“Orang Solo senang
makan dan tidak sayang membelanjakan banyak uang untuk makan.” Lies Suwantini,
Pengelola Gerai Roti Boy di Solo Grand Mall (Dikutip dari Kompas Jateng, 25
September 2006, Waralaba Asing Bakery Mulai Masuk ke Solo)
Meski Solo tidak mempunyai tempat jajan yang seberagam Jakarta, kota metropolitan
yang multi etnis dan ras, namun kota
kecil Solo mempunyai cukup banyak tempat jajan yang menyajikan makanan yang monumental.
Sebutlah nasi liwet Bu Wongso Lemu, lontong Gladag, soto Gading, timlo Sastro,
sup buntut Gladag, Srabi Notosuman, bubur lemu Bu Harso, gudeg Adem Ayem, ayam bakar Tohjoyo, gudeg ceker
Margoyudan, rica-rica jamu Komplang (non halal), sate buntel Tambaksegaran,
tengkleng Klewer, bakso Notosuman, bakso Kalilarangan, dan masih banyak lagi.
Itu hanyalah sebagian nama-nama yang sudah sangat kondang
kawentar. Belum lagi jika disini disebut para pemain baru yang tak kalah enak. Mulai
dari dini hari anda baru bangun tidur, siang, mengikuti jalannya matahari ke
arah barat, hingga gelap malam, dan pada saat anda hendak terlelap, anda akan
selalu menjumpai makanan yang sangat bisa dinikmati di kota
yang tak pernah tidur ini (kota tanpa nendra,
dicuplik dari tembang “Berseri” semboyan kota
Solo)
Hal ini berhubungan pula dengan budaya orang Solo yang
disebut, “keplek ilat”. Susah membahasakan dalam bahasa nasional negeri ini.
Mungkin bisa disebut memanjakan lidah. Orang Solo memang suka memanjakan lidah;
suka makan, dan tidak sayang membelanjakan banyak uang untuk makanan.
Gak percaya? Salah satu bukti, dalam satu bulan ini 2
waralaba asing membuka gerai di Solo, yaitu Roti Boy dan Bread Talk. Mereka
membuka di Solo, dan bukan di Semarang yang nota
bene ibukota propinsi, kota
yang lebih besar katimbang Solo. Dua gerai ini berani bersaing dengan para
bakery lokal untuk memperebutkan kue yang kecil karena Solo memang pasar yang
menjanjikan untuk produk makanan.
Bukti lain, coba deh orang-orang Solo yang tinggal di luar kota berkumpul, salah
satu topik pembicaraan pasti tentang makanan. Masih belum cukup bukti? Coba
anda datang ke Solo, pasti makanan lah yang dituju dan menjadi keasyikan yang
istimewa dalam lawatan anda.
Saking karena suka makan, saat ini pun kaki lima yang menjajakan makanan semakin menjamur.
Banyak orang yang di PHK dan fresh graduate, yang mencoba mencari rejeki dari
sektor informal ini. Mungkin ini sektor yang paling mudah dimasuki, asal bisa
masak dan punya sedikit modal, setiap orang bisa memasukinya. Dan tak perlu
takut gak laku, karena semua orang Solo suka makan dan jajan. Masalah laris
atau tidak, bertahan lama atau 4 bulan saja, tinggal tunggu waktu.
Dengan kehadiran para pedagang kaki lima,
kota Solo
menjadi semakai ramai (baca=ruwet dan kumuh). Trotoar yang menjadi hak pejalan
kaki “dirampas” oleh mereka demi penghidupan. Ini pun menjadi PR tersendiri
bagi pemerintah daerah untuk memberikan lapangan pekerjaan yang luas bagi para
penduduk usia produktif dan menata kota
secara fungsional.
Dalam upaya ini pula, Pemda merencanakan “Solo City Walk” di
trotoar sebelah selatan jalan Slamet Riyadi, mulai dari Purwosari hingga
Gladak. Proyek wisata bisnis, belanja dan makan yang cukup ambisius. Mimpinya
akan seperti Orchard Road
Singapore
yang aku sendiri blum pernah tahu seperti apa. Akan dipindah kemana pedagang
kaki lima di sepanjang jalan itu? Adakah fasilitas parkir yang layak bagi
orang-orang yang berkepentingan di wilayah itu? Bagaimana pengaruhnay terhadap
transaksi bisnis? Kanopi, entertaintment, fasilitas lain?
Kembali ke topik Solo, the true badogers city. Adalah lumrah
banyak waralaba asing masuk ke Solo. Ini akan meningkatkan daya saing pemain
lokal, yang walau dari segi rasa tak kalah dengan pemain asing (saya tetep
memilih roti sobek keju Prestasi katimbang Volcano Cheese Bread Talk). Pemain
asing ini juga akan memberi “wawasan kuliner” baru bagi komunitas Solo. Namun,
adalah keharusan bagi pemain lokal untuk terus bertumpu pada konteks lokal,
menyajikan menu lokal dengan penyajian yang lebih manusiawi. Haiyaaa… penyajian
yang manusiawi seperti apa itu? Tentu saja yang memenuhi standar manusia yang
membutuhkan makanan sehat sekaligus mengobati hati rindu, dan menentramkan jiwa
komunitas lainnya. Bukankah ini yang dicari, terutama wisatawan?
Solo, the true badogers city. Jalan meninggalkan Solo kalau
belum mencicip makanan khas Solo dan membawanya pulang untuk oleh-oleh orang
tercinta.
Keterangan:
*badoger diambil dari kata badog (baca=mbadog), yang artinya makan (kata kerja). Kata "badog" sebenenarnya merupakan pilihan kata yang kasar, namun dalam perkembangannya kata badoger (kata ganti orang) dipilih sebagai kata yang mewakili orang-orang yang suka/gemar/hobi/tukang makan. Ntah mengapa, meski dari asal kata badog yang nota bene kata kasar, kata badoger menjadi tidak terdengar kasar.
Foto: beberapa jualan toko oleh-oleh Varia, masih menggunakan toples kuno, isinya pun kuker kuno dan manisan kuno, dokumentasi Mbak Ine