Foto: sebuah moment spiritual yang pernah kualami di rumahRumah disini lebih kuartikan sebagai jiwa, semangat, dan keberpihakan.
Aku masih dalam perjalanan ke rumah yang pernah kutinggali dan kutinggalkan. Perjalanan pulang adalah perjalanan terberat yang pernah aku rasakan. Meski di rumah itu, problem yang lebih berat lagi pasti akan kuhadapi. Tapi kerinduan dan kegelisahan yang menggebu harus kupenuhi (Meski kerinduan dan kegelisahan ini pun aku tumbuhkan (lagi) dengan susah payah. Tak serta merta datang).
Dengan langkah berat pada jalan yang terjal, aku berjalan ke rumah yang pernah kutinggali dan kutinggalkan. Banyak hal kuperoleh di luar, tapi aku harus kembali ke rumah, karena banyak hal telah kutinggalkan. Banyak hal kulewatkan. Sementara rumah itu terlihat miskin, kusam, dan hampa.
Maafkan aku tak mampu lagi berkumpul denganmu, walau sekedar berbagi tawa, tangis, mencicip makanan, mendengarkan musik, atau menikmati gambar harimu. Karena perjalanan ini akan panjang dan melelahkan, dan aku perlu menghimpun sumber daya diri untuk mencapainya.
Maafkan aku, jika angin dan kesunyian yang akan mengabarkan diriku. Cukup
kenanglah daku, sebisamu, segala yang baik dan cintaku yang kekal*. Karena aku mencintaimu, seperti aku mencintai rumah yang hendak kutuju...
*) mencuplik dari puisi John Conford, The Last Mile to Huesca