Haley's posts with tag: feeling blue

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag feeling blue
Blog EntrySenja ItuJul 22, '07 11:44 PM
for everyone
Kemarilah,
biar kunikmati
m e n i t  i n i  disampingmu
Jangan beranjak,
karena 
h a t i k u  kan terbawa olehmu

Temani aku di beranda,
menikmati ladang padi, burung pipit dan senja sore hari

Karna  a k h i r  mulai dekat,
biar kukecap indah,
sebelum bulan menjemputku
menuju padang gersang kesunyian


Senja di Omah Sunyi, 22 July 2007

MusicCinta SejatiJul 10, '07 7:22 AM
for everyone
Ini lagu cengeng-nya Ari Lasso yang sanggup membuatku sangat mellow hari ini :p

Cinta Sejati

Aku jatuh cinta padamu, sejak pertama kita bertemu
Dia menghuni relung hati, kau tak pernah peduli

Tuhan mengapa Kau anugrahkan, cinta yang tak mungkin tuk bersatu
Kau yang tlah lama kucintai, ada yang memiliki

Cinta sejati, tak akan pernah mati
Slalu menghiasi ketulusan cinta ini

Jalan hidup tlah membuat kita, harus senantiasa bersama
Lewati sgala suka duka, tiada cinta bicara

Cinta sejati, tak akan pernah mati
Slalu menghiasi ketulusan cinta ini

Cinta sejati, tak akan pernah mati
Slalu menghiasi ketulusan cinta ini
Oooh...
Dan kau selalu, hanya diam membisu
Meskipun kau tahu, betapa dalam cintaku
Oooh... yea...

Aku jatuh cinta padamu...

05. Cinta Sejati   

Blog EntryFormat Compose Blog Multiplyku Kenapaaa???May 31, '07 12:43 AM
for everyone
Duuuuhh... rasanya pengen nangis deh. Hari ini pas mo posting tentang coklat, aku kaget karena format compose blog multiplyku berubah dari "HTML format" yang biasanya kupkai menjadi "text only format" secara tiba-tiba. Huwaaaa.... Klo text only format kek gini, aku kan gak bisa edit font, gak bisa insert gambar... duuuhhh... jadi gak cantik dong tampilannyaaa.... Jadi males nulis.... Hiks... Padal selama ini aku dah bener2 terpuaskan oleh MP, featurenya oke dan user friendly. Tapi klo gini? Jadi bikin repot, musti pake code2 html... mana gak tahu lagi... :( Musti gimana niii???

Blog EntryThe Last Mile to HuescaDec 31, '06 4:03 AM
for everyone

Ini salah satu puisi yang aku hafal sejak aku pertama mengenalnya belasan tahun silam. Pada saat-saat tertentu, memory ini muncul dan menjadi nyata. The Last Mile to Huesca, ditulis oleh John Conford, 1939 dengan setting perang sipil di Spanyol.

The Last Mile to Huesca

Heart of the heartless world,
Dear heart, the thought of you
Is the pain at my side,
The shadow that chills my view.

The wind rises in the evening,
Reminds that autumnis near.
I am afraid to lose you,
I am afraid of my fear.

On the last mile to Huesca,
The last fence for our pride,
Think so kindly, dear, that I
Sense you at my side.

And if bad luck should lay my strength
Into the shallow grave,
Remember all the good you can;
Don't forget my love.

Dan kutipan versi Bahasa Indonesia yang sering kutulis adalah, ...jika untung malang menghempaskan daku dalam kuburan dangkal, kenanglah daku sebisamu, segala yang baik dan cintaku yang kekal...


Musicto have and to beDec 28, '06 12:45 PM
for everyone
Diantara Dealova-Once, Akhirnya Kutemukan Cinta-Naff, Antara Benci dan Rindu-Ratih Purwasih, Kau Tercipta Bukan Untukku-Betharia Sonatha, lagu-lagu cengeng Trio Maduma, Cinta yang Lain-Chrisye feat Ungu, Berhenti Berharap-Sheila on 7, In My Place - Coldplay, Don't-Jewel, Cold Cold Heart-Norah Jones, dan berbagai lagu rohani yang kunyanyikan dengan gitaran fals, dua lagu dibawah ini termasuk yang sering kuputar.`

Lagu Ruth Sahanaya berakhir dengan mempertanyakan keinginan memiliki itu, sedang lagu RSD lebih menjadi afirmasi diri.

