Mungkin ada yang pernah membaca novel Arswendo Atmowiloto yang berjudul Canting. Bercerita tentang juragan batik dengan intrik tradisionalnya. Namun tulisan ini bukan review novel Canting, melainkan benar-benar hendak menulis tentang CANTING.
Ibarat perang, canting adalah senjata untuk masuk dalam dan memenangkan peperangan. Ibarat orang mau jualan, canting adalah laptop tempat menyimpan dan menampilkan seluruh file presentasinya. Canting adalah alat utama pembatik untuk menyelesaikan karya terbaiknya. Dengan canting pula, sambil menunggu masa panen, ibu-ibu di daerah Bayat mencari uang untuk keluarganya.
Canting dibuat dari lempengan tembaga tipis yang dibentuk menyerupai mangkok berdiameter kurang lebih 2 cm. Di bagian bawah pinggir, terdapat pipa bengkok dengan berbagai ukuran. Mangkok itulah tempat menampung
malam cair dan pipa tersebut tempat mengalirnya malam ke
mori (kain putih) yang akan dibatik.
Malam sendiri adalah sejenis lilin yang digunakan untuk membuat pola batik dan menutup
mori dari warna yang tidak dikehendaki pada proses pewarnaan batik.
Bentuk dan diameter lubang pipa yang beragam menentukan jenis dan fungsi tiap canting. Diameter ini tidak diukur dengan standar pengukuran internasional, namun dari diameter ini pembatik membedakan kegunaan tiap canting. Umumnya, tiap pembatik mempunyai 4-5 jenis canting yang akan sering dipergunakan.
1. Canting Carat Berbeda dengan canting lainnya yang hanya mempunyai satu pipa,
canting carat mempunya i dua pipa dengan diameter sama, yang keluar dari mangkok tembaga. Biasanya,
canting carat mempunyai diameter pipa sama dengan
canting klowongan. Canting ini dipergunakan untuk membuat garis yang sejajar dan rapi. Sebuah mori yang akan dibatik menjadi kain panjang atau sarung, akan
di-carat-i dulu di keempat sisinya. Selain itu, untuk pembuatan motif
Parang (dan keluarganya),
carat ini akan sangat berguna.
2. Canting KlowonganCanting
klowongan mempunyai diameter lubang pipa yang cukup besar. Canting ini berfungsi untuk membatik pola utama dari sebuah motif batik. Misalnya motif bunga, maka canting ini hanya akan dipakai untuk membuat bentuk luar motif bunga. Sebutan untuk itu ialah
"nglowongi".
3. Canting IsenDiameter pipa canting
isen lebih kecil dari canting
klowongan. Dipakai untuk membuat
isen-isen (motif isi) sebuah motif batik. Selain itu juga digunakan untuk membuat
pelataran motif (motif latar/background). Misalnya motif bunga diatas, maka isen-isen ini bisa berupa
galaran atau
sawutan ditengah kelopak bunga.
Jenis motif isen ini sangat banyak. Ada jenis motif yang tradisional, namun ada yang kreasi baru mengikuti kreatifitas pembatiknya. Untuk menyebut jenis i
sen-isen tradisional:
sawut, galar, ukel, kembang bayem,
kembang jambu, dlsb.
Istilah untuk penggunaan canting isen ini adalah
"ngiseni" yang artinya "memberi isi".
4. Canting CecekCanting
cecek adalah jenis canting yang paling kecil diameter pipanya. Canting ini berfungsi membuat motif titik-titik yang kecil dan lembut. Semakin kecil dan rapi cecekan-nya, maka batik tersebut semakin halus pula. Istilah untuk menyebut proses ini ialah "
nyeceki".
5. Canting TembokanCanting
tembokan adalah canting dengan diameter pipa terbesar sehingga
malam dengan cepat keluar dalam kapasitas yang cukup banyak. Bila tidak terbiasa dengan canting ini,
malam panas bisa dleweran kemana-mana menimpa batikan yang sudah bagus, bahkan mengenai tangan.
Sesuai namanya, canting ini memang berfungsi membuat "
tembok" atau menutup bagian
mori putih yang relatif luas agar tidak terkena warna pada proses pencelupan. Istilah untuk menyebut proses ini adalah
"nemboki".
Kelima canting diatas lah yang sering dipakai pembatik untuk membatik motif halus. Canting bisa diperoleh dengan mudah di toko malam. Di Solo ada beberapa toko yang menyediakan canting. Kadang dijual masih dalam bentuk mangkok pipa, tanpa
garan (pegangan), namun ada yang menjual memakai
garan. Garan ini terbuat dari semacam rotan namun ringan dan lunak, panjangnya sekitar 10 cm.
Jika tidak memakai
garan, maka pembatik harus merangkai sendiri garannya. Cara memasangkan
garan ialah, perhalus
garan dengan menggunakan pisau. Bentuk ujungnya supaya pas dengan ukuran mangkok canting. Lalu tusukkan bagian tembaga yang runcing sejajar dengan
garan, dan ikat pipa lengkungnya pada ujung
garan yang runcing dengan menggunakan benang jahit.
Canting dijual dengan harganya berkisar Rp 1250 - Rp 2500,- per biji. Tergantung kualitasnya. Pembatik akan memilih yang kuat, paruh pipanya tidak bengkok, dan mulut pipa bundar sempurna. Karena dari pipa yang sempurna ini akan keluar motif-motif yang bagus untuk sebuah batik. Kadang, jika perlu, pembatik akan mengamplas mulut pipa atau membelah sedikit bagian
cucuknya dengan pisau, agar mendapatkan hasil yang baik dan nyaman dipergunakan.
Inilah canting. Diatas adalah gambar 4 buah canting koleksi pribadi. Sesuai urutan dari atas ke bawah:
canting carat, canting klowongan, canting isen, dan canting cecek. Ingin belajar membatik? Kenali canting terlebih dahulu