku masih kuat beraktivitas di rumah. Iya, baru setahun ini bapakku benar-benar berhenti mengajar. Tahun lalu bapak masih mengjar 3 hari seminggu di sebuah akademi teknik. Iya, bapakku masih kuat beraktivitas, lagi sangat rajin. Kalau kuceritakan dibawah ini, pasti semua pembaca mengolok-olok diriku. Hahaha… Pagi hari bapak bangun menyiapkan sarapan bubur havermut dan berbagai pelengkapnya buat ibu, lalu menyapu halaman, kemudian memandikan ibu. Selesai memandikan ibu bapak mengepel lantai rumah seraya menunggu baju digiling di mesin cuci . Kadang kala masih dilanjutkan dengan berkebun. Kadang aku protes, misalnya ngepel dengan air yang kotos-kotos sehingga lama kering dan keringnya bernoda, atau seringkali suka mbabati tanaman yang belum saatnya dipangkas. Namun semua hanya kulakukan dalam hati saja. Toh bapakku perlu beraktivitas. Aku pernah mengusulkan mencari pembantu, namun bapakku menolak. Pada hari ultah kemarin kami sekeluarga, anak mantu dan cucu Bapak, Oom, bulik dan keponakan yang tinggal di Solo berkumpul untuk berdoa dan makan-makan ala kadarnya. Menu tidak dipersiapkan jauh hari. Dua hari sebelum hari H baru berinisiatif membuat tumpeng nasi kuning. Karena ribet, maka aku memobilisasi kakak-kakakku untuk ikut mengerjakannya. Masku yang nomer satu, Suryo, membuat sambal goreng kreni atas komando Mbak Tining, istrinya yang saat itu sedang sakit. Mbakku yang nomer lima, Ratih, kuminta menyiapkan nasi kuning dengan tampah dan hiasannya. Mbakku yang nomer empat, Lena -- karena paling tidak pintar masak -- kuminta nggoreng kerupuk udang. Namun Mbak Lena membawakan pula pudding coklat dan pudding tape ketan. Masku yang nomer enam, Yahya, dan istrinya, AL, membawakan sekeranjang aneka buah. Aku yang di rumah memasak terik daging, acar kuning, telur dadar iris, serta membuat tiramisu. Lalu pelengkap lainnya seperti abon, klengkam, srundeng, dan kering tempe… beli aja di Varia! Hehehehe… Sementara tiramisunya, karena males menghias, jadi ya seadanya. Namun entah kenapa creamnya cepet lumer, lemes banget. Kali ini aku membuatnya memakai whipped cream cair. Dulu pernah membuat pakai whipped cream bubuk hasilnya malah lebih kaku. Tapi soal rasa lebih enak memakai whipped cream cair. Dan desert yang lain sebenarnya aku bikin es cream green tea, tapi sampai saat penyajian tu ice cream belum keras juga. Hehehe… Sore hari jam 3-an semua sudah siap, lalu nasi kuning dan perlengkapannya aku tatat di tampah. Bapak saya tanya, “Iki nggo opo?” (Ini untuk apa?) Kujawab, “Lho, gimana sih, ini kan ultah bapak, ya buat makan-makan doong…”. Sore itu, dengan orang yang baru sedikit, bapakku memotong tumpeng, lalu Mas Yahya memimpin doa bersama. Malamnya lebih banyak lagi saudara yang datang. Dan nasi tumpeng ludes. Panjang umur Pak! Semoga senantiasa sehat, ayem, dan tentrem. Gusti mberkahi!
