Tiga hari lalu geledah-geledah folder dokumen. Menemukan cerpen ini, yang kutulis setahun lalu. Tadinya ragu hendak diposting di MP. Tapi jadi termotivasi juga setelah Romo Nico posting cerpen hari ini. Hahaha...
Tokoh dan kisah fiktif. Ceritanya tentang seorang bapak yang mendamba anak yang tak pernah ditemuinya. Aku lupa pergumulan apa yang membuatku menuliskan ini. Selamat membaca, bagi yang ingin membaca :). Salam, Haley
27 Maret
Prasetyo sedang menghabiskan kopinya ketika denting jam tujuh kali berbunyi. “Ugh!” Gerutunya, ketika ampas pekat kopi ikut mendarat di lidah. Aku harus buru-buru, pikirnya. Hari ini aku harus mengantar investor dari Thailand yang ingin melihat lahan peternakan sapi di Malang. Semoga Pak Tardi tidak terlambat lagi pagi ini. Semoga sepeda motor tuanya tidak ngadat di jalan. Kalau terlambat, terpaksa aku sendiri yang harus nyetir. Jangan lupa, sebelum berangkat, telpon dulu ke lahan, cek kesiapan lapangan.
Dibiarkannya cangkir kopi tetap di atas meja. Disambarnya tas kerja, berjalan keluar, mengunci pintu. Keluar pagar, lalu disusurinya jalan gang dan trotoar yang basah menuju kantor. Segar sekali udara pagi ini, menghembuskan bau lembab tanah basah. Semalam kota Surabaya diguyur hujan.
Prasetyo sangat gemar berjalan kaki pagi hari menuju kantor. Kurang lebih satu kilometer jaraknya. Banyak orang di sepanjang jalan itu mengenalnya. Prasetyo sendiri orang sangat ramah dan perhatian.
“Apa kabar Pak Min? Sudah narik gerobak lagi hari ini. Bludreknya sudah sembuh ya?”
“Chika, kok baru berangkat sekolah? Terlambat dong.”
“Rapi sekali Bud, sudah mulai kerja lagi ya?”
“Selamat pagi Bu Darti. Tumben borong sayuran. Mau masak besar nih?”
Atau, sekedar senyum dan mengucapkan, “Pagi…”
Setiap pagi, di jalan yang sama, pada orang-orang yang sama, disapa dengan senyum dan ucapan ramah. Prasetyo seakan tak pernah mengijinkan mereka melihat mendung dan kepedihan yang telah lima tahun disimpan rapat dalam hatinya.
Di pertigaan terakhir Prasetyo berbelok ke kiri. Seakan sudah menjadi gerakan reflek, sejenak ditolehnya rumah mungil berhalaman luas di pojokan jalan, persis sebelum bangunan kantornya. Sudah seminggu lebih dua orang tukang bekerja disitu. Halaman dibersihkan, tanaman ditata kembali dengan rapi, dahan-dahan pohon yang mengarah ke genting dipangkas. Tembok rumah dicat dengan warna terakotta yang hangat. Kusen jendela dan pintu dicat kembali dengan warna yang lebih terang. Ah, entah apa lagi yang dikerjakan di bagian dalam bangunan.
“Pagi Pak…” Prasetyo tidak tahu nama tukang-tukang bangunan tersebut.
“Wah, rumahnya jadi cantik. Sepertinya sudah hampir selesai ya Pak?”
“Iya mas. Memang hari ini semuanya harus sudah selesai. Besok penghuni baru, dari Ungaran, sudah boyongan kesini.”
“Oh, dari Ungaran ya Pak... Pasti penghuni baru puas dengan hasil kerja bapak-bapak ini. Mari Pak, selamat bekerja, saya masuk dulu.”
Ungaran… masih terngiang nama kota itu. Prasetyo sendiri belum pernah ke Ungaran. Namun nama itu membangkitkan kenanganannya akan Hana. Apa kabar Ibu yang tegar-tegas dan pemberani? Apa kabar anak kita? Prasetyo diam-diam mengeluh dalam hati.
