Pagi ini saat buka MP, aku menerima SMS yang pesannya terputus dari seorang ibu. SMS tersebut bunyinya sebagai berikut, kutulis sesuai teks asli dengan penjelasan dariku:
"*text_sms_linked_header* (menunjukkan ada kalimat yang terputus) 22 org tmn skolah Gsta (Gusta - nama anak ibu pengirim sms, kelas 3 SD) kmarin nengok ke rmah. Mrk pd pegang2 bk P.yhy (Pak Yahya - nama suami ibu tersebut) yg da d rak2.Meluap rsa bhgia lhat itu.jg da Smangat tuk jelaskan bku2 tsb. Eit tunggu dulu..apa yg mrk cari?Jwb mrk serempak:"KOMIIKK...!" Kuambil komik Doremon,kudongengkan ttg MERICA SUPER. Mereka pd ketawa ketiwi. "Bsk crta lg ya Bu!" kta mrk dg antusias.OK, smpai jumpa d Taman Bacaan KiRanA (Kita Rajin Membaca)... mimpi ibu 2 anak... Ah..ANDAI AKU BISAAA... mewujudkan "KIRANA" Oh...siapa bisa tolong saya..? I LOVE YOU ALL" Kerinduan sederhana dari seorang Ibu bernama Asrie Lesningati (AL) yang tinggal di sebuah desa di Kecamatan Purwantoro, 50 km ke arah timur dari ibukota kabupaten Wonogiri, berbatasan dengan Ponorogo. AL hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa dengan 2 anak, Gusta dan Emma (berumur 5 th) dengan mimpi mencerdaskan anak-anak di desanya.
Membaca sms ini saya mengingat masa kecil saya. Mungkin orangtuaku tak punya cukup uang untuk membelikan berbagai bacaan anak-anak
(ketika aku kecil bacaan yang tersedia di rumah ya harian Kompas, mingguan Tempo, atau majalah Hai dan Zaman -- bacaan orang dewasa semuaaa... jadi anak bungsu emang susah, jadi dapet turahan dari yang lebih tua). Maklum orangtua hanya guru, dengan gaji pas-pasan harus membesarkan dan menyekolahkan ke-8 anaknya. Namun bacaan sudah menjadi keseharianku sejak masih belajar mengeja. Aku belajar mengeja dari headline Kompas. Ketika SD aku selalu memanfaatkan perpustakaan sekolah, perpustakaan keliling, pinjam buku teman, ataupun persewaan buku di kampung. Dan kebiasaan ini berlanjut hingga aku kuliah. Bahkan dulu sering ngobok-obok kios buku loak di alun-alun.
Bersyukur aku punya cukup kesempatan membaca. Anak-anak di kota pun punya lebih banyak kesempatan membaca. Tapi bagaimana dengan mereka yang di desa? Lihatlah antusiasme 22 teman Gusta mendengarkan cerita Doraemon. Dan tentu masih banyak lagi di luar mereka yang membutuhkan bacaan.
Adakah yang ingin membantu mewujudkannya?
** Gambar diambil dari Kuilu