Blog EntryMP Friendship Writing Event: GiApr 15, '08 12:18 PM
for everyone

Apa kabarmu Gi?

Sudah hampir tiga minggu tak kulihat gelebatmu di seberang jendela kaca. Biasanya sepulang kerja kau akan mampir di rumah ini. Kulihat tubuhmu melewati luar jendela itu sambil menunjukkan senyum. Aku dan Panggah di dalam ruangan akan saling menatap dan berkata, “Kae, gondhes-e teko.”

Kemudian kau masuki ruanganku, sambil bertanya, “Ono kopi buk?” Lalu kau tawarkan diri membuatkan secangkir untukku sebelum bergegas ke dapur.  

Di saat suasana santai, aku dan Panggah akan “menindas” dirimu hingga kau tak berdaya. Dan kau hanya tersenyum pasrah, tak pernah ada sakit hati, dendam dan pembalasan.

Tapi kini tak ada lagi yang menawarkan kopi. Kini tak ada lagi korban penindasan kami. Semenjak kau pulang ke desa, semenjak kontrak kerjamu habis di kota ini. 

Apa yang kau kerjakan di desa Gi? Sawah kau tak punya. Sepetak tanah bengkok hak kakakmu yang pamong desa sudah dikerjakan adikmu. Menjala ikan pun kau tak mampu. Lalu, apa yang kau kerjakan di desa Gi? Bagaimana taman bacaan kecil yang kau rintis untuk mencerdaskan anak-anak desamu?

Aku belum juga mendengar kabar detil dirimu. Namun telah kudengar kabar muram dari desamu. Rencana penambangan pasir laut untuk memperoleh biji besi telah membuat resah petani lahan pasir. Kubayangkan belasan ribu petani yang akan kehilangan lahan, lubang-lubang penambangan yang menganga, dan gelombang yang akan mengikis kampung. Belum lagi ribuan pengangguran yang akan muncul, karena tak akan mudah bagi mereka beralih profesi. Lalu, para kaum muda akan memenuhi kota, menjadi buruh bergaji minim dengan tingkat hidup di bawah standar. Padahal, semula mereka petani yang mandiri, yang mengubah kegersangan lahan pasir menjadi kebun sayur dan buah yang subur makmur.  

Lalu PAD Gi… PAD dari penambangan ini akan mengalir ke segelintir orang. Toh kau sendiri tahu, PAD dari explorasi kekayaan alam tak pernah kembali ke masyarakat secara proporsional. Kau lihat Aceh, kau lihat Papua, kau lihat Riau. Tetaplah Jakarta yang kaya, meski tak punyai tambang minyak, gas dan emas.

Apa yang sedang kau pikirkan di sana Gi? Menulis ini membuatku merenungkan sejarah petani sejak jaman cultuur stelsel hingga fair trade (yang ternyata tidak fair sama sekali). Sejarah penuh kekalahan. Kekalahan melawan penguasa dan pemilik modal.  

Maafkan aku Gi, alih-alih dari menanyakan beritamu, aku malah meluapkan amarahku. Ya, saat ini hatiku penuh dengan kemarahan Gi. Kemarahan kepada negara yang tak pernah bisa melindungi petani-nya.

Gi, sesungguhnya aku rindu kamu. Sama seperti rinduku kembali ke “rumah” yang telah jauh kutinggalkan. Karena aku telah tersesat dan bersusah payah menemukan jalan untuk pulang. Namun kemarahan ini pertanda baik, karena dengan demikian aku akan segera menemukan jalan pulang.  

Aku terima sms-mu malam ini, Gi. Kau akan ke Solo di akhir pekan. Ah, aku rindu menindasmu. Hahaha… Tapi yang lebih kurindu, aku ingin tahu, apakah kau punya kemarahan yang sama dengan diriku?

Pasti tenang sekali malam ini di rumahmu Gi. Hanya suara binatang malam yang menjadi musik penghantar tidurmu. Selamat malam Gi. Gusti mberkahi engkau…

Pohon buah naga ini tumbuh di lahan pasir Pantai Glagah Kulon Progo.

NB.
Harian Kompas yang terbit pada hari Jumat, 11 April 2007 memberitakan ancaman kehancuran Pesisir Selatan Kulon Progo karena rencana eksploitasi pasir besi oleh PT Krakatau Steel di daerah pesisir selatan Kulon Progo, yang mencakup lahan seluas 2900 Ha. Nota kesepahaman antara pihak terkait, yaitu Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, PT Krakatau Steel dan PT Jogya Magasa Mining sudah ditandatangani setahun lalu.

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sudah mengeluarkan rekomendasi bagi Presiden SBY untuk mengeluarkan izinnya. Kalau benar-benar diloloskan, rencana penambangan tahun 2009 akan berjalan mulus.  