Meski judulnya memakai Bahasa Inggris, seperti judul blog ini, aku sekedar mengutip ilustrasi yang ditulis Romo Sindhunata dalam bukunya Aburing Kupu-Kupu Kuning, halaman 122-123, dalam Bahasa Jawa. Santa Theresia, Cethi Dalem Sang Timur, nyritakake, menawa piyambakek iku isinan, ora seneng karameyan, pesta-pesta. Pancen iki kabeh marakake panjenengane krasa sepi, adoh soko kanca-kancane. Kelingan marang rasa isine lan sepining ati mau, ndungkap ajale Santa Theresia nyerat mangkene: "Gusti pirsa kasekenganku, aku iki manungsa kang gampang kagodha kasukaning donya. Yen aku ora isinan, mesthi aku gampang melu ubyang-ubyung karo kanca-kancaku sing imane pancen luwih kuwat tinimbang aku. Umpama aku ora isinan, aku mesthi wis tumiba ing dosa bola-bali. Dhuh Gusti, sepinten agenging atur panuwun kawula dateng Panjenengan Dalem, dene Panjenengan sampun njagi kulo tebing saking dosa, srana Panjenengan Dalem maringi kulo raos isinan. manah kulo pancen kraos sepi, nanging kasepen meniko peparing Dalem, supados gesang kulo namung mligi gumantung ing Panjenengan Dalem lan boten madosi panglipur saking tiyang sanes, margi panglipur menika namung murugaken kawula dhawah dateng dosa".Ilustrasi yang lain demikian: Peparing Dalem Gusti iku akeh lan warna-warna. Ana cantrik ing sawijining pertapan. Pandhita gurune ngira yen cantrik mau keturon, kamangka cantrik mau lagi semedi sembahyang. Nuli pandhita mau nggugah kanthi ngepetake tepase. Ora kasengaja, tepas mau ngenani mripate, lan ndadekake mripate cantrik mau wuta. Cantrik mau ora serik marang gurune, malah ngucapake pepuji marang Gusti. "Gusti, mripat kawula menika ingkang njalari kawula dumawah ing dosa, ningali lan kapilut kanikmataning donya. Sakmenika mripat kula petheng, namung jatining paningal kula dados trawaca lant terang, mripat kula ingkang wuta menika nebihaken kula saking godha lan dosa, lan namung pasrah dhateng katresnan Dalem."Ing sawijining dina, sang pandhita nutup lawang. Ora kasengaja maneh, tumindak mau anjalari drijine cantrike kang wuta kejepit lan tugel. Cantrik mau ora sambat, malah ngucap: "Dhuh Gusti, sanadyan mripat kula sampung Panjenengan tebihaken saking dosa, nanging tangan kula taksih remen ing panggodha. Matur nuwun dhuh Gusti, denen samenika kula saged langkung nresnani Paduka, margi icalipun driji kula."
Sebuah renungan yang kembali mengingatkanku untuk mensyukuri setiap kelemahan, ketakmampuan dan kekurangan diri. Terakhir Romo Sindhunata menutup dengan kalimat doa Santo Ignatius "Sumangga Gusti, sadaya menika kula aturaken dhateng Panjenengan Dalem. Yen Gusti kersa nilari kula katresnan Dalem, menika sampun cekap kangge kula!"
Ngaturaken sugeng riyaya Jumat Adi lan Paskah, Gusti mberkahi..
Bulan January hingga April seakan jadi bulan jumpa artis. Siapa artisnya? Ya kita semua yang saling berjumpa ini. Hahaha… Selain kopdar heboh di Yogya akhir February lalu, ada beberapa kopadaran yang aku catat.
Novita Dewi, NCC
Akhir bulan January, Mbak Novita Dewi NCC dan suami yang sedang jalan ke Solo contact aku dan kami sempat ketemuan serta ngobrol-ngobrol sebentar di loby Hotel Solo Inn (Comfort Inn), tempatnya menginap. Mbak Vita orangnya talkative, jadi meski baru ketemu kita langsung cair aja ngobrolin macem-macem. Makasih permen jagungnya ya mbak... :D
My little sister, Ozel Tanggal 6 Pebruary 2007 saat aku ke Yogya, ketemuan dengan Ozel dan adiknya Inge. Ozel kukenal di mIRC. She is a unique girl. Pendiam dan kalem. Rambutnya dibikin gimbal ala rasta. Panjangnya hampir sepinggang. Meski boru Siahaan, ni anak gak kliatan Batak samsek. Bahkan karena kalemnya dia terlihat lebih Jawa katimbang aku. Inge, adik Ozel, yang masih bisa dibilang Batak.
Kami cukup lama bertiga. Tadinya ngobrol di food court Malioboro Mall, lalu lanjut ke Kopi Blandongan di Gowok. Yang lucu, tadinya aku berpikir, "Wah, bakal ketemuan sama abg nih..." dan Ozel berpikir, "Bakal ketemuan sama ibu-ibu nih..." Tapi ternyata kita semua bisa lebur meski jarak usia yang cukup jauh. Yang lebih lucu lagi, ternyata kita berdua pernah deket dengan cowok yang sama pada waktu yang hampir bersamaan. Sebut saja inisialnya D. D dekat denganku--saling pendekatan diantara kita--dan pada saat yang sama, dia adalah pacarnya Ozel. Hahaha… kami baru tahu belakangan setelah sama-sama tak (mau) dekat dengan D. D telah menguap dari album kenangan kami.