Siang hari, hari berikutnya, di sela jam istirahat Prasetyo mengamati kesibukan di rumah pojokan jalan itu dari jendela ruang kerjanya. Satu buah truk datang mengangkut furniture dan peralatan rumah tangga lainnya. Beberapa tukang sibuk mengangkat dengan penuh kehati-hatian. Ada pula satu buah mobil box penuh dengan dus besar. Di tiap dus-nya ditempel kertas putih dengan tulisan-tulisan yang tidak bisa dibacanya dari jauh.
Dilihatnya wajah tiap orang, mencoba menerka penghuni baru rumah tersebut. Ada pasangan laki-laki dan perempuan muda dengan seorang anak kecil datang mengendarai Honda Civic tua. Ya, pasti mereka penghuni rumah itu. Diperkirakannya laki-laki itu berusia tak lebih dari 30 tahun. Yang perempuan kelihatannya lebih muda 4-5 tahun dari suaminya. Ya, pasti mereka suami istri. Dan anak laki-laki itu pasti anaknya, kelihatannya sudah masuk sekolah dasar. “Mungkin mereka nikah usia muda.” Pikirnya dalam hati.
“Selamat pagi. Saya Ook, bekerja di kantor sebelah rumah anda. Baru pindah ya?” Prasetyo memperkenalkan dengan nama panggilan masa kecilnya. Hanya orang-orang yang mengenalnya secara intim yang mengetahui nama panggilan itu. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa bisa berteman dekat dengan penghuni baru ini dan lebih nyaman mengenalkan diri dengan nama panggilan masa kecil.
“Pagi. Iya, baru kemarin kami pindahan kesini. Nama saya Hardono… yang sedang di teras itu Rita, istri saya, dengan Bintang.… bla… bla… bla”
Hanya Bintang saja, tak disebutnya sebagai “Bintang, anak saya.” Seperti Ia menyebut “Rita, istri saya.” Prasetyo menyernyitkan dahi.
***
Pagi itu jalanan kembali basah oleh hujan deras yang mengguyur semalam. Seperti biasa Prasetyo berjalan kaki menuju tempat kerja sambil beramah-tamah dengan lingkungan. Di sepanjang jalan dihirupnya dalam-dalam udara pagi yang segar. Mensyukuri nikmat Allah. Di pertigaan terakhir, dilihatnya Rita tergopoh-gopoh keluar rumah membawa sebuah tas yang cukup besar.
“Pagi Rit, ada apa kok tergesa-gesa?”
“Bintang mas, Bintang.”
“Kenapa Bintang?”
“Tadi pagi tertabrak mobil saat hendak berangkat sekolah. Sekarang di rumah sakit ditunggui Mas Dono. Saya akan ke rumah sakit membawakan pakaian bersih. Lukanya parah, Mas, banyak pendarahan. Butuh transfusi darah.”
“Apa golongan darahnya, Rit?”
“A. Agak susah mencarinya. Diantara keluarga pun tak ada yang bergolongan darah A. Rumah sakit sudah coba hubungi PMI, tapi mereka tak punya. Sedang dicoba menghubungi PMI Jakarta. Saya kawatir mas, kalau menunggu terlalu lama, kondisi Bintang akan semakin lemah.”
“Golongan darah saya A, Rit. Saya akan ikut kamu ke rumah sakit. Tunggu sebentar, saya ijin ke kantor dulu.”
Sinar mata Rita bersemu cerah.
Pengambilan darah berlangsung lancar. Tubuh Bintang mampu menerima tranfusi darah dari Prasetyo. Hari-hari berikutnya Prasetyo tak sempat memantau perkembangan kesehatan Bintang. Pembukaan peternakan baru di Malang membuatnya harus tinggal di sana selama beberapa minggu. Sebuah berita SMS dari Hardono mengabarkan bahwa Bintang sudah pulih dan sudah bisa sekolah lagi. Suami istri tersebut mengucapkan terima kasih atas kebaikan Prasetyo.
