Semenjak Gus Dur rajin memakai batik dalam setiap acara kenegaraan, batik menjadi sangat diminati. Kemudian banyak produsen batik yang semula mati suri mulai bangkit lagi. Industri baru pun bermunculan. Lalu batik menjadi sangat mudah didapat dan harganya pun semakin beragam, mulai dari yang puluhan ribu hingga yang jutaan rupiah.
Namun, sebenarnya, apa yang disebut dengan batik?
Batik berasal dari kata
titik (Bhs Melayu) dan
amba (Bahasa Jawa=menulis) yang artinya menulis/menggambar titik. Namun secara esensial batik adalah proses menahan warna dengan menggunakan
malam (lilin) untuk membentuk motif pada kain. Jika mengacu pada definisi tersebut, muncullah pertanyaan lanjutan. Lalu, bagaimana dengan
"batik" printing? Bagaimana dengan
tie dye,
sasirangan?
"Batik" PrintingSengaja kata batik diberi tanda kutip, karena masih menjadi pertanyaan. "Batik" jenis ini banyak sekali beredar di pasaran. Mulai dari harga Rp 10.000 hingga Rp. 40.000 per meter. Motifnya sangat beragam, bisa puluhan bahkan ratusan jenis, mulai dari motif batik tradisional Solo, Yogya, Pesisiran, Dayak hingga kontemporer. Unsur motif batik tercetak dalam kain tersebut, dan warna pun menyesuaikan dengan asal motif diambil. Jika motif tradisional Solo, maka banyak memakai warna hitam dan coklat yang menyerupai warna
soga.
"Batik" ini tidak diproduksi dengan proses
men-canting, cap ataupun
mbironi. Tidak ada penggunaan
malam untuk menahan warna. "Batik" ini dibuat dengan menggunakan mesin printing, maupun sablon manual. Pada pabrik-pabrik besar, proses ini bisa menghasilkan ratusan ball dalam satu kali produksi.
Secara produksi, tidak bisa digolongkan sebagai batik. Namun kain "batik" ini mengadopsi motif dalam batik.
Batik Printing KombinasiBatik printing kombinasi benar-benar merupakan kombinasi proses printing dengan proses canting. Biasanya proses pewarnaan pertama menggunakan printing, namun
proses pewarnaan kedua dan seterusnya serta pembuatan motif yang lebih rumit menggunakan
canting dan
malam. Batik jenis ini sekarang banyak sekali beredar di pasaran. Karena secara harga batik ini lebih rendah dibanding batik tulis halus. Dan ini benar batik adanya :) Motifnya pun beragam, baik motif kontemporer maupun motif tradisional. Kebanyakan pemasar akan menawarkan jenis ini sebagai batik tulis, meski proses penulisannya hanya sebagian kecil saja. Dan banyak orang awam yang tidak cukup bisa membedakan antara batik tulis murni dengan batik kombinasi.
Tie Dye dan SasiranganTie Dye adalah proses pembuatan motif/warna kain dengan cara pencelupan.
Bagian yang tidak dikehendaki oleh warna tertentu akan dijumput, lalu diikat dengan tali rafia/benang serta bantuan jelujur benang. Ikatan ini dibuat berulangkali, sejumput demi sejumput mengikuti ornamen yang dikehendaki. Sehingga pada proses pencelupan pada cairan pewarna, bagian yang tertutup tali rafia akan aman.
Beberapa pengrajin menggabungkan jumputan dengan batik canting, namun mayoritas tie dye memakai sistem jumputan murni. Tak peduli,
tie dye pun sering disebut
batik. Batik jumputan.
Sasirangan sendiri adalah sebutan untuk jumputan khas Banjarmasin.
Jenis Batik Lainnya
Ada proses pembatikan lainnya yang umum dilakukan adalah tulis, cap dan toled. Batik tulis adalah jenis batik yang paling rumit pengerjaannya. Dikerjakan seluruhnya dengan tangan melalui beberapa tahapan proses. Ketekunan, rasa seni, dan kreatifitas pembatik cukup menentukan halus tidaknya hasil akhir. Batik tulis halus bisa berharga jutaan rupiah untuk satu lembar kain saja. Hal ini bisa dimaklumi karena proses pengerjaan yang rumit dan panjang. Untuk menghasilkan satu lembar kain panjang dari bahan katun dengan motif tradisional Solo (sebut saja Sido Mukti) bisa memakan waktu 4 - 6 bulan. Proses tersebut mulai dari menggambar pola,
mutih, nemboki, ngelengi, nglorot, mbironi, nyoga, nglorot lagi, dst.
Batik cap dibuat dengan mencelupkan cap/stempel berpola batik terbuat dari tembaga, pada malam panas, kemudian ditekankan pada kain yang masih putih. Proses ini diulang hingga kain tersebut penuh dengan motif cap. Baru kemudian dilakukan proses pewarnaan pertama dan selanjutnya. Dengan cara ini pembuatan batik bisa lebih cepat.
Batik
toled adalah proses pewarnaan dengan cara men-
toled-kan cairan warna pada kain yang motifnya telah di-
klowong-i
dengan canting dan malam. Pengerjaannya disebut
"noled". Dengan prinsip dasar yang sama, teknik
toled berkembang sangat cepat. Setiap pengrajin selalu berusaha membuat inovasi-inovasi teknik agar menghasilkan produk yang indah dan selalu disukai konsumen.
***
Meski sekarang banyak "batik-batik" yang beredar, namun semua itu tak membuat citra batik yang sebenarnya turun. Bahkan batik menjadi semakin populis.
Batik telah menjadi entity yang menarik untuk dipelajari dan digauli. Keindahannya, kemahakaryaannya, filosofinya, serta
perkembangan sosial-budaya-politis yang muncul sejalan dengan
perkembangannya. Banyak yang bisa dilihat dan dinikmati.
Pesan sponsor:
Ingin tahu lebih banyak tentang batik? Ikuti tulisan selanjutnya
. Ingin mengenal batik secara dekat? Ayo rame-rame ke Kampung Batik Laweyan, Solo. Hihihihi....)