Akhirnya, jadilah ia adikku... asyek, dapet banyak kakak dan adik dari internet!!! Hmmm... I think I love her... Hahaha...
Artis dari Surabaya
Sabtu, tanggal 17 Maret dini hari—belum mandi lagi—aku memacu sepeda motorku ke terminal Tirtonadi, Solo. Sebuah nomor kupencet terus, tetapi tak ada yang mengangkat. Smsku pun tak juga dibales, “Mungkin masih subuhan.” Pikirku. Lalu aku menunggu di lobby terminal sambil mengawasi sedikit orang yang lalu lalang. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang perempuan berjilbab yang cantik, berjalan dengan seorang lelaki yang tegap. Mata fokus pada hp dan jari yang riang memencet tuts hp. “Mbak Lia?” Perempuan itu tersenyum lebar, “Haley?” Waaa… akhirnya kami berpelukan. Yang lucu adalah, Lia selalu mengira bahwa aku ada di Yogya, makanya sempat tercetus, “Lho, kok cepet nyampe sini?”.
Dari terminal, saya, Lia dan Mas Ali berjalan kaki menuju Manahan yang berjarak kurang lebih 1 km. Udara masih segar, jalanan belum ramai. Di jalan kami ngerumpi dengan asyik, seperti teman yang lama tak pernah bertemu. Beberapa kali Mas Ali berharap agar naik becak saja, tapi kami selalu bilang, “Gak jauh kok mas, idep-idep jalan pagi.” Hahaha…
Di Manahan Lia menikmati nasi liwet dan pecel ndeso, serta mencicip bumbu wijennya cabuk rambak. Mas Ali makan nasi liwet, dan saya memilih pecel ndeso. Mas Ali sesekali melontarkan ucapan-ucapan yang lucu namun dengan ekspresi yang innocent, sehingga aku tertawa geli. Setelah puas makan, diselingi berfoto dan ngrobol. Kami kembali ke terminal dengan dua becak. Dari terminal, Lia dan Mas Ali harus melanjutkan perjalanan ke Cilacap dan aku pulang ke rumah. Sesampai di rumah langsung kunikmati keripik kentang produksi Lia yang renyah dan gurih. Huenakeee…
Namun cerita belum selesai. Hari Selasa 20 Maret 2007 aku kembali janjian dengan Lia bertemu di Stasiun Balapan, karena Lia nitip dibelikan abon dan serundeng Varia. Kami berdua sempat deg-degan seperti kekasih yang hendak kencan, karena ketidak pastian tempat perhentian kereta; Stasiun Purwosari, Balapan, atau Jebres? Aku sudah sampai di Balapan waktu itu, tetapi Bapak penjaga peron mengatakan bahwa kereta dari Cilacap hanya akan melambaikan tangan di Balapan, alias tidak berhenti. Aku sms Lia, “Li, tolong pastikan kereta berhenti dimana, karena… bla… bla… bla…” Setelah mendapat jawaban Lia, kuyakinkan diri menunggu di jalur 5 stasiun Balapan. Tak berapa lama diberitahukan bahwa kereta dari Cilacap akan berhenti di jalur 1… walahhh… musti nglompati 2 buah kereta lagi agar bisa kembali di jalur 1. Akhirnya sambil berlari dan deg-degan, kujumpai Lia untuk menyampaikan pesanannya, tepat di pintu kereta, sambil sekali lagi berpelukan dan melambaikan tangan.
