 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Desa Kebumen, Banyubiru, Kab. Semarang |
Opor Bebek ini salah satu makanan dari masa lalu. Ketika masih kuliah di Salatiga dan sering kluyuran ke desa-desa, tempat ini menjadi salah satu tujuan mampir makan. Letaknya di Desa Kebumen, dekat dengan pemandian Muncul, sebuah desa di jalur alternative Salatiga – Muncul – Banyubiru – Ambarawa.
Yang kuingat tentang opor bebek ini adalah sebuah rumah kayu di pinggir jalan dengan kesahajaan sebuah warung makan rumahan. Begitu memasuki rumah tersebut, kita akan dihadapkan dengan sebuah meja makan besar dari kayu dimana satu wakul nasi tersedia disitu. Kalau kita memesan opor bebek, ibu pemilik warung akan membawakan opor bebek dalam piring makan yang diambil langsung dari pawon, lalu kita bisa mengambil sendiri nasinya dari wakul tersebut. Di meja tersebut sudah tersedia pula sambel trasi yang nyamleng sebagai teman makan opor. Opornya empuk, lembut di lidah, tidak berbau amis daging bebek, dan rasa gurihnya pas.
Namun bayangan itu sudah sirna ketika kemarin aku mengunjunginya kembali. Rumah kayu itu sudah berubah menjadi rumah tembok. Begitu masuk terdapat 2 ruangan berisi beberapa meja dan kursi seperti layaknya warung makan. Kita bisa mengambil tempat dimana suka. Nasi wakul pun sudah digantikan oleh magic jar. Yang menarik adalah terdapat sebuah wastafel di pojok salah satu ruangan. Kesederhanaan warung makan desa masih nampak. Namun kehangatan warung tempoe doeloe sudah tak aku temui lagi.
Kami memesan satu porsi opor bebek dan satu porsi bebek goreng. Segera disajikan bersama satu mangkok lalapan ketimun dan kemangi serta satu piring kecil sambel trasi. Terlihat menggoda. Opor bebeknya disiram sedikit kuah santannya yang kental berminyak dan bebek gorengnya terlihat masih liat. Nasi ambil sendiri di magic jar. Kalau menghendaki lalapan pete kukus pun tersedia di dekat nasi.
Dengan antusiasme kerinduan masa lalu, kami segera santap pesanan kami. Namun apa daya… romantisme masa lalu telah tinggal kenangan. Yang kami dapatkan ialah opor bebek dan bebek goreng yang liat, alot. Bahkan perlu usaha khusus untuk mencowel dagingnya. Jari kita tak mampu. Musti memakai gigi untuk memotongnya. Sigh… Segala kelembutan opor bebek yang tadinya kuangankan tinggal menjadi kenangan, karena aku harus bergulat dengan daging yang liat. Meski gurihnya masih terasa, namun sudah tidak istimewa lagi karena bumbunya pun belum cukup merasuk hingga ke dalam. Teman saya yang memesan bebek goreng mengalami hal yang sama. Dagingnya masih agak liat, meski bebek goreng ini terasa beda dibanding bebek goreng Pak Slamet di Solo, misalnya.
Sayang sekali. Romantisme kuliner saya harus berakhir disini. Setelah selesai makan, segera kami meninggalkan warung karena hari sudah semakin sore dan kami harus pulang ke Solo. Aku lupa berapa yang kubayar, tapi tak lebih dari Rp. 20.000,- untuk satu porsi opor bebek, satu porsi bebek goreng, 2 piring nasi putih dan 2 gelas es the. Ketika membayar harga yang kami makan, kami sempat ditanyai, “Mboten mbungkus?” (Tidak membungkus?) Aku jawab, “Enggak buk, bebeknya alot.” Ibu penjual menjawab dengan santai, “Memang mboten diempukne, mangke ndak remuk.” (Memang gak dibikin empuk, supaya tidak remuk.) Waaaa……… 
 | eh bebek goreng neng kartosuro yo mantep lo Ley, langgananku depan bekas kraton dulu |
 | Klo di Kartosuro pelopornya kan Pak Slamet Liii... Sekarang dah banyak banget warungnya selain Pak Slamet, tapi aku masih selalu ke Pak Slamet klo nyari bebek goreng. Buka cabang juga di jalan Bayangkara, Solo, jadi lebih deket kesitu. |
 | si Ibu ngeles nihh hihihi.... |
 | yu.. kamu angkatan piro di UKSW?
kangen makan bebek yu.. :p~ ilerku langsung ndledek... duuh... lap lap... |
 | lain kali kalau mampir lagi,selalu bawa piso yg tajam sekali spesial utk BBQ tuh yg spt gergaji,tapi yg kecil....tapi yah kalau sudah alot sih,dipotong tetap tak bisa dikunyah enak.Sayang uang. |
 | jadi pegel dong kunyahnya klo alot |
 | mesti dikenalin ama pressure cooker tuhh bioar gak alot :D |
| |