Belasan ribu petani dan termasuk 30.000 orang yang hidup dari multiplier efek kegiatan di sektor pertanian wilayah itu akan menjadi korban secara ekonomi dan social. Dan salah satu dari (hanya) tiga gumuk pasir di dunia ini pun akan rusak.


70 CommentsChronological   Reverse   Threaded
orientale wrote on Apr 15
buah naga bisa dimakan? rasanya kek apa?
mirip kecipir atasnya hehehe
carboqueen wrote on Apr 15
Mbakyu...sudah ada penerapan fair trade untuk bbrp komoditas di Indonesia? Kenapa tidak fair-nya?
haleygiri wrote on Apr 15
rasane manis berair... gak keras. piye yaaa... susah nyritainnya :D
enak pokoke, seger... :p
haleygiri wrote on Apr 15
yo ra fair lha wong sing kuat dan bermodal aja sing isoh masuk pasar.... :p
oentung wrote on Apr 15
Kowe pinter nulis yo Yu!... ajarin dong....hehehehe
nozqa wrote on Apr 15
waduuu...jadi inget gw blom posting jurnal buat event inih.
thanks for reminding, Ley...nice writing. :)
haleygiri wrote on Apr 15
halah mon... angger nulis ae kok :p
haleygiri wrote on Apr 15
ayooooo.... sapa tahu lu dapet kap keik dari ibuk! Hihihihi
nozqa wrote on Apr 15
jadi minder baca tulisan lo inih, Ley... :p
jengira68 wrote on Apr 15, edited on Apr 15
aku suka buah naga iki mbak, baru ngerti kl pohonnya kaya di gmbr.
matur suwun.
aku suka tulisan penjenengan mbak, lovely
haleygiri wrote on Apr 15
halaaaaaaahhhh.... nozqa ra mutu!!! merendahkan diri untuk meninggikan mutu...kekkekekke
tulisanmu ki penuh inspirasi dan vokabulary yg aku jarang baca... mantap!
haleygiri wrote on Apr 15
Thanks mbak Ira...
Iya, pohonnya kek kaktus.
evimeinar wrote on Apr 15
Ley, kowe pinter ngolah kata-kata.. wish aku nyerah lek dikongkon nulis
mindyjordan wrote on Apr 15
good written jeng. enak bacanya.

*makasih dah upload pohon buah naga. baru liat akuw*
iniaku wrote on Apr 15
tulisannya bagus banget Jeng
indolondo wrote on Apr 15
mbakyu, tulisanmu selalu aku tunggu, mirip sama cerpen2 yang suka kubaca kala remaja waktu itu, nulis terus ya mbakyu, biar bisa mengurangi rinduku pada kampungku ... membaca ceritamu seakan larut dalam kagalauan hatimu, mbakyu ...
setiyono wrote on Apr 15
kok koyo cerpen2 nek mbaca neng majalah2 indo...
mbok aku ditulari nggawe cerpen-e hihihih
cutyfruty wrote on Apr 15
Aduh...sedih dan prihatin ya rasanya.......
fitrids wrote on Apr 15
aaah..beneran klo pujangga ya begini ini.. nulis ngalir..lir.. tapi enak di baca walo kadang isi nya ada kepedihan .. :( tapi itulah hidup kan.. ga selalu lancar seperti jalan tol *wes..susah klo ngg'ambarin lancar nya jalan tol di tanah air..yang udah macet..cet.. aku tua di jalan deh qiqiqiqi..

it's nice to know you as my friend..*gombal lu..ah..
andisturbia wrote on Apr 15
Pancen yu. Sg sugih tambah sugih. Sing mlarat tambah sekarat. Jaman edan!
yenisfamilyblog wrote on Apr 15
Jeng,tulisanmu bagus dan enak banget dibaca,tfs ya..
debluelover wrote on Apr 15
seperti biasa, tulisan mbak Haley baguussss... :))
btw, aku juga baru liat pohon buah naga kayak gitu toh... TFS lho
hehehe
theresajackson wrote on Apr 15
Bagus tulisannya! Sayang ya kok akan dieksploitir gitu?
oetjipop wrote on Apr 15
Say...
tulisanmu bikin aku terharu....

salam buat Gi yaaa!
dwakkary wrote on Apr 15, edited on Apr 15
akhirnya jadi tau juga pohon naga tuh kaya' gini. btw, 'cerpen' di atas bagus banget, bikin aku jadi 'aku' . kangen rumah Yu? pasti ada jalannya nanti. aklu doain deh. semoga terbuka jalan lebar untuk Yu Haley dan Gi. amin
ezrakarundeng wrote on Apr 15
nah sekarang, mumpung belum ada proyek, gimana kalo mulai nulis novel atau cerpen terus dikirim.you have such talent, ley!
tentangkami wrote on Apr 15
jadi ini yang mo ditulis semalem :D... , kemaren abis makan sop buah naga yg putih... masih penasaran sama yang buah naga merah katanya lebih manis...
evaerwan wrote on Apr 15
Tulisanmu bagus sekali, Mbak Haley...bikin aku jadi ikut merenung ini.....
BTW baru tau itu pohon buah naga kayak gitu, lucu yach daun2nya.....aku taunya yach buahnya aja yang suka ada di supermarket....
ardanti wrote on Apr 16
:'(

kenapa ga dibuat PETISI ONLINE mengenai hal ini ?
kemudian dikirim by email or surat ke bapak/ibu "yang di atas".

bun2 ikutan TTD nanti.

