 Entah karena membaca referensi apa, sehingga teman saya Titik sangat ingin mengunjungi Trunyan pada kunjungan pertamanya ke Bali ini. Kuburan Trunyan sendiri sangat terkenal karena mayat penduduk disana diletakkan begitu saja hingga menjadi kerangka di bawah pohon kemenyan (Trunyan= taru - menya = kayu kemenyan) yang menyerap bau mayat tersebut. Aku sendiri--meski mendengar banyak cerita miring tentang orang-orang di daerah itu--serasa tak ingin memintanya melupakan Trunyan. Akhirnya pergilah kami berdua ke Trunyan dan mengalami wisata paling menegangkan di Bali. Siang itu perjalanan dari Ubud ke Penelokan, lalu turun ke dermaga Danau Batur kami lalui dengan aman. Kami sampai di Dermaga lebih awal dari waktu yang kami perkirakan. Baru saja mobil sewaan yang kami pakai masuk ke pelataran parkir, kami sudah dirubung calo perahu motor yang menawarkan jasa. "Baik Pak, tapi biarkan kami parkir mobil dulu yaaa..." Selesai parkir, lebih banyak lagi orang yang merubung kami. Tidak hanya calo, tapi juga orang yang menawarkan jasa cuci mobil, ibu-ibu pedagang asongan, yang menawarkan jasa pijat, bahkan juga kepang. Sigh... Sungguh suasananya tak nyaman. Bahkan sampai dermaga tepi danau pun para pedagang asongan ini masih mengelilingi kami dan tak henti merayu. "Mbak, mari kami antar ke Trunyan..." "Berapa ongkosnya pak?" "Untuk boatnya saja Rp 275.500,- mbak, itu baru sewa boat, belum termasuk asuransi, retribusi, guide dan retribusi disana... Jadi totalnya Rp 400.000,-" "Hmm... " aku hanya bergumam... "Gimana mbak?" "Kalau barengan dengan orang lain?" "Akan lama mbak nunggunya..." Memang benar, kalau berbarengan dengan orang lain kita tidak akan jelas kapan waktu berangkatnya, karena saat itu hanya kami berdua wisatawan yang ada di dermaga. Aku sendiri tidak langsung menawar atau mengiyakan tawaran tersebut. Aku berjalan ke arah pos retribusi, dari jauh kubaca tulisan besar di papan dekat pos retribusi bahwa harga Rp 275.500,- per boat sudah termasuk asuransi dan retribusi (belakangan, saat ketegangan selesai, aku baru tahu bahwa harga itu juga termasuk donasi, dll) "Gimana mbak? Itu boatnya sudah siap, tinggal berangkat." "Kalau mau seharga boatnya Pak... Rp 275.500,-" jawabku menawar. "Itu baru sewa boatnya mbak, belum asuransi dan retribusi." "itu saya baca sudah termasuk asuransi dan retribusi." "Itu baru retribusi disini mbak, belum retribusi disana." "Mana ada retribusi ditarik dua kali. Sama saja dong disini dan disana." Akhirnya kutawar lagi dengan harga Rp. 300.000,- pas tak akan nambah lagi. "Wah, belum bisa mbak kalau segitu." "Ya sudah kalau gak bisa, saya kesana saja." Jawabku sambil berjalan ke arah pos retribusi. Akhirnya calo itu mengiyakan penawaran terakhirku. Berangkatlah kami naik perahu motor itu. Sebelum naik perahu, kami memakai bantuan bangku papan (dingklik) untuk meloncat ke perahu, supaya kaki kami tidak terkena air. Bapak "pemilik papan" tersebut meminta uang untuk jasa yang diberikan. Aku pikir aneh sekali, bukankah ini seharusnya service pemilik perahu? Dengan santai kujawab, "Maaf gak ada, minta saja bapak itu." sambil kepalaku menunjuk ke arah bapak calo. Ketegangan Pertama DimulaiPerjalanan agak menegangkan ketika air berkecipat besar hingga masuk ke perahu. Kulihat perahu ini tanpa peralatan pengaman. Tak satupun pelampung tersedia. Aku dan Titik saling menatap dengan pandangan tegang sambil mengamati sekeliling perahu. "Harus siap-siap membangunkan Yesus kalau terjadi angin ribut di tengah danau..." kataku sedikit bergurau untuk mengendurkan ketegangan, sambil mengingat cerita Yesus meredakan angin ribut di Danau Galilea. Ah, untuk kali ini masih sempat tersenyum. Perjalanan sekitar 30 menit di tengah danau dikelilingi pemandangan indah Gunung Batur. Sebelum sampai di kuburan, kami melihat perahu yang berisi banyak orang berangkat dari