Ah, jadi inget buku To Have and To Be Erich Fromm... Memiliki dan Menjadi...
Ingin Kumiliki  Ruth Sahanaya 
RSD - 05 tak perlu memiliki   

Blog EntryBersumber Dari HatiNov 14, '06 3:08 AM
for everyone

Duduk di bus yang membawaku dari Maguwo ke Solo, aku merenung diam-diam. Tak terlalu menghiraukan pengamen, penumpang lain, ataupun teman dudukku. Dengan diam pula, aku menyesali kejadian pagi ini, yang kemudian membawaku dalam refleksi.

****

Sudah hampir 3 tahun, aku tak menginjakkan kaki di Jakarta, kecuali hanya beberapa kali transit di bandara untuk tujuan berikutnya, tapi tidak masuk ke kota. Ada keengganan untuk masuk kembali ke Jakarta. Luasnya, ruwetnya, panasnya, macetnya, dan lukanya... Ah, tak perlu pula dibahas luka itu.

 

Setiap teman yg mengajak main ke Jakarta, aku jawab "Ya deh, nanti kapan-kapan.". Teman yang membujuk supaya aku pindah kerja di Jakarta, aku jawab dengan canda. Bahkan penugasan ke Jakarta pun, sebisa mungkin aku beralasan supaya bukan aku yang berangkat (Sorry Boss!!).

 

Tapi tak selamanya aku akan memusuhi Jakarta. Undangan 2 hari training dari ADB aku pikir moment yang tepat untuk "berdamai dengan Jakarta". Kurasa training ini cukup penting untuk kegiatan advokasi kami. Tak ada alasan untuk tidak berangkat.

Oleh karena itu kupersiapkan segalanya untuk hadir dalam training itu. Aku hitung budget. Mepet. Tapi tak apa, nginep sehari aja, daripada membayar mahal hotel hanya untuk tidur semalam. Berangkat pagi-pagi dengan penerbangan pertama, langsung ikut acara. Besok malamnya, pulang naek kereta.

 

Semuanya sudah diatur sebaik mungkin. Penerbangan terpagi kuambil agar sampai tepat waktu, aku ambil yang dari Yogya, Adam Air 06.30 WIB. Tiket sudah di tangan, termasuk tiket kereta untuk pulang. Hotel sudah dibooking, Hotel Cemara di Menteng. Malam sebelum berangkat, segala perlengkapan sudah disiapkan, segala hal yang harus diurus sebalum berangkat, diselesaikan malam itu. Termasuk mengirimkan message ucapan ultah untuk Romo Nico supaya tak terlewat.

 

Tapi aku lupa memasang weker. Pagi tadi. Aku terhenyak bangun dari tidurku. Hari sudah terang. Pukul 05.30. Jam segini seharusnya aku sudah sampai di Adi Sumarmo (Ralat: Adi Sucipto), atau paling tidak dalam perjalanan ke sana. Aku panik. Kutelpon Puitri, minta nomor telepon rumah PakDE. Aku telpon PakDE menyampaikan kepanikanku. Akhirnya solusinya ambil penerbangan kedua. Di koran kubaca pukul 08.00. Masih bisa terkejar. Aku segera bersiap. Pukul 06.00 aku meninggalkan rumah, naik angkot. Baru 20 meter angkot berjalan, aku teringat charger HP yang ketinggalan, sementara baterei HP sudah menipis. Sigh... kenapa jadi tergantung teknologi ini!!!  Kuberbalik, naik bus ke arah rumah, setengah berlari kuambil charger dan berbalik lagi ke jalan raya. Naik angkot lagi ke halte Kerten, sambung bus Solo-Yogya.

