Event budaya yang bersifat lokal/tradisional sebenarnya sering diselenggarakan di kota Solo. Mulai dari pentas musik, tari, handicraft, ataupun kirab kraton. Namun event budaya seperti itu seringkali hanya diminati dan dihadiri oleh sekelompok kecil orang, entah itu para penggiat dan handai taulan, ataupun sekelompok orang yang memang mempunyai preferensi khusus di bidang itu. Alasan lain, bisa pula karena publikasi yang kurang luas. Hal tersebut yang kemudian memunculkan kesan bahwa pentas budaya lokal itu eksklusif, hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja.
Namun disisi lain, even budaya, khususnya musik etnik, juga terkesan marjinal. Kalah dengan pentas musik populer, jarang dibahas, jarang dipertunjukkan di berbagai media audio visual, dan terkesan ndeso serta kampungan.
Namun kali ini berbeda. Kesan eksklusif dan marjinal menjadi bubar sama sekali dalam penyelenggaraan
Solo International Ethnic Music Festival. Pagelaran besar yang diselenggarakan di Benteng Vastenburg tanggal 1 - 5 September 2007, menghadirkan kelompok musik ethnic nusantara dan berbagai negara dunia.
Benteng VastenburgPemilihan Benteng Vastenburg adalah sebuah pemilihan yang spektakuler. Pemilihan ini mengingatkan banyak orang Solo bahwa Solo mempunyai sebuah cagar budaya yang perlu dijaga dan dieksploitasi. Selama ini benteng dalam kondisi tak terawat dan tertutup dengan pagar seng. Anehnya, ternyata benteng yang dibuat oleh Baron Van Imhoff pada tahun 1745 ini bukan lagi milik pemerintah kota, tapi milik seorang tajir bernama Robby Sumampow... (siapa ya penjahatnya?). Dalam kisah perjalanan kota Solo, benteng ini pernah hampir musnah karena maraknya rencana pembangunan mall di kota Solo. Namun berbagai protes membuat benteng ini akhirnya bertahan
(Sampai kapan? Mari berdoa, semoga untuk selamanya... Sigh!) Dengan menara pengintai benteng sebagai background panggung, dan dukungan tata cahaya yang etnik dramatik, kemegahan pentas ini tertampil keluar.
Stand PenggembiraSelain panggung musik di tengah benteng, di luar benteng didirikan berbagai stand yang menjual cinderamata khas, alat musik etnik, makanan khas (termasuk gerobak hik-hik), hingga stand massage dan tekstil. Diantara stand tersebut disediakan kursi-kursi dan tenda tempat dimana pengunjung bisa duduk menikmati makanan dan minuman yang dibeli. Suasana yang tercipta seperti pasar malam. Jumlah stand yang tidak terlalu banyak dengan variasi komoditas yang cukup membuat stand ini mampu menempatkan diri hanya sebagai pelengkap pagelaran.
Di tengah-tengah stand, terdapat sebuah panggung kecil untuk sebuah grup musik bisa mengamen menghibur pengunjung. Namun pertunjukkan dadakan di sebuah stand perkusi tak kalah menariknya. Pada malam kedua kemarin, seorang pengunjung bule dengan petikan gitar akustik berbaur dengan pemusik perkusi disana melakukan kolaborasi musik dadakan yang enak dinikmati.
Di dalam benteng sendiri, begitu memasuki gerbang, di kanan kiri kita disambut dengan beberapa foto bertema musik etnik yang dicetak dalam ukuran poster, didisplay dalam rangka bambu. Foto yang ditampilkan oleh Himpunan Senifoto Bengawan ini dipamerkan untuk dijual.
Selain itu free hotspot juga bisa diakses di lokasi ini. Lumayan... modal laptop dan Rp 2000,- untuk segelas es teh (atau bawa air dari rumah), kita bisa browsing sepuasnya sembari menunggu pertunjukkan. Hahahaha...
Pengunjung yang bervariasiTidak seperti halnya musik populer yang telah mempunyai segmentasi penonton tersendiri, pagelaran ini ternyata mampu menyedot penonton dari berbagai kelompok sosial serta beragam usia. Diantara penonton hadir pula anak-anak dengan orangtuanya, remaja, dewasa, hingga simbah-simbah. Dari golongan yang berpenampilan priyayi hingga gembel, dari yang belum tersentuh mode hingga yang funky.
Selama dua malam kemarin event ini mampu menyedot ribuan masyarakat untuk hadir menikmati pertunjukkan dan stand yang ada. Banyak penonton yang duduk manis di kursi yang disediakan, tapi banyak pula yang berdiri berjejal, dan tak sedikit yang merangsek ke depan panggung, lesehan diantara debu. Penonton begitu antusias melihat berbagai atraksi musik yang disajikan. Yang bukan orang Jawa mampu menikmati grand gamelan dari ISI, yang bukan orang Papua pun sangat menikmati jams session kolaborasi musik Papua, Kalimantan dan Aceh. Banyak penonton yang tak beranjak sejak pertunjukan dimulai pukul 20.00 hingga selesai pukul 23.00. Luar biasa!!!
Tentunya ini didukung dengan publikasi yang tak sedikit. Selain melalui poster yang dipajang di berbagai sudut kota, publikasi di berbagai media audiovisual dan cyber webm, panitya dikabarkan juga berkeliling ke berbagai sekolah dan public space lainnya untuk mewartakan acara ini.
Tiket masuk gratis yang bisa diperoleh di banyak tempat juga yang mendukung pagelaran ini menjadi tontonan yang dikunjungi banyak orang.
Energi yang besarMeski ada beberapa gangguan kecil, misalnya lampu di stand penggembira terkadang mati, jadwal acara yang tak mudah diakses di tenda sekretariat (Ketika kertas jadwal habis, dan penonton diminta berdesakan melihat dan mencatat jadwal yang ada di selembar kertas kecil yang ditempel di meja panitya. Aneh...), namun secara umum event ini luar biasa. Komunitas Seni kota Solo dan Pemerintah Kota sebagai penggagas acara patut bangga dengan pelaksanaan event ini.
Telah terbukti, musik etnik ternyata membawa energi yang cukup besar bagi seluruh masyarakat, segala lapisan dan golongan. Tidak eksklusif dan tak pula marjinal. Semua bergembira dan menikmatinya!
Kapan (ada) lagi ya?