Apa kabarmu Gi?
Sudah hampir tiga minggu tak kulihat gelebatmu di seberang jendela kaca. Biasanya sepulang kerja kau akan mampir di rumah ini. Kulihat tubuhmu melewati luar jendela itu sambil menunjukkan senyum. Aku dan Panggah di dalam ruangan akan saling menatap dan berkata, “Kae, gondhes-e teko.”
Kemudian kau masuki ruanganku, sambil bertanya, “Ono kopi buk?” Lalu kau tawarkan diri membuatkan secangkir untukku sebelum bergegas ke dapur.
Di saat suasana santai, aku dan Panggah akan “menindas” dirimu hingga kau tak berdaya. Dan kau hanya tersenyum pasrah, tak pernah ada sakit hati, dendam dan pembalasan.
Tapi kini tak ada lagi yang menawarkan kopi. Kini tak ada lagi korban penindasan kami. Semenjak kau pulang ke desa, semenjak kontrak kerjamu habis di kota ini.
Apa yang kau kerjakan di desa Gi? Sawah kau tak punya. Sepetak tanah bengkok hak kakakmu yang pamong desa sudah dikerjakan adikmu. Menjala ikan pun kau tak mampu. Lalu, apa yang kau kerjakan di desa Gi? Bagaimana taman bacaan kecil yang kau rintis untuk mencerdaskan anak-anak desamu?
Aku belum juga mendengar kabar detil dirimu. Namun telah kudengar kabar muram dari desamu. Rencana penambangan pasir laut untuk memperoleh biji besi telah membuat resah petani lahan pasir. Kubayangkan belasan ribu petani yang akan kehilangan lahan, lubang-lubang penambangan yang menganga, dan gelombang yang akan mengikis kampung. Belum lagi ribuan pengangguran yang akan muncul, karena tak akan mudah bagi mereka beralih profesi. Lalu, para kaum muda akan memenuhi kota, menjadi buruh bergaji minim dengan tingkat hidup di bawah standar. Padahal, semula mereka petani yang mandiri, yang mengubah kegersangan lahan pasir menjadi kebun sayur dan buah yang subur makmur.
Lalu PAD Gi… PAD dari penambangan ini akan mengalir ke segelintir orang. Toh kau sendiri tahu, PAD dari explorasi kekayaan alam tak pernah kembali ke masyarakat secara proporsional. Kau lihat Aceh, kau lihat Papua, kau lihat Riau. Tetaplah Jakarta yang kaya, meski tak punyai tambang minyak, gas dan emas.
Apa yang sedang kau pikirkan di sana Gi? Menulis ini membuatku merenungkan sejarah petani sejak jaman cultuur stelsel hingga fair trade (yang ternyata tidak fair sama sekali). Sejarah penuh kekalahan. Kekalahan melawan penguasa dan pemilik modal.
Maafkan aku Gi, alih-alih dari menanyakan beritamu, aku malah meluapkan amarahku. Ya, saat ini hatiku penuh dengan kemarahan Gi. Kemarahan kepada negara yang tak pernah bisa melindungi petani-nya.
Gi, sesungguhnya aku rindu kamu. Sama seperti rinduku kembali ke “rumah” yang telah jauh kutinggalkan. Karena aku telah tersesat dan bersusah payah menemukan jalan untuk pulang. Namun kemarahan ini pertanda baik, karena dengan demikian aku akan segera menemukan jalan pulang.
Aku terima sms-mu malam ini, Gi. Kau akan ke Solo di akhir pekan. Ah, aku rindu menindasmu. Hahaha… Tapi yang lebih kurindu, aku ingin tahu, apakah kau punya kemarahan yang sama dengan diriku?
Pasti tenang sekali malam ini di rumahmu Gi. Hanya suara binatang malam yang menjadi musik penghantar tidurmu. Selamat malam Gi. Gusti mberkahi engkau…
Pohon buah naga ini tumbuh di lahan pasir Pantai Glagah Kulon Progo.
NB.
Harian Kompas yang terbit pada hari Jumat, 11 April 2007 memberitakan ancaman kehancuran Pesisir Selatan Kulon Progo karena rencana eksploitasi pasir besi oleh PT Krakatau Steel di daerah pesisir selatan Kulon Progo, yang mencakup lahan seluas 2900 Ha. Nota kesepahaman antara pihak terkait, yaitu Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, PT Krakatau Steel dan PT Jogya Magasa Mining sudah ditandatangani setahun lalu.
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sudah mengeluarkan rekomendasi bagi Presiden SBY untuk mengeluarkan izinnya. Kalau benar-benar diloloskan, rencana penambangan tahun 2009 akan berjalan mulus.
Belasan ribu petani dan termasuk 30.000 orang yang hidup dari multiplier efek kegiatan di sektor pertanian wilayah itu akan menjadi korban secara ekonomi dan social. Dan salah satu dari (hanya) tiga gumuk pasir di dunia ini pun akan rusak.