** good written mbaaakkk **
sylvietan wrote on Apr 16
memang di-mana2 terjadi ginian, mbak Haley, dinegeri bld para petani sini juga korban aturan pemerintah.
banyak yg lari/emigrasi ke-Amerika, disana masih banyak padang rumput yg bisa di-eksploitir.
disini (neg.bld)tempat mereka di-"beli" utk bangun perumahan. Rumah makin banyak disini. Harga rumah tetap naik, tapi orang2 tak mau beli rumah lagi krn terlalu mahal.

Di-daerahmu memang kasihan para petani yg tak punya kerjaan lagi.Sudah punya presiden yg ini juga sami mawon......belum lagi klo kita persoalkan ttg orang2 sakit yg tak bisa beli obat yg murah, banyak yg mati bgt saja mbak Haley....klo punya duit, bisa hidup lebih lama lagi krn bisa bayar biaya RS, tapi betul2 RS utk rakyat biar semua afdeling bisa dibayar rakyat, belum ada...achirnya spt yg di-Kalimantan pasiën dr afdeling psychatrie hrs dirawat dirumah sendiri, menjadi bahaya utk famili dan tetangga (sumber dr sk Kalbar)
merlyna wrote on Apr 16
ah...... tulisan bagus......
mayaekt wrote on Apr 16, edited on Apr 16
tulisan mba Haley bagus deh..... perasaan ku ikutan hanyut..... lha.... di sungai kaleeee..... :)
elkaje wrote on Apr 16
melu sedih Yu
aikulnj wrote on Apr 16
Mba aku terlarut sedih baca tulisanmu...
shofadarda wrote on Apr 16
tulisan yang bagus mba :)
aku kmrn jg baca tulisan di kompas. mengharukan juga.
kebetulan aku org ESDM, tp belum tau sampe sejauh mn proses perijinin itu
salam kenal yaa
agoengadieoke wrote on Apr 16
itu yg aku sampai saat ini bngung juga,kebetulan aku kerja di sub kontraktor migas jd aku juga bngung napa malahan sebagian besar di exploitasi oleh bangsa laen,napa bangsa kita ngga bisa memaksimalkan kekayaan alam yg melimpah ruah di bangsa kita ini.
haleygiri wrote on Apr 16
Ley, kowe pinter ngolah kata-kata.. wish aku nyerah lek dikongkon nulis
tapi kowe pinter ngolah panganan pep!
ninaharada wrote on Apr 16
aku yo melu sedih ... aku kan petani juga .... hiks .. hiks ..
haleygiri wrote on Apr 16
good written jeng. enak bacanya.