desa dekat situ. Kami berdua berpikir, mungkin rombongan turis seperti kami juga. Ketegangan Kedua TerasaTak berapa lama kami sampai di kuburan desa Trunyan. Tak seorangpun turis yang ada disitu kecuali kami berdua. Rombongan perahu dari desa terdekat ada di belakang kami. Berisi kurang lebih 6 orang laki-laki dewasa, penduduk setempat. Ternyata inilah rombongan "penyambut" kami. Salah satu dari mereka berjalan sangat cepat mendahului kami, menuju pekuburan. Tadinya aku pikir mereka menunjukkan jalan untuk kami. Ternyata jalannya begitu cepat jauh di depan kami. Sementara orang-orang yang lain berusaha menahan kami dengan mengajak berbincang. "Darimana mbak?" Tanya salah seorang dari mereka. Saya agak kaget, karena sapaannya terdengar agak kasar dan mengintimidasi, bukan sapaan ramah para penyambut tamu. "Dari Solo Pak." Kujawab sopan "Sudah pernah kesini?" Pertanyaan yang menurutku tak penting dan tak relevan... "Sudah." Kujawab singkat dengan berbohong, karena instinkku memberikan sinyal yang negatif atas pertanyaan tak relevan tersebut. Ketegangan BerlanjutSampai di depan gerbang kuburan, aku mengambil beberap potret. Dan para lelaki itu  mengerubungi kami. Sungguh aku merasa tak nyaman dan tak aman. Kami hanya berdua, perempuan tak berdaya, di tengah danau yang sunyi dengan dikelilingi banyak laki-laki dewasa yang tak kami kenal dan berbicara dengan nada kasar. "Mari mbak mendekat. Mari sini lihat kuburannya. Masih ada mayat yang blum lama dikubur." "Mari, tak apa-apa... tidak bau kok" "Itu jajaran tengkorak yang sudah kami beri upacara. Angkat saja tengkoraknya." Kemudian kami mendekat ke pekuburan dengan sedikit ragu-ragu. Agaknya gerak keragu-raguan ini tertangkap oleh mereka. "Katanya pernah kesini, kok takut?" Sebenarnya bukan pekuburan itu yang membuat kami merinding, tapi para lelaki itu yang membuat kami merinding. Salah seorang dari mereka menjelaskan kepada kami tentang kuburan tersebut. Kami manggut-manggut saja. Entah mengapa kami serasa tak ingin banyak bertanya. Ada perasaan kawatir pertanyaan kami akan dimanipulir dengan tindakan tertentu. Sigh...  Secepatnya aku mengobservasi wilayah dan membuat foto seadanya. Ketegangan dan ketidak nyamanan mengusikku dan membuatku ingin segera mengakhiri kunjungan ini. Setelah selesai, kami diminta untuk mengisi uang di besek yang telah tersedia. Di besek itu kami melihat beberapa lembar uang seratusan ribu. Mungkin sebuah pancingan. Tapi uang itu tak berhasil memancing kami. Aku hanya memberikan uang Rp. 10.000,- Karena yang diberikan tidak seperti yang mereka harapkan, salah seorang berkata, "Tolong ditambahkan supaya sama dengan yang sudah ada." Meski memakai kata "tolong", tapi tekanan memerintah terdengar dari kalimatnya. "Maaf pak, kami tak punya banyak uang." Kudengar laki-laki yang lain, yang melihatku merogoh uang dari dompet, bicara pada temannya dengan bahasa Bali yang kurang lebih mengatakan bahwa uang di dompetku hanya duapuluhan dan sepuluhan ribu. Yah, memang tinggal itu, dan selembar lima ribuan. Masih merasa kurang puas, lelaki yang lain juga meminta Titik yang dari tadi diam untuk menaruh uang ke dalam besek. "Ayo, mbak yang satunya juga mengisi." Karena tak ingin diperdaya, kuminta Titik mengisi sejumlah sama denganku. Lalu kami berjalan keluar pekuburan secepatnya. Para lelaki itu mengikuti kami sambil terus berkata-kata. "Mbak, perlu mbak tahu, uang yang mbak taruh itu tadi untuk kas desa, bukan untuk kami. Sekarang kami minta uang jasa karena kami sudah memberikan penjelasan kepada mbak." Karena tak ingin memperlama tinggal disana, aku segera merogoh kantong, dan kuambil uang lima ribuan. "Ini pak..." Kuserahkan pada seorang lelaki yang meminta. Lelaki tersebut tak mau menerima karena terlalu sedikit. "Ya kami cuma bisa memberi ini." kataku sambil memasukkan lagi ke dalam dompet. Tapi seorang