Artis Broadway, NY
Berikutnya, Kamis, 29 Maret 2007. Saat sedang di kantor, sebuah telphon dari nomer yagn tak kukenal masuk, “Mbak Haley… ini Elika…dst…” Akhirnya meluncurlah aku menjumpai Mbak Elika NY di warung pecel ndeso Manahan. Mbak Elika dan Alex, her cute son, baru saja turun dari pesawat Singapore Airways yang membawanya dari NY ke Solo. Bertiga dengan kakaknya, mereka mencoba merasakan pecel ndeso dengan sego abang dan sambel wijen itemnya. “Mbak Haley, maaf gak bawa Andy Garcia, bawanya Edi Garcia…” serunya sambil mengenalkan kakaknya yang bernama Edi. Waduuuhhh... batal deh dapet Andy garcia… *Hayoo mas Tiguunnn… mana Andy Garcia?*
Mbak Elika ini sebenarnya satu almamater di UKSW, namun beda angkatan dan beda fakultas, meski satu gedung. Kuakui pula, aku agak kurang gaul di Fakultas. Saat itu aku lebih banyak bergaul dengan anak-anak Gedung C daripada anak-anak Gedung F, dimana kami sering beraktivitas. Mbak Elika hangat dan cenderung pemalu. Alex, wow, kalau orang Jawa bilang, grapyak dan semanak (friendly). Mbak Elika sendiri menceritakan kekawatirannya punya anak yang gampang dekat dengan siapapun, bahkan orang yang tak dikenal sekalipun. Sigh… Anyway, matur nuwun sanget buku cake decoratingnya ya mbak!!
Artis India dari Abu Dhabi
Jumpa artis yang masih gres adalah pertemuanku dengan Lia dan suaminya dari Abu Dhabi, kemarin pagi. Setelah bersms-ria dengan Lia, akhirnya kesampaian juga jumpa artis disela waktu sarapan pagi. Sarapan, berbincang, dan berfoto. Lia menceritakan perjumpaannya dengan suaminya, bercerita tentang India, dan tentang menunda punya momongan. Lia sudah terlihat seperti orang India; gayanya dan wajahnya, “Halah, India kok irunge mblesek…”.
Sayang Lia tak berlama-lama di Solo. Hari itu dijadwalkan jalan-jalan di Solo dan Boyolali. Hari berikutnya akan kembali ke Jakarta.
“Kasihan suamiku disini gak ada curry. Aku mau cari opor aja. Opor kan kayak curry.”
“Kau pindah Solo aja Li, bikin restoran India.” Ah, seandainya…
Dan pagi itu aku pun tak bisa berlama-lama karena jam 9 aku harus sampai di kantor. Di halaman hotel kami berpamitan, Lia memberikan buah tangan Saree warna kuning dan hiasan dari pasir 7 warna untukku. Wow, senang sekali mendapatkannya. Setelah itu kami hanya sempat bersms. Kapan bisa bertemu denganmu lagi Li?
Banyak Teman, Banyak Rejeki
Ini adalah pepatah kuno yang dulunya sempat membuatku protes. Masak sih cari teman banyak-banyak kok biar dapat banyak rejeki.? Matre ya? Berpamrih ya? Tapi ternyata memang menyenangkan punya banyak teman. Dan rejeki pun mengalir tak terduga. Rejeki disini bukan selalu bersifat material, tetapi juga ilmu, wawasan, tempat sharing dan berdiskusi atas persoalan hidup serta kedekatan yang tak mampu dilukiskan hangat dan indahnya. Bersyukur sekali aku mengenal komunitas multiply ini. Sejak tahun 2000 weblog dan cyber relationship sudah menjadi keseharianku, namun baru kali ini aku merasakan komunitas yang hangat dan personal. Apalagi disini aku belajar tentang dunia perempuan. Hahaha… Jangan heran, dulu temanku lebih banyak lelaki!
Terima kasih semua teman MP yang budiman dan budiwati. You’re all the best!!!
 Pukul 3 siang, diantar Harry aku meninggalkan Pakem menuju
Yogya. Sepanjang perjalanan turun, perkebunan salak diganti dengan sawah yang
menguning terhampar di kanan kiri jalan . Rumah belum seberapa banyak dan
suasana pedesaan terlihat ramah. Udara menjadi semakin hangat seiring kami
berjalan turun melewati Jalan Palagan. …d i
beberapa sudut jalan, gambar album kenangan muncul. Seperti menonton film yang
kumainkan sendiri.
Di tengah kota, Malioboro sangat ramai. Bus wisata berjejer di pelataran parkir utara Hotel
Garuda. Mungkin membawa wisatawan yang melihat gunungan sekaten. Aku memasuki
Mirota Batik yang penuh sesak. Bingung memilih suvenir. Ingin ini dan itu.