Alhamdullilah Bintang sudah pulih kembali. Jika Hana mengijinkanku melihat anak lelakiku, mungkin dia sekarang sudah sebesar Bintang, sudah masuk SD kelas 1. Ya, pasti aku akan membawanya ke kebun binatang, mengenalkan berbagai binatang disana. Lalu bermain-main sejenak di ayunan dan papan luncuran, sambil tertawa menikmati es krim yang tak akan pernah habis. Aku akan menggendongnya di pundakku dan berjalan berkeliling kebun binatang, memamerkan anak lelakiku yang gagah perkasa. Aku ingin semua orang iri. Sepulang dari kebun binatang akan kubelikan layang-layang berbentuk burung rajawali dan puding terlezat di Toko Kue Nissa. Lalu kumandikan, dan kuhidangkan sepiring nasi goreng istimewa buatanku. Semoga anak lelakiku doyan nasi goreng buatanku itu. Tak apa jika dia tahu bapaknya hanya bisa memasak nasi goreng, tapi semoga dia bangga menyantapnya, karena disajikan dengan penuh cinta .
Ya, semoga Hana tidak mengingkari janjinya. “Pada saatnya nanti, aku akan mengenalkan bapaknya, Pras. Dia perlu mengetahui asal-usulnya. Dengan pemikiran kanak-kanaknya yang masih sederhana, kuharap dia sudah bisa mengerti.” Bulan ini, entah tanggal berapa, anak lelakiku berusia 7 tahun. Dan penantianku terus berlanjut. Kapan aku bisa menjumpaimu, anakku? Aku tak sabar menunggu hari pertemuan. Nama apa yang diberikan Ibumu padamu? Ah, aku pun juga tak tahu siapa nama anakku. Aku hanya tahu Hana melahirkan anak lelaki. Berita terakhir tentangnya hanya sebuah telegram singkat yang datang pada tanggal 27 Maret, “anak lelakimu telah lahir selamat dan sehat titik salam koma hana titik”. Sejak itu aku tak bisa lagi menghubungi Hana. Nomor ponselnya tidak aktif. Setiap surat yang kukirim kembali dengan tulisan, “Alamat tak diketahui.”
***
“Aku positif hamil Pras. Tiga bulan.”
“Kau yakin Han? Sudah kau periksakan?” Prasetyo bertanya dengan nada panik. Dilihatnya perut Hana. Masih tetap mungil dan datar. Tapi memang benar, dada dan pinggulnya mulai berisi.
“Jadi harus bagaimana kita Han?” Hana hendak menjawab, namun ragu. Senyap sebentar.
“Kita harus segera kabarkan pada orangtua agar merestui pernikahan kita. Kita akan segera menikah sebelum perutmu makin buncit, Han. Lagipula aku tak ingin anak ini lahir tanpa ayah. Aku tak ingin orang-orang menyebutnya anak haram. Aku akan bertanggungjawab, Han.”
Kepala Hana terasa melayang. Berjuta kata menyumbat dalam dada seakan ingin diteriakkan. Namun mulutnya terkunci diam seribu basa. Yang terdengar hanya suara nafas memburu mengiringi gerakan dada naik-turun tersengal, menahan gemuruh-sesak di dada.
“Kenapa kau diam saja, Han?”
Ditatapnya Prasetyo dengan sendu. Bagaimana cara kita menikah Pras? Di depan penghulu atau dengan Pendeta? Bisakah kau memenuhi mimpiku? Terbayang dalam benak Hana sebuah pernikahan gerejawi. Sepasang pengantin bergandengan mesra berjalan menuju altar, diiringi paduan suara menyanyikan lagu Wedding March. Puluhan pasang mata menatap mereka dengan haru dan cemburu. Ucapan janji pernikahan, penukaran cincin, Pendeta menyalurkan berkat, menopangkan tangan diatas kepala mempelai berdua. Lalu terdengar alunan lagu Tulang Rusuk dari duet penyanyi terbaik. Apa tanggapan keluargamu nanti, Pras? Orangtuamu ulama yang merintis pendirian masjid besar di desa. Jadi, siapa akan mengikuti siapa?