bapak meminta lagi. Diucapkanlah kalimat yang sama dengan nada yang terdengar seperti intimidasi. "Ya cuma ini yang bisa kami berikan. Kalau bapak tidak mau menerima ya sudah." Akhirnya diterima pula uang tersebut oleh seorang lelaki yang sebenarnya tidak banyak berperan dalam misi penyambutan tersebut. Kami sudah benar-benar merasa tak nyaman dan tak aman sehingga Mempercepat langkah menuju perahu. Seorang lelaki di depan perahu menaruh bangku panjang, tapi dari pengalaman pertama kami tak memanfaatkan bangku panjang tersebut. Kulangkahkan kaki segera memasuki perahu, tanpa menginjak bangku panjang tersebut. Saat perahu bergerak, dua buah kano di kanan kiri perahu merapat dan orang di dalam kano tersebut mengemis meminta sedekah. Perahu berlalu menjauh dari wilayah pekuburan. Hingga di menyeberangi danau kami baru bisa menghilangkan sedikit ketegangan. Bagiku ini pengalaman wisata yang sangat menegangkan. Tak lebih dari lima menit, tapi sangat mencemaskan. Sesungguhnya aku bukan seorang penakut, tapi sebagai perempuan diantara para lelaki dewasa dengan tindakan dan perkataan yang mendekati intimidasi, serta di tengah wilayah yang tak dikenal, sungguh pengalaman yang membuat kami sangat cemas dan tak nyaman. Cukup sekali saja. Sayang, ternyata sejak puluhan tahun lalu kudengar cerita miring tentang orang-orang di Trunyan, semua itu tak jua berubah. Ternyata tak semua tempat wisata di Bali indah dan damai...
 | 3astwest wrote on Dec 18, '07, edited on Dec 18, '07 OMG........serem banget mba Haley....gw bacanya merinding (sama itu orang2 kurang ajar) pantesan aja sepi...abis turisnya di porotin gitu ya.......bikin malu deh tuh orang2! itu mah penodongan tuh........kalian aja yg orang indonesia abis di plorotin gitu apalagi turis asing ya.......
thanks laporannya mba....kita enggak akan ke Trunyan kalo jalan2 ke bali |
 | OOhhh udah ku duga, ...banyak cerita miring kalo ke Trunyan ;-( |
 | iya bener Haley... waktu kami bersama Bamby yang msih 4 tahun jalan kearah panelokan kami juga dirubung bahkan ditarik2...kasar banget.... akhirnya kami loncat lagi kedalam mobil, bamby kami angkat dengan segera sampai kaget karena kami schock berat dengan perlakuan kasar mereka...
Ternyata sampai sekarang masih begitu....kenapa ya pemerintah bali gak menertibkan daerah sana.... padahal bali pada umumnya ramah tapi disana beneran deh menakutkan...
kamu malah masih berani nyebrang, saya malah udah patang arang duluan lihat kasarnya penyambutan di dermaga panelokan...
Duh hati2 ah Haley kalau udah mengerikan gitu mbok ya jangan diteruskan...... |
 | lain kali kalo mo liat pegi ke kamar mayat aja Haley..he..he..he..gratis lagi dan nggak ada intimidasi...he..he..he..palingan kalo ada mayat bangun.... |
 | emang pernah ada kasus mayat bangun lagi dokter ? ceritain dong... |
 | Iya ada, itu pas posma dikerjain anak senior yang pura pura jadi mayit...ha..ha..ha.. |
 | kirain mati suri...kan ada juga kasus mati suri ya yang bangun lagi ? |
 | aduuuuuuuuh... aku ikutan tegang baca nya.. dari awal sampe abis tahan napas.... aaah.. ga nyaman amat siy say perjalanan kamu.. trus klo dah balik gini bikin evaluasi... pasti bilang nya : Ngapain juga jalan2 ke kuburan yaa ... :( beneran ga asyiik deh... tapi gpp pengalaman kan guru yang paling menyenangkan yaa.. laaah.. sampai hari ini aku malah lom pernah berani nyebrang.. pertama karena begitu liat danau nya dah nggak nyaman sendiri hihihihi... |
 | wajanpanci wrote on Dec 18, '07, edited on Dec 18, '07 kayaknya di bali udah banyak calo dan pedagang yg nawarin jasa gitu ya? di phuket jg gitu sih, tapi kayaknya masih lebih terkendali. so far, dr jalan2 wisata gitu, yg paling sip di kota kinabalu, gak bercalo ria gitu. tu calo2 bikin sebel aja deh... terus terang kadang aku lebih waswas jalan2 di indonesia daripada di thailand atau di malaysia.
