Sekedar memakai satu hari dalam setahun untuk mengingat bumi kita. Tapi ini ceritanya lagi males nulis. So, tulisan tahun 2002 dimunculin lagi. Meski data2nya sudah tidak up to date, tapi ide yang mo disampaikan masih sama. Selamat merefleksikan Hari Bumi...
Pada saat refleksi ini ditulis, matahari sangat menyengat di ruangan divisi PP yang panas. Angin didatangkan dari kipas elektronik agar menghadirkan sedikit kesejukan bagi orang-orang yang saat itu sedang bekerja didalamnya. Aku membayangkan beberapa juta orang yang saat ini juga sedang kepanasan, dan mungkin akan terus menanggung suasana panas ini di bulan-bulan yang akan datang.
Kabar akan datangnya El Nino tahun ini sudah muncul di koran-koran. Akan datang musim kemarau yang sangat panjang. Matahari yang bersinar sepanjang hari selama beberapa bulan, hujan yang tak kunjung datang, air sungai menyusut dan mata air mengering. Entah bagaimana nanti Mbah Hardi di Toroh, Grobogan, Mas Dadi di Suroteleng, Boyolali, serta banyak petani lainnya yang memperoleh air untuk mengairi lahannya. Atau Kak Mar dan para tetangga di desa Air Rami Kabupaten Bengkulu Utara yang tiap musim kemarau harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer untuk mencari air bersih. Kalau tidak demikian, mungkin bencana muntaber akan menimpa keluarganya dan mendatangkan kematian, seperti yang sering terjadi pada beberapa keluarga di desanya setiap kali musim kemarau datang.
Mengingat musim kemarau yang panjang, aku juga membayangkan teman-teman di Pulau Kalimantan dan Sumatera yang harus bersesak nafas menghirup asap setiap kali musim kemarau panjang membakar hutannya.
Ya, kengerian akan datangnya musim kemarau telah menghinggapi pikiran, padahal air hujan yang tertumpah dibumi belum lagi kering. Masih segar dalam ingatan kita bencana banjir, juga tanah longsor, di berbagai daerah, tak terkecuali di Jakarta yang tidak lagi mempunyai areal serapan air. Berbagai orang menderita kehilangan harta dan bahkan anggota keluarga. Media massa banjir berita dan para relawan disibukkan dengan aksi sosial penanggulangan bencana. Bahkan sampai saat inipun mungkin ribuan koli bantuan masih mengalir ke posko-posko bencana banjir.
Betapa dasyatnya musim, betapa dasyatnya air jika tidak dikelola dengan baik, dan betapa dasyatnya hutan hijau tempat serapan air....
Kemudian teringat berita koran beberapa hari lalu tentang domba Dolly hasil kloning yang ternyata juga rentan terhadap penyakit. Begitu juga perdebatan tentang kloning manusia yang menurut beberapa pakar, kelanjutannya tidak akan berbeda jauh dengan kasus domba Dolly. Ternyata bioteknologi (termasuk di dalamnya rekayasa genetika) yang diimpikan akan meningkatkan kesejahteraan manusia di satu sisi mendatangkan konsekuensi-konsekuensi yang negatif bagi kesejahteraan umat manusia sendiri.
Lalu teringat olehku ungkapan yang mengatakan, bukan mesin atau cerobong asap merupakan pengotor lingkungan paling besar. Tetapi manusia, anda dan saya. Betapa dasyatnya manusia....
Sebenarnya persoalan siapakah semuanya ini? Akankah kita mengatakan bahwa kebakaran hutan itu kan masalahnya orang Kalimantan, banjir kan di Jakarta, dan muntaber adalah persoalan penduduk desa Air Rami? Sementara kita tinggal di alam yang sama, bumi yang sama maupun jagat yang sama pula? Kebakaran hutan di Kalimantan akan membuat langit negara tetangga berubah gelap. Produk-produk negara industri maju menyebabkan lapisan ozon berlubang dan meningkatnya suhu udara di seluruh bumi. Penebangan hutan di kawasan Puncak membuat Jakarta banjir. Dan limbah pabrik tekstil di Pabelan menyebabkan sungai di Jegon berwarna keruh dan berbau.
Baiklah kita simpan dahulu pertanyaan itu. Dan alangkah bijak jika kita menengok kabar baik yang berhubungan dengan lingkungan kita. Kabar baik tentunya akan memberi harapan bagi kita dan mendorong kita untuk melakukan hal yang sama. Kabar baik itu tentang sikap pemerintah di dua Kabupaten, Sragen dan Wonogiri, yang memilih untuk berhadapan dengan pemilik modal besar untuk melindungi masyarakatnya dari dampak pencemaran lingkungan. Sikap ini diambil melalui penolakannya terhadap peredaran pupuk cair Pandawa. Pupuk ini sendiri adalah limbah pabrik bumbu masak dari PT Palur Raya. Oleh PT Palur Raya, limbah tersebut diangkut dengan tanki kemudian didistribusikan serta dipromosikan sebagai pupuk cair dengan nama pupuk cair Pandawa.
Dalam sejarahnya, PT Palur Raya sendiri pernah menghadapi gugatan dari penduduk sekitar pabrik berhubungan dengan pencemaran lingkungan yang ditimbulkannya. Bau busuk limbah pabrik tersebut menyebar ke pemukimanan sekitar. Selain itu, rembesan limbahnya mencemari air dan tanah sehingga berakibat matinya tanaman di areal persawahan sekitar pabrik.
Setelah tidak mampu lagi menyimpan limbah yang semakin tidak tertampung, limbah tersebut di pasarkan sebagai pupuk cair. Namun sebuah penelitian yang dilakukan oleh LSM Gita Pertiwi dan Kepras menunjukkan bahwa penggunaan "pupuk" tersebut justru menurunkan hasil panen padi sekitar 27 %.
Barangkali sikap Bupati kedua Kabupaten tersebut baru satu contoh. Tapi hal ini mencerminkan perubahan sikap birokrat. Birokrat bukan hanya lembaga yang mengijinkan penambangan besar-besaran dan perusakan lingkungan untuk keuntungan jangka pendek, seperti yang terjadi di Tembagapura. Tetapi masih ada birokrat yang menaruh perhatian besar kepada masalah lingkungan hidup, sikap kepedulian terhadap bumi yang menjadi sumber kehidupan manusia. Inilah contoh bahwa permasalahan lingkungan tidak hanya menjadi urusan sekelompok orang tertentu, melainkan permasalahan dan keprihatinan pemerintah daerah, dan tentunya juga permasalahan dan keprihatinan kita bersama.
Manusia sebagai makluk paling berkuasa di bumi mempunyai potensi untuk merusak bumi, namun juga kekuatan untuk melestarikan bumi. Tindakan kecil apapun yang kita lakukan di suatu tempat akan menimbulkan pengaruh di tempat lain.
Tanggal 20 Maret adalah Hari Kehutanan Dunia, sehari setelahnya adalah Hari Air Internasional, 21 Maret. Hari ini, 22 April, kita memperingati Hari Bumi. Mungkin waktu -waktu inilah waktu yang tepat untuk memikirkan kembali keadaan bumi kita dengan segala unsur didalamnya; tanah, hutan, air, udara, hewan, dan manusia. Bumi telah semakin tua, kotor dan rusak. Meskipun kita tidak berhasil membersihkannya, paling tidak kita tidak turut menambah kotornya bumi tempat kita berpijak.