“Sebaiknya kamu mengalah saja, Han. Mengikuti caraku. Bapakku pasti bisa mengatur pernikahan ini dengan mudah. Beliau sudah sering melakukannya.” Prasetyo menambahi kalimatnya, seakan tahu seribu pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran Hana.
Mengalah? Tetapi ini bukan masalah kalah dan menang, Pras. Pernikahan tidak untuk mencari pemenang dan pecundang. Dan ini pun bukan sekedar selembar surat nikah agar akte kelahiran anak ini mencantumkan nama ayah dan ibunya. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan diantara kita sebelum melangkah ke jenjang itu, Pras. Banyak.
Lagipula, bayi yang kukandung bukan anak haram. Kaulah ayahnya, Pras. Dan aku ibu yang sedang mengandungnya. Aku pun akan mempertanggungjawabkannya, Pras.
“Aku tidak akan menikah, Pras.” Ucapan Hana serasa menampar wajah Prasetyo.
“Apa maksudmu, Han? Kau akan gugurkan anak ini? Masya Allah, Han, ingat Tuhan, ingat dosa.”
Hana menoleh lemah. Dijawabnya Pras. “Kau salah, Pras. Akan terus kukandung anak ini, kulahirkan, dan kubesarkan sendiri. Mulai bulan depan aku mengundurkan diri dari perusahaan. Aku akan pulang ke Ungaran. Tindakan ini pasti akan menampar muka keluargaku, tapi kuanggap ini keputusan yang terbaik. Nanti setelah besar, kuharap anak ini bisa memahami mengapa ibunya melakukan hal ini.”
***
Di rumah mungil berhalaman luas di pojokan jalan, Hardono membuka buku alamat. Jarinya berhenti di inisial W. “Wahyu Prasetyo, Jalan Pucang Sawit Timur No. 21, Surabaya.” Sebelum mempertemukan Bintang dengan ayahnya, sebaiknya aku berkenalan terlebih dahulu. Bapak, Ibu, dan aku tak pernah mengetahui siapa ayah Bintang. Mbak Hana tak pernah bersedia memberitahu. Ketika pacaran pun Mbak Hana belum pernah memperkenalkan pada keluarga. Sekeras apapun Bapak Ibu bertanya, Mbak Hana tidak pernah bersedia menjawab. Sebelum meninggal dalam pendarahan, dua hari setelah melahirkan Bintang, Mbak Hana meninggalkan alamat ini dan memintaku mengenalkan Bintang pada ayahnya setelah berumur 7 tahun.
Pucang Sawit tak jauh dari sini, aku akan kesana naik becak saja.
***
Dihisapnya rokok kretek dalam-dalam. Asapnya mengepul naik, berkumpul dibawah langit-langit ruang tengah yang rendah. Prasetyo mendekam di sofa tunggal di pojok ruangan yang gelap. Diatas meja disiapkannya kue tart mini dengan tujuh batang lilin tertancap serta satu toples kue-kue manis yang dibelinya di Toko Kue Nissa. Lalu satu porsi nasi goreng yang disiapkan dengan penuh cinta dan sebongkah es krim yang masih tersimpan di lemari es. Rumah di jalan Pucang Sawit Timur No 21 itu gelap dan mencekam. Pendaran cahaya hanya berasal dari tujuh batang lilin di atas kue tart. Setiap tanggal 27 Maret, seluruh sudut ruangan di rumah itu terasa hampa dan tintrim. Jam dinding pun berhenti berdetak.
Prasetyo mendekam semakin dalam. Dicobanya panjatkan doa untuk anak lelakinya yang belum pernah dijumpai. Namun yang keluar hanyalah desahan dan aliran hangat airmata.
Solo, 21 September 2005
Picture: koleksi pribadi, picture of father and son, Fel dan Tio