Namun akhirnya kutemukan yang kubutuhkan.
Masih ada sedikit waktu sebelum naik Pramek ke-enam yang
akan membawaku pulang ke Solo. Mampir di angkringan Pak Kasno samping depan
stasiun Tugu. Menikmati langit Yogya yang mendung. Melihat dua lelaki muda di
tengah tanah lapang yang penuh dengan sampah; membaca buku, berbincang,
membakar sampah… Apa gerangan yang sedang kalian pikir dan kerjakan kawan?
Sepuluh menit sebelum kereta berangkat, kami menuju Stasiun
Tugu, membeli tiket, menaiki gerbong dan saling melambaikan tangan. Tak berapa lama kereta melaju. Hujan
turun di luar kereta. Di depanku sepasang kekasih mesra bercanda. Sambil
terkantuk-kantuk kuambil HP dan kutulis sms untuk seorang sahabat, “Aku tadi melewati ruang masa lalu yang
telah mulai aku tinggalkan. Horeee!!!”
Yogya sore itu, langit mendung, tapi tak ada luka, tak ada
pedih, tak ada sedih. Aku bersuka!!!

Kalau membaca kata "beras jatah" apa yang terlintas dalam pikiran? Beras jatah PNS yang berwarna coklat, kalau dimasak keras dan berbau apek, lalu biasanya langsung dijual di tempat, diambil tukang tadah, tanpa perlu "rekoso" dibawa pulang? Hehehe... itu bayangan yang wajar!! orangtua sayah dua-duanya pensiunan guru. Dulu jaman masih mengajar dan mendapat beras jatah setiap awal bulan tak pernah dibawa pulang karena kualitasnya berasnya yang jelek. Di sekolah sudah ada orang yang jadi tukang tadah. Orangtua saya pulang sambil membawa uang tukar beras dari si tukang tadah. Tapi beras jatah yang ini beda man!!! Beras jatah yang ini adalah beras dari hasil budidaya secara organik. Diproduksi dan dipasarkan secara langsung oleh kelompok tani. Kemasannya pun bagus dan sangat informatif, lengkap dengan tabel yang menjelaskan kandungan protein, vitamin dan karbohidratnya. Serta informasi tentang residu bahan kimia yang masih tertinggal. Lah, katanya organik, tapi kok masih ada residu bahan kimianya? Yah... memang susah lah membuat organik 100% klo airnya masih ambil dari irigasi yang mungkin di hulu sana habis dipakai nyuci popok dan seprei pake deterjen. Ataupun jika memakai air tanah, siapa yang menjamin belum tercemar oleh bahan kimia dari aliran di bawah tanah? Hihihi... ssttt... aku kasih tahu rahasia yaa... mulai bulan ini, dari kantor aku mendapat beras jatah 10 kg per bulan. Asyek mannn!!! Beras jatahnya beras berkualitas!!! Hidupku lebih sejahtera sekarang!!! Hidup petani organik!!! Semoga sejahtera pulalah mereka!!!
 I ni cerita tentang istri teman kerjaku bernama bernama Iva. Latar belakangnya, mereka adalah pasangan muda yang telah dikarunia seorang anak perempuan berumur 4 tahun. Mereka bertiga tinggal di sebuah desa di pinggir jalan Palagan Km 7, Sleman, jauh dari keramaian, berdampingan dengan sawah dan jauh dari rumah tetangga. Tiga minggu yang lalu, tepatnya hari Jumat dini hari tanggal 19 Januari, Iva melahirkan seorang bayi laki-laki yang kemudian dinamakan Noval. Bayi ini lahir satu minggu lebih cepat dari yang diperkirakan dokter. Sementara pada hari kelahiran tersebut, teman saya yang tidak mau disebutkan namanya ini tidak bisa pulang ke Sleman karena aktivitas pendampingan petani yang dilakukannya.
Pada malam Jumat, Iva mengeluh sakit kepala, namun tidak diperhatikan dengan serius. Gejala mules perut muncul tak seberapa. Pada dini hari, sekitar pukul 3 pagi, mules perutnya semakin menjadi. Akhirnya mengejanlah dengan sekuat tenaga. Dan si jabang bayi lahir… Semua proses berlangsung dengan cepat. Tak ada suami, tak ada dokter, tak ada bidan, tak ada sahabat dan kerabat yang menolong dan menyaksikan. Hanya Iva, si kecil Fani dan jabang bayi yang masih merah keluar dari gua garba ibunya. Pagi hari sunyi, hanya tangisan si bayi.
