Blog EntrySolo, The True “Badogers”* CitySep 26, '06 12:30 AM
for everyone
“Orang Solo senang makan dan tidak sayang membelanjakan banyak uang untuk makan.” Lies Suwantini, Pengelola Gerai Roti Boy di Solo Grand Mall (Dikutip dari Kompas Jateng, 25 September 2006, Waralaba Asing Bakery Mulai Masuk ke Solo)

Meski Solo tidak mempunyai tempat jajan yang seberagam Jakarta, kota metropolitan yang multi etnis dan ras, namun kota kecil Solo mempunyai cukup banyak tempat jajan yang menyajikan makanan yang monumental. Sebutlah nasi liwet Bu Wongso Lemu, lontong Gladag, soto Gading, timlo Sastro, sup buntut Gladag, Srabi Notosuman, bubur lemu Bu Harso, gudeg Adem Ayem, ayam bakar Tohjoyo, gudeg ceker Margoyudan, rica-rica jamu Komplang (non halal), sate buntel Tambaksegaran, tengkleng Klewer, bakso Notosuman, bakso Kalilarangan, dan masih banyak lagi.

Itu hanyalah sebagian nama-nama yang sudah sangat kondang kawentar. Belum lagi jika disini disebut para pemain baru yang tak kalah enak. Mulai dari dini hari anda baru bangun tidur, siang, mengikuti jalannya matahari ke arah barat, hingga gelap malam, dan pada saat anda hendak terlelap, anda akan selalu menjumpai makanan yang sangat bisa dinikmati di kota yang tak pernah tidur ini (kota tanpa nendra, dicuplik dari tembang “Berseri” semboyan kota Solo)

Hal ini berhubungan pula dengan budaya orang Solo yang disebut, “keplek ilat”. Susah membahasakan dalam bahasa nasional negeri ini. Mungkin bisa disebut memanjakan lidah. Orang Solo memang suka memanjakan lidah; suka makan, dan tidak sayang membelanjakan banyak uang untuk makanan.

Gak percaya? Salah satu bukti, dalam satu bulan ini 2 waralaba asing membuka gerai di Solo, yaitu Roti Boy dan Bread Talk. Mereka membuka di Solo, dan bukan di Semarang yang nota bene ibukota propinsi, kota yang lebih besar katimbang Solo. Dua gerai ini berani bersaing dengan para bakery lokal untuk memperebutkan kue yang kecil karena Solo memang pasar yang menjanjikan untuk produk makanan.

Bukti lain, coba deh orang-orang Solo yang tinggal di luar kota berkumpul, salah satu topik pembicaraan pasti tentang makanan. Masih belum cukup bukti? Coba anda datang ke Solo, pasti makanan lah yang dituju dan menjadi keasyikan yang istimewa dalam lawatan anda.

Saking karena suka makan, saat ini pun kaki lima yang menjajakan makanan semakin menjamur. Banyak orang yang di PHK dan fresh graduate, yang mencoba mencari rejeki dari sektor informal ini. Mungkin ini sektor yang paling mudah dimasuki, asal bisa masak dan punya sedikit modal, setiap orang bisa memasukinya. Dan tak perlu takut gak laku, karena semua orang Solo suka makan dan jajan. Masalah laris atau tidak, bertahan lama atau 4 bulan saja, tinggal tunggu waktu.

Dengan kehadiran para pedagang kaki lima, kota Solo menjadi semakai ramai (baca=ruwet dan kumuh). Trotoar yang menjadi hak pejalan kaki “dirampas” oleh mereka demi penghidupan. Ini pun menjadi PR tersendiri bagi pemerintah daerah untuk memberikan lapangan pekerjaan yang luas bagi para penduduk usia produktif dan menata kota secara fungsional.

Dalam upaya ini pula, Pemda merencanakan “Solo City Walk” di trotoar sebelah selatan jalan Slamet Riyadi, mulai dari Purwosari hingga Gladak. Proyek wisata bisnis, belanja dan makan yang cukup ambisius. Mimpinya akan seperti Orchard Road Singapore yang aku sendiri blum pernah tahu seperti apa. Akan dipindah kemana pedagang kaki lima di sepanjang jalan itu? Adakah fasilitas parkir yang layak bagi orang-orang yang berkepentingan di wilayah itu? Bagaimana pengaruhnay terhadap transaksi bisnis? Kanopi, entertaintment, fasilitas lain?

Kembali ke topik Solo, the true badogers city. Adalah lumrah banyak waralaba asing masuk ke Solo. Ini akan meningkatkan daya saing pemain lokal, yang walau dari segi rasa tak kalah dengan pemain asing (saya tetep memilih roti sobek keju Prestasi katimbang Volcano Cheese Bread Talk). Pemain asing ini juga akan memberi “wawasan kuliner” baru bagi komunitas Solo. Namun, adalah keharusan bagi pemain lokal untuk terus bertumpu pada konteks lokal, menyajikan menu lokal dengan penyajian yang lebih manusiawi. Haiyaaa… penyajian yang manusiawi seperti apa itu? Tentu saja yang memenuhi standar manusia yang membutuhkan makanan sehat sekaligus mengobati hati rindu, dan menentramkan jiwa komunitas lainnya. Bukankah ini yang dicari, terutama wisatawan?

Solo, the true badogers city. Jalan meninggalkan Solo kalau belum mencicip makanan khas Solo dan membawanya pulang untuk oleh-oleh orang tercinta.