 

Aku merasa tenang begitu duduk di bus Solo-Yogya. Bus pun berjalan dengan cukup cepat, sehingga aku yakin akan sampai di bandara paling lambat pukul 07.30. Kubayangkan, nanti turun di persimpangan, jalan 5 menit dari persimpangan ke entrance bandara. Ah, aku tak kan terlambat lagi!!

 

Bus melaju. Setelah Klaten bus mengurangi kecepatan. Aku mulai kawatir. Menjelang Maguwo (Bandara Adi Sumarmo), aku melihat sebuah pesawat take off, aku lihat ada warna orange di sayapnya. Bukankah itu Adam Air? Kok sudah berangkat? Ah, mungkin penerbangan untuk tujuan lain. Aku coba menenangkan diri.

 

Bus berhenti di pertigaan lampu merah. Pukul 07.45 WIB. Sigh! Begitu bus berhenti aku setengah berlari menuju entrance. Masuk. Meja counter check in dipasangi tanda "closed", tapi masih ada beberapa petugas disana.

"Mbak, saya mau check ini flight kedua, saya ketinggalan flight pertama. Masih ada seat mbak?" “Waaa... Sudah take off mbak.”

“HAH?! Bukannya jam delapan? Saya lihat di koran jam delapan.”

“Enggak mbak, jam tujuh empat puluh.”

“Hah….” Tanpa banyak penjelasan, mbak yang bertugas memintaku untuk kembali ke reservation di pintu depan untuk mendapatkan flight berikutnya.

 

Aku mengikuti sarannya. Tapi flight berikutnya baru ada pukul 11.30, dengan demikian aku baru bisa sampai di kota pukul 14.00. Sudah terlalu banyak materi yang hilang ketika itu. Dan tinggal satu materi saja, yaitu refleksi, sementara besok materinya lebih banyak simulasi. Akhirnya dengan lemas aku memutuskan untuk membatalkan keberangkatanku. Sedih, menyesal, juga malu. Kukirim sms pada beberapa orang yang berkepentingan.

 

Aku duduk di entrance sampai merenung. Semuanya sudah terjadi. Lalu berjalan menuju halte, kembali ke Solo dengan bus yang lewat di situ. Merenung sepanjang perjalanan pulang.

 

Sepraktis apapun aku mempersiapkan. Sesadar apapun akan pentingnya training ini. Meski aku begitu meyakini bahwa training ini bermanfaat. Dan aku harus berangkat. Namun, sepertinya aku tidak mempersiapkan hati dengan baik. Klo jujur, sebenarnya rasa enggan datang ke Jakarta masih tinggal di dada. Bayangan tempat-tempat yang menyimpan potongan cerita masih menghantui aku. Bayangan bentuk Jakarta yang luas, ruwet dan macet mempengaruhi aku. Aku rasa, secara tak sadar, ini mempengaruhiku dalam menyiapkan keberangkatan ini. Kenapa lupa pasang wekerrrrrrrrrrrrr??? Selama weker berbunyi, bukankah aku tak pernah lalai kalau memang harus bangun pagi?

 

Semuanya bersumber dari hati. Hati yang tulus dan jernih menghasilkan kebaikan. Hati yang luka dan menyimpan dendam menghasilkan kepedihan. Niat yang tulus tapi masih menyimpan luka? Menghasilkan penyesalan…

 

Aku menyesal tak bisa berangkat pagi ini. Aku menyesal dan minta maaf pada PakDE yang menugaskanku, pada puitri yang telah sibuk mencarikan tiket, pada Mbak Etty yang telah membantu mencarikan hotel, pada Mbak Ine, juga pada Ihans gak bisa saling bercerita. Tapi terlebih lagi pada teman-teman semua dalam jaringan IPA karena blum mampu memberikan info terbaru untuk aktivitas advokasi kita.

 

Aku menyesal… saatnya berdamai dengan luka Jakarta


MusicKaton Bagaskara - Ruang HampaNov 6, '06 11:05 AM
for everyone
blue... blue... blue... blue....
*sigh*
Ruang Hampa Gemini Katon Bagaskara 

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help