Tak ada sambungan telepon pun mobile phone di rumah, tak bisa meminta pertolongan. Satu-satunya media hanya si kecil Fani. Ketika Iva meminta Fani memanggilkan tetangga, Fani dengan lugu menjawab, “Nanti gimana kalau ketabrak mobil, Bunda?” Akhirnya dengan gunting kertas yang diambilkan Fani dari kamar sebelah, diguntinglah tali pusar di jabang bayi agar terlepas dari tubuh ibunya. Lalu dengan sisa tenaga dan ketabahan jiwa Iva berjalan keluar rumah menyusuri 50 meter jalan menuju arah selatan. Diketok pintu rumah tetangganya, tak ada jawaban. Kembali tertatih-tatih berjalan sekitar 100 meter ke arah utara, diketok pintu rumah tetangga yang lain, kemudian kembali ke rumah. Dan pertolongan pun datanglah. Dunia heboh! Iva melahirkan mandiri!
Aku mengunjunginya di Sleman kemarin. Kutemui Iva, Fani dan Noval. Teman saya yang tidak mau disebutkan namanya sedang bekerja di sawah. Di sore yang hening dan mendung itu, si kecil Noval menangis keras karena pipis. Aku bersuka melihat ibu dan anak sehat. Tak ada kengerian di wajah Iva menceritakan pengalamannya melahirkan. Wajahnya berseri, dunia terlihat riang dan ringan. “Gak papa kok. Takut juga enggak… Lha gimana lagi, wong memang harus begitu…”
Iva, ibu yang tabah, mandiri, dan berani, telah melahirkan dengan perkasa!!!
|  | Ini oleh-oleh ketika berkunjung ke GKJ Purwantoro* beberapa minggu lalu. Saya dan keluarga mengikuti ibadah pengutusan Pdt Yahya Tirta Prewita menjadi Sekum Sinode GKJ. Di pastori GKJ Purwantoro, beberapa dindingnya yang polos dengan warna semen tanpa cat diberi ornamen mural tentang perjalanan Yesus.
Karena kesibukan tuan rumah, aku belum menanyakan siapa pelukisnya, tapi pernah kudengar pelukisnya pun jemaat disitu. Pelukis lokal. Namun gambar-gambar ini reproduksi lukisan para pelukis dari luar. Ada gaya Afrika, gaya India, gaya Bali... Buku "Renungan Harian" cetakan lama sering menggunakan lukisan-lukisan ini untuk cover depan maupun belakang.
* Purwantoro adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Letaknya 50 km dari kota Wonogiri, berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo. |
Karena gak bisa bikin puisi lagi, aku selalu mengulang-ulang puisi lama untuk moment yang pas, terutama puisi ini yang selalu aku ulang di setiap tahun baru. Selamat tahun baru handai taulan... Selamat mengejar impian yang belum tercapai dengan senyum dan air mata... Tetap berharap!!! Tuhan memberkati!!
Buka lembar baru, cerita baru, cinta yang lebih, kerinduan yang dalam, dan kesungguhan hati menghitung hari dengan bijaksana.
Dewasalah seperti padi bertahanlah seperti rumput sukacitalah seperti burung pipit bekerjalah seperti semut.
Menjalani waktu bukan hanya untukmu tapi untuk seisi bumi...
Solo, 31 Desember 2006
(Wakakakak... dodol banget aku ni, tulisannya kek mana, fotonya kek mana... kok gak nyambung... malah kliatan narsis!)
Diantara Dealova-Once, Akhirnya Kutemukan Cinta-Naff, Antara Benci dan Rindu-Ratih Purwasih, Kau Tercipta Bukan Untukku-Betharia Sonatha, lagu-lagu cengeng Trio Maduma, Cinta yang Lain-Chrisye feat Ungu, Berhenti Berharap-Sheila on 7, In My Place - Coldplay, Don't-Jewel, Cold Cold Heart-Norah Jones, dan berbagai lagu rohani yang kunyanyikan dengan gitaran fals, dua lagu dibawah ini termasuk yang sering kuputar.`
Lagu Ruth Sahanaya berakhir dengan mempertanyakan keinginan memiliki itu, sedang lagu RSD lebih menjadi afirmasi diri.