*makasih dah upload pohon buah naga. baru liat akuw*
makasih dan kembali kasih mbak...:)
haleygiri wrote on Apr 16
makasih sef! *berharap dapat hadiah cup cake dari ibuk*
hahahahaha
haleygiri wrote on Apr 16
mirip sama cerpen2 yang suka kubaca kala remaja waktu itu,
anita cemerlang? hehehe... udah gak ada ya majalah itu
haleygiri wrote on Apr 16
mbok aku ditulari nggawe cerpen-e hihihih
walaaahhh... aku dewe tidak pernah merasa bisa jeee...
haleygiri wrote on Apr 16
Aduh...sedih dan prihatin ya rasanya.......
lha aku marah je mbak, kok dikau sedih? :D
haleygiri wrote on Apr 16
fitrids said
ga selalu lancar seperti jalan tol *wes..susah klo ngg'ambarin lancar nya jalan tol di tanah air..yang udah macet..cet.. aku tua di jalan deh qiqiqiqi..
yeeee... jalan tol mana yang lancar?
haleygiri wrote on Apr 16
trus sing ora edan ora keduman?
ning sing eling lan waspada luwih ... hahaha lupa lanjutannya
haleygiri wrote on Apr 16
semoga membri inspirasi...
srhida wrote on Apr 16
apik tenan tulisanmu... :)
haleygiri wrote on Apr 16
Ah Sulis.... jadi pengen maluuu... hihihi
btw juga, tapi pernah makan buah naga kan?
haleygiri wrote on Apr 16
salam buat Gi yaaa!
iya mbak, ntar salamnya kusampaikan :)
haleygiri wrote on Apr 16
Sayang ya kok akan dieksploitir gitu?
karena pemerintah mengharapkan sumber pendapatan dari tambang pasir itu mbak
haleygiri wrote on Apr 16
kangen rumah Yu? pasti ada jalannya nanti. aklu doain deh. semoga terbuka jalan lebar untuk Yu Haley dan Gi. amin
Iya mbak, kangen "rumah"... terlalu jauh sudah aku berjalan meninggalkan rumah :)
haleygiri wrote on Apr 16
nah sekarang, mumpung belum ada proyek, gimana kalo mulai nulis novel atau cerpen terus dikirim.you have such talent, ley!
hehehehehe :D
haleygiri wrote on Apr 16
kemaren abis makan sop buah naga yg putih... masih penasaran sama yang buah naga merah katanya lebih manis...
maksudnya es buah naga putih ya?
aku jg blum pernah makan yg buah merah, katanya sih demikian
haleygiri wrote on Apr 16
Tulisanmu bagus sekali, Mbak Haley...bikin aku jadi ikut merenung ini...
makasih mbak, cuman ingin menggandengkan persahabatan dengan issue petani yang pernah aku dan Gi tangani bersama
haleygiri wrote on Apr 16
ardanti said
kenapa ga dibuat PETISI ONLINE mengenai hal ini ?
kemudian dikirim by email or surat ke bapak/ibu "yang di atas".
betul juga mbak... ide bagus!
haleygiri wrote on Apr 16
memang di-mana2 terjadi ginian, mbak Haley, dinegeri bld para petani sini juga korban aturan pemerintah.
banyak yg lari/emigrasi ke-Amerika, disana masih banyak padang rumput yg bisa di-eksploitir.
Tak kusangka mbak Syl, ternyata di Belanda pun demikian ya mbak... apa pemrintah tak membri proteksi pula bagi petani disana?
haleygiri wrote on Apr 16
matur nuwun mbak, semoga menggugah...
haleygiri wrote on Apr 16
mayaekt said
tulisan mba Haley bagus deh..... perasaan ku ikutan hanyut..... lha.... di sungai kaleeee..... :)
weee... jangan hanyut dooonggg... ntar musti cari pertolongan :D
haleygiri wrote on Apr 16
elkaje said
melu sedih Yu
ojo melu sedih mbak, melu marah ae...
haleygiri wrote on Apr 16
ojo larut laaahhhh....
haleygiri wrote on Apr 16
wah, orang ESDM tho mbak? mbak, ikut advokasi ini dooonggg...
salam kenal mbak!
haleygiri wrote on Apr 16
kebetulan aku kerja di sub kontraktor migas jd aku juga bngung napa malahan sebagian besar di exploitasi oleh bangsa laen,napa bangsa kita ngga bisa memaksimalkan kekayaan alam yg melimpah ruah di bangsa kita ini.
lha bangsa kita bisa exploitasi minyak kita, tapi napa ya minyak gak kulakan kok dijual mahal, udah gitu katanya mereka selalu merugi... gileee
haleygiri wrote on Apr 16
kowe nandur opo nin?
haleygiri wrote on Apr 16
matur nuwun mbak... iki tetep ajar terus...
fitrids wrote on Apr 16
eeeehehehehhee..ternyata jalan tol di St.Louis.. **maaaaaaaaaaap... deh yaa..salah informasi..

tapi bener kan.. gara2 aku kelamaan berkendara di jalan tol JKT..yang luaar biasa muuaceet..cet.. akhir nya aku jadi tua di jalan qiqiqiqi...
shedariy wrote on Apr 17
kapan ini diterbitin yu?
perpusresepku wrote on Apr 17
Aduh cantik banget jalan ceritanya.
Ikut terhanyut dan merenung.
Dan bener sama aku juga jadi marah. Kenapa sih yah manusia ga bisa respek sama alam. 20 tahun lagi dari sekarang entah seperti apa alam disekitar kita...
mynalendra wrote on Apr 22
aku iki mesti seneng baca tulisane mbakyu siji iki wes ndang diterbitno wae tho
pephy wrote on Apr 25
Makanya aku pengen jadi orang yang kaya raya agar bisa beli tanah untuk aku buat perkebunan sayur dan buah yu, kesel juga ga bisa menikmati kesuburan tanah kita sendiri. Masa beras wae ya import.
grrrrrrrrrrr
Aku juga marah nihhhhhhhhhh
kaiserina wrote on Apr 29
tulisanmu bagus sekali...
setelah membaca cerita "Gi", perasaanku campur aduk antara sedih, marah en nelangsa gituuu ya...
sampe geregetan lho...
oh iya, salam kenal ya jeng....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help