Duduk di bus yang membawaku dari Maguwo ke Solo, aku merenung diam-diam. Tak terlalu menghiraukan pengamen, penumpang lain, ataupun teman dudukku. Dengan diam pula, aku menyesali kejadian pagi ini, yang kemudian membawaku dalam refleksi.
****
Sudah hampir 3 tahun, aku tak menginjakkan kaki di Jakarta, kecuali hanya beberapa kali transit di bandara untuk tujuan berikutnya, tapi tidak masuk ke kota. Ada keengganan untuk masuk kembali ke Jakarta. Luasnya, ruwetnya, panasnya, macetnya, dan lukanya... Ah, tak perlu pula dibahas luka itu.
Setiap teman yg mengajak main ke Jakarta, aku jawab "Ya deh, nanti kapan-kapan.". Teman yang membujuk supaya aku pindah kerja di Jakarta, aku jawab dengan canda. Bahkan penugasan ke Jakarta pun, sebisa mungkin aku beralasan supaya bukan aku yang berangkat (Sorry Boss!!).
Tapi tak selamanya aku akan memusuhi Jakarta. Undangan 2 hari training dari ADB aku pikir moment yang tepat untuk "berdamai dengan Jakarta". Kurasa training ini cukup penting untuk kegiatan advokasi kami. Tak ada alasan untuk tidak berangkat.
Oleh karena itu kupersiapkan segalanya untuk hadir dalam training itu. Aku hitung budget. Mepet. Tapi tak apa, nginep sehari aja, daripada membayar mahal hotel hanya untuk tidur semalam. Berangkat pagi-pagi dengan penerbangan pertama, langsung ikut acara. Besok malamnya, pulang naek kereta.
Semuanya sudah diatur sebaik mungkin. Penerbangan terpagi kuambil agar sampai tepat waktu, aku ambil yang dari Yogya, Adam Air 06.30 WIB. Tiket sudah di tangan, termasuk tiket kereta untuk pulang. Hotel sudah dibooking, Hotel Cemara di Menteng. Malam sebelum berangkat, segala perlengkapan sudah disiapkan, segala hal yang harus diurus sebalum berangkat, diselesaikan malam itu. Termasuk mengirimkan message ucapan ultah untuk Romo Nico supaya tak terlewat.
Tapi aku lupa memasang weker. Pagi tadi. Aku terhenyak bangun dari tidurku. Hari sudah terang. Pukul 05.30. Jam segini seharusnya aku sudah sampai di Adi Sumarmo (Ralat: Adi Sucipto), atau paling tidak dalam perjalanan ke sana. Aku panik. Kutelpon Puitri, minta nomor telepon rumah PakDE. Aku telpon PakDE menyampaikan kepanikanku. Akhirnya solusinya ambil penerbangan kedua. Di koran kubaca pukul 08.00. Masih bisa terkejar. Aku segera bersiap. Pukul 06.00 aku meninggalkan rumah, naik angkot. Baru 20 meter angkot berjalan, aku teringat charger HP yang ketinggalan, sementara baterei HP sudah menipis. Sigh... kenapa jadi tergantung teknologi ini!!! Kuberbalik, naik bus ke arah rumah, setengah berlari kuambil charger dan berbalik lagi ke jalan raya. Naik angkot lagi ke halte Kerten, sambung bus Solo-Yogya.
Aku merasa tenang begitu duduk di bus Solo-Yogya. Bus pun berjalan dengan cukup cepat, sehingga aku yakin akan sampai di bandara paling lambat pukul 07.30. Kubayangkan, nanti turun di persimpangan, jalan 5 menit dari persimpangan ke entrance bandara. Ah, aku tak kan terlambat lagi!!
Bus melaju. Setelah Klaten bus mengurangi kecepatan. Aku mulai kawatir. Menjelang Maguwo (Bandara Adi Sumarmo), aku melihat sebuah pesawat take off, aku lihat ada warna orange di sayapnya. Bukankah itu Adam Air? Kok sudah berangkat? Ah, mungkin penerbangan untuk tujuan lain. Aku coba menenangkan diri.
Bus berhenti di pertigaan lampu merah. Pukul 07.45 WIB. Sigh! Begitu bus berhenti aku setengah berlari menuju entrance. Masuk. Meja counter check in dipasangi tanda "closed", tapi masih ada beberapa petugas disana.
"Mbak, saya mau check ini flight kedua, saya ketinggalan flight pertama. Masih ada seat mbak?" “Waaa... Sudah take off mbak.”
“HAH?! Bukannya jam delapan? Saya lihat di koran jam delapan.”
“Enggak mbak, jam tujuh empat puluh.”
“Hah….” Tanpa banyak penjelasan, mbak yang bertugas memintaku untuk kembali ke reservation di pintu depan untuk mendapatkan flight berikutnya.
Aku mengikuti sarannya. Tapi flight berikutnya baru ada pukul 11.30, dengan demikian aku baru bisa sampai di kota pukul 14.00. Sudah terlalu banyak materi yang hilang ketika itu. Dan tinggal satu materi saja, yaitu refleksi, sementara besok materinya lebih banyak simulasi. Akhirnya dengan lemas aku memutuskan untuk membatalkan keberangkatanku. Sedih, menyesal, juga malu. Kukirim sms pada beberapa orang yang berkepentingan.
Aku duduk di entrance sampai merenung. Semuanya sudah terjadi. Lalu berjalan menuju halte, kembali ke Solo dengan bus yang lewat di situ. Merenung sepanjang perjalanan pulang.
Sepraktis apapun aku mempersiapkan. Sesadar apapun akan pentingnya training ini. Meski aku begitu meyakini bahwa training ini bermanfaat. Dan aku harus berangkat. Namun, sepertinya aku tidak mempersiapkan hati dengan baik. Klo jujur, sebenarnya rasa enggan datang ke Jakarta masih tinggal di dada. Bayangan tempat-tempat yang menyimpan potongan cerita masih menghantui aku. Bayangan bentuk Jakarta yang luas, ruwet dan macet mempengaruhi aku. Aku rasa, secara tak sadar, ini mempengaruhiku dalam menyiapkan keberangkatan ini. Kenapa lupa pasang wekerrrrrrrrrrrrr??? Selama weker berbunyi, bukankah aku tak pernah lalai kalau memang harus bangun pagi?
Semuanya bersumber dari hati. Hati yang tulus dan jernih menghasilkan kebaikan. Hati yang luka dan menyimpan dendam menghasilkan kepedihan. Niat yang tulus tapi masih menyimpan luka? Menghasilkan penyesalan…
Aku menyesal tak bisa berangkat pagi ini. Aku menyesal dan minta maaf pada PakDE yang menugaskanku, pada puitri yang telah sibuk mencarikan tiket, pada Mbak Etty yang telah membantu mencarikan hotel, pada Mbak Ine, juga pada Ihans gak bisa saling bercerita. Tapi terlebih lagi pada teman-teman semua dalam jaringan IPA karena blum mampu memberikan info terbaru untuk aktivitas advokasi kita.
Aku menyesal… saatnya berdamai dengan luka Jakarta…