Ah, jadi inget buku To Have and To Be Erich Fromm... Memiliki dan Menjadi... | Ingin Kumiliki | | | | Ruth Sahanaya | | | RSD - 05 tak perlu memiliki | | | | | |
Tak kubuat tulisan apa, pula bait penuh rasa
Tak kusedia bunga, pula kue dan gula-gula
Karena kuhanya bisa bersimpuh,
Dan akui kehadiranMu
Luruh seluruh amarah dan tanya
Luruh seluruh tubuh dan jiwa
Aku pun hanya bisa
Akui kehadiranMu
di hati
(Selamat merayakan kelahiran Yesus, damai sejahtera bagiku dan bagimu, bagi kita semuanya!)
Aku mengenal pasangan muda dan kisah panjang perjalanan cinta mereka. Sebut namanya Dina dan Doni. Mereka sama-sama masih di awal usia 20-an saat bertemu. Dina adalah seorang perempuan yang manis dari keluarga baik-baik dan kuliah di universitas negeri ternama. Menurut cerita Doni, Dina bahkan memberi les pelajaran di sela waktu kuliahnya, orangtuanya pengusaha, dan benar-benar pilihan yang sempurna. Sementara yang kutahu Doni adalah pemuda kurus, kumel, gondrong, nomaden, hanya lulus SMA, dari keluarga yang agak bermasalah, namun sebenarnya seorang yang sangat pintar dan berbakat di bidang IT-- meski dia tak pernah sekolah untuk itu. Saat itu dia masih hidup dengan pekerjaan serabutan.
Dina dan Doni tinggal di dua tempat yang berjauhan, terpisah gunung dan lautan. Mereka berkenalan lewat internet dan terjalinlah cinta. Ketika cinta semakin menguat, Dina nekat pergi menyeberang lautan dan melakukan perjalanan dua hari dua malam. Dina meninggalkan keluarga, teman-teman, bahkan kuliahnya di kampus negri ternama agar bisa dekat dengan cintanya, Doni.
Awalnya kukira kunjungan Dina hanya sementara, ternyata Dina pun memutuskan tinggal bersama keluarga Doni, di rumah petak sempit berimpit. Hidup dilalui diantara konflik keluarga, kondisi yang minim secara material, ketiadaan pekerjaan dan aktivitas yang menyibukkan. Sejalan waktu, akhirnya Dina melakukan segala kerja yang bisa; operator wartel, kerja di restorant, dan terakhir sebagai operator warnet.
And life goes on... Dina tak lagi berpikir untuk kembali kepada keluarga. Hingga akhirnya mereka memutuskan tinggal di sebuah kamar kos. Mandiri dengan materi yang seadanya dan cinta yang membuncah. Saya dan banyak teman lain pernah menasehati mereka untuk segera menikah, bahkan kami akan bergotong-royong menanggung kebutuhan yang ada. Mereka mengiyakan. Namun agaknya masih banyak hal yang mereka pertimbangkan untuk melangkah ke jenjang tersebut.
Hidup bersama tak jarang memunculkan konflik cinta diantara mereka. Pernah kutemui Dina curhat tentang perempuan lain yang selalu menghubungi Doni, juga tentang kesulitan-kesulitan hidup. Keluhan juga muncul dari Doni, tentang hubungan Dina dengan laki-laki lain, dlsb. Cinta tak berjalan semulus bayangan. Namun cinta membuat mereka terus memperbaharui komitmen dan mengejar impian bersama, perkawinan.
Sebagai sesama perempuan, aku kagum dengan keberaniannya meninggalkan milik dan kesempatan yang sudah dia punya untuk menempuh ketidakpastian hidup dengan Doni. Sebagai sesama perempuan, aku berempathy pula dengan posisinya yang sulit dan lemah. Bahkan aku sering membayangkan, bagaimana jika Dina hamil dan mereka tidak/belum menikah, jika Doni mengingkari janji, jika Doni melakukan kekerasan. Bukankah semuanya mungkin? Bukankah hidup penuh ketidakpastian? Bagaimana pula hubungannya dengan keluarga di kampung halaman? Apakah mereka masih bisa menerima Dina yang pergi begitu saja? Apa pandangan masyarakat jika hal yang terburuk terjadi? Toh Dina hanyalah seorang perempuan, jauh dari keluarga dan akar komunitasnya. Masyarakat mungkin akan menganggap rendah dia karena pilihan hidup bersama sebelum menikah yang dilakukannya saat ini.