Keterangan:
*badoger diambil dari kata badog (baca=mbadog),
yang artinya makan (kata kerja). Kata "badog" sebenenarnya merupakan pilihan kata yang kasar, namun dalam perkembangannya kata badoger (kata ganti orang) dipilih sebagai kata yang mewakili orang-orang yang suka/gemar/hobi/tukang makan. Ntah mengapa, meski dari asal kata badog yang nota bene kata kasar, kata badoger menjadi tidak terdengar kasar.

Foto: beberapa jualan toko oleh-oleh Varia, masih menggunakan toples kuno, isinya pun kuker kuno dan manisan kuno, dokumentasi Mbak Ine

22 CommentsChronological   Reverse   Threaded
estherlita wrote on Sep 26, '06
iya memang Solo, kota yang banyak makanan enak2 salah satu nya saya "korbannya", jatuh cinta pada makanan Solo....

Tadinya saya kira judul apaan "the true badogers"... setelah dibaca jadi senyum sendiri...mbadog rek..ha ha ha....
foodngarden wrote on Sep 26, '06
itu yg nongol sedikit wajah rifa ya hihihi... aku ke solo cuma nyampe pasar klewer, waktu jalan2 sama temen2ku ke jogja. lain waktu aku bisa todong dirimu buat ngenalin aku ke solo lebih dekat ya??
haleygiri wrote on Sep 26, '06
salah satu nya saya "korbannya", jatuh cinta pada makanan Solo....
Hihihi... nyuwun sewu mbakyu, pripun menawi para korban ngawontenaken klub "the true badogers of Solo"? Hihihi...
haleygiri wrote on Sep 26, '06
itu yg nongol sedikit wajah rifa ya hihihi...
Betul banget! Nampangnya tanggung!
haleygiri wrote on Sep 26, '06
lain waktu aku bisa todong dirimu buat ngenalin aku ke solo lebih dekat ya??
Waa... nggih monggo... kulo derekaken mbakyu... kanthi bungahing manah!
laresolo wrote on Sep 26, '06
Solo cen kemayu lan ngangeni .. ;-) Aduh baru dengar istilah badoger. Tulisannya bagus banget mbakyu... ;-)
haleygiri wrote on Sep 26, '06
Solo cen kemayu lan ngangeni .. ;-)
Ayo masss... mudik lebaraaaannnn...
haleygiri wrote on Sep 26, '06
Tulisannya bagus banget mbakyu... ;-)
Maturnuwun masss... *mesam-mesem isin*
litakoeswandi wrote on Sep 26, '06
Gue naksir banget tuh ama toples-toplesnya..
laresolo wrote on Sep 27, '06
Ayo masss... mudik lebaraaaannnn...
Sayangnya saya kayaknya ndak mudik tahun ini. Kehabisan budget, berhubung lagi banyak kebutuhan lainnya. Dulu waktu anak-anak masih kecil, naik pesawat cukup beli tiket 2. Sekarang mesti beli tiket 4, waduh gak kuat aku. Kalau naik bis, si kecil gak kuat perjalanan darat. Bogor - Bandung aja dia udah teler.
loranty wrote on Sep 27, '06
hidup solo :D dasar aku wong solo.....
puitri wrote on Sep 27, '06
ayo kirim ke media..
mliz wrote on Sep 27, '06
mbak Haley..aku penggemarnya lapis surabaya-nya Orion..wong solo juga bukan yang punya?
haleygiri wrote on Sep 27, '06
Kalau naik bis, si kecil gak kuat perjalanan darat. Bogor - Bandung aja dia udah teler
Wah, iyah mas, demi si kecil, ditahan dulu kangennya ama Solo. Kasihan juga klo maksa, udah kita repot, si kecil juga gak nyaman. Sama-sama gak menikmati :(
haleygiri wrote on Sep 27, '06
loranty said
hidup solo :D dasar aku wong solo.....
Hidup Liaaaa, wong Soloooo!!!
haleygiri wrote on Sep 27, '06
puitri said
ayo kirim ke media..
Nganggo koneksine Pak Kastoyo Ramelan yo? huehreorheihrueh
haleygiri wrote on Sep 27, '06
mliz said
mbak Haley..aku penggemarnya lapis surabaya-nya Orion..wong solo juga bukan yang punya?
Iya mbak, orang Solo juga, itu dah sejak jaman dulu kala kondang!
cutyfruty wrote on Sep 27, '06
Aku di Solo belum sempat meng-absen semua makanan. Baru sempat sego kucing dan apa lagi ya. Pokoke belum pepak. Nanti kalau aku ke Solo, kita jalan bareng ya? Thanks untuk infonya.
haleygiri wrote on Sep 27, '06
Nanti kalau aku ke Solo, kita jalan bareng ya?
Ayooo kapan ke Solo Mbak...???
sondher wrote on Sep 28, '06
rencananya mau borong roti semirnya orion buat bekel ke jkt hahahha...
haleygiri wrote on Sep 29, '06
sondher said
rencananya mau borong roti semirnya orion buat bekel ke jkt hahahha...
Monggo... monggo... roti semir memang ngangenii..
buudz wrote on May 19, '07
Info baru nih, di Solo, Sate Tambaksegaran buka baru di Jl. Yos Sudarso 168, kratonan ( Dari Slamet Riyadi ke kanan arah Solo Baru, perempatan Coyudan terus aja kira-kira 400meter di kanan jalan) Selain Sate Buntel, ada juga menu tambahan Ada Gule Goreng, Nasi Goreng Kambing juga ada, Kikil Bakar enak-juga boss menu2 tambahannya, coba aja boss kalo ada di Solo
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help