Doni yang talented setahun terakhir ini bekerja di Jakarta mencari uang untuk biaya pernikahan mereka. Ilmu dan ketrampilannya melebihi sarjana, namun dunia kerja tak cukup adil menghargai itu. Hanya pendidikan terakhir yang dilihat sebagai dasar salary yang diterima. pernah aku pertanyakan keputusannya kerja di Jakarta dengan gaji sekecil itu. Namun dia mengharapkan sabetan yang cukup banyak disana.
Saat ini sudah hampir empat tahun mereka hidup bersama. Sebuah pernikahan adat yang megah di kampung halaman Dina tetaplah sebuah impian, meski untuk itu mereka harus mengumpulkan banyak uang, hidup berpisah diliputi segala ketidakpastian dan prihatin.
Perjalanan masih panjang... namun aku selalu kagum melihat cinta diantara mereka. Keteguhan hati Dina untuk seorang Doni, keiklasannya meninggalkan ego, meninggalkan ego, kesabarannya, kekuatannya menanggung segala masalah, dan mimpi yang selalu dibangun bersama.
Dengan cinta yang kalian miliki, semoga bahagia hidup kalian, tapi segeralah menikah!!! Hehehe...
Hanya ingin mengutip syair seorang sufis, Rabi'ah Al-Adawiyah. Firda memberikan padaku saat kami berbincang malam itu.
Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta Hatinya menggelepar manahan dahaga rindu Cinta digenggam walau apa yang terjadi Kalau terputus, ia sambung seperti mula Lika-liku cinta, terkdang bertemu surga Menikmati pertemuan indah dan abadi Tapi tak jarang bertemu neraka Dalam pertarungan yang tiada berpantai
(No comment, the rest is in your mind!)
Syukur…
kepadamu Tuhan
Kata syukur saja, syukur kepadaMu
Dalam hidupku, waktu berlalu
Nyata tanganMu di dalamku
Syukur…
slalu kata syukur
Pabila terucap yang Tuhan kerjakan
Dia beserta, kutakut apa
Allahku sempurna jalanNya
Sampai kini kudapat, teruslah kasihnya
Kuyakin hingga nanti tetap selamanya
Dan syukur setiap kali, kumenyambut hari
Kutahu Tuhanku beserta…
(Syair sebuah lagu, ditulis oleh Pdt. Yahya Tirta Prewita, si Pemulung Cerita)
Jujur saya speechless menulis hari ini. Begitu banyak yang ingin kuucap, begitu indah yang ingin digambar, dan begitu suka cita rasa dalam dada. Begitu juga syukur, haru dan damba. Semua campur aduk jadi satu.
Banyak kejutan di hari ulang tahun saya kemarin. Ucapan dan doa yang mengalir sejak dini hari baik melalui email, sms, telephone, dan MP. Bahkan posting mbak Esther di hari sebelumnya, telephone Karl, masnya Mbak Agnes di sore berhujan (Horeeeeee!!! Saya ditelphone!!), kado ultah yang tak disangka (will be posted next), dan berbagai perhatian yang indah dari sahabat dan kerabat. (Klo seperti ini, rasanya saya ingin ulang tahun tiap hari ajah! Hahahaha!!!)
Moment ulangtahun selalu digunakan untuk menelisik hari yang telah lalu, begitu juga saya. Melihat setahun berselang, banyak hal yang membuat saya merasa tak berdaya, namun justru disitu banyak berkat tercurah. Satu kata yang mampu terucap, hanya SYUKUR...
Serta TERIMAKASIH, untuk seluruh sahabat dan kerabat yang perhatian dan kasihnya telah menemani saya, yang doa dan dukungannya mendampingi saya menapaki hari dengan penuh warna. (Hiks... jadi terharuh lagi). Hanya kupersembahkan kue untuk sahabat dan kerabat dalam hari syukur ini. Terima kasih... :)
Keterangan foto: Simply Black Forest (atas) dan Cake Ketan Ireng (bawah), specially made for all friends and relatives in my birthday.
| |