thanks ya for sharing the experience. so pasti gak akan deh aku ke trunyan. |
 | sudah berkali2 dengar cerita trunyan yang sangat menyebalkan dari orang asing, orang indoenesia non bali sampai orang bali asli, semua kesal dengan sikap mereka eh sekrang dengar lagi, gak kebayang kalau itu terjadi sama turis asing bahkan pedagang acung di sekitar daerah tersebut juga tergolong nekat dan maksa... |
 | *sigh* kami kalo ke Bali paling males ke tempat2x wisata. Abis dirubungin orang melulu...mirip lalat. Dari kasihan sampe benci. So at the end, biasanya kalo kami ke Bali yah tinggal di resort saja...nyante berleha2x...damai dan aman... |
 | ckckckkck...nyeremin banget ya mbak Haley.. kalo kayak begini gimana industri pariwisata mau maju..lha wong gak bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan buat para wisatawannya.. entah itu mau lokal maupun mancanegara.
dulu aku terakhir ke Bali gak sempat ke Trunyan.. padahal sepertinya menarik sekali. cuma kalo caranya kayak cerita di atas.. ih, males banget deh.
di kotanya aja, kadang udah gak gitu nyaman buat cewek jalan apalagi sendirian.. suka digodain sama pria2 Bali lokal yang kadang suka mengira kita turis dari mana gitu yang memang kadang suka ada yang memakai 'jasa' mereka untuk urusan senang2.. ih, males lagi deh.. |
 | thanks buat infonya ya... ntar kalo kapan2 jadi ke bali, kalo citranya gitu, suami gw makin males aja ke indo. |
 | Waduh seyem banget, untung gak diapa-apain Haley! Lain kali jangan! Tp tulisannya menarik! TFS! |
 | Aku th 82 kesana rame-2 sama teman-2 kuliah : 7 cowok , 2 cewek. Ditengah-2 danau waktu perjalanan pulang motor perahu tiba-2 "rusak", sedang langit mendung gelap. kami "disarankan" untuk pindah ke perahu temannya dengan membayar sejumlah uang. Wong masih mahasiswa, sangu terbatas ... kami sepakat ga kasih duit tambahan. Pokoke kalau pindah perahu biaya atas tanggungan pemilik perahu pertama. Hh... kami diombang ambingkan ditengah danau ... Aku ada perasaan takut juga. Teman-2ku tetap ngotot ga mau bayar dan ngomong dengan suara tinggi gaya suroboyoan akhirnya motor yg "rusak" itu bisa jalan lagi. Sampai ditepi danau luega...... |
 | itulah knp daku mualez banget maen kesono sini klo lg di Bali, cuman wisata makanan ajah... hehe, dulu sebulan bs 2x ke Denpasar (soale kerumah mbakyu-ku) tp ndak kemana2, mlungker wae di dalem kamar.. alias pindah tidur doank, hihihi.... keluar rumah klo mau cari makan ato nungguin ponakan maen air di sanur |
 | halah...visit Indonesia 2008 cuma slogan belaka. objek wisatanya nggak di benahi, malah jadi kayak sarang preman. sayang skali ya Yu.... ini objek yang unik dan menarik sebenarnya |
 | duhhh jd pengen ke BAli nih....
TFS buat tulisannyaaa |
 | Menyebalkan sekali ya, aku so pasti nga bakal ke Trunyan. |
 | Bali selalu mempunyai anggapan setiap wisatawan selalu "berduit". BTW, aku belum pernah ke Trunyan. Yg penting Mbak selamat n masih dilindungi. |
 | Weks ... Kalo mau judes tapi berdua doang ditengah danau, aku bisa stress tuh mbak diintimidasi orang tapi nggak bisa ngelawan huhuhuhu, syukurlah nggak kenapa - napa. Cobo tuh oknum - oknum dipoto terusan dipasang dimana aja dengan tulisan 'beware', hehe!! |
 | iya bener Haley... waktu kami bersama Bamby yang msih 4 tahun jalan kearah panelokan kami juga dirubung bahkan ditarik2...kasar banget.... akhirnya kami loncat lagi kedalam mobil, bamby kami angkat dengan segera sampai kaget karena kami schock berat dengan perlakuan kasar mereka...
Ternyata sampai sekarang masih begitu....kenapa ya pemerintah bali gak menertibkan daerah sana.... padahal bali pada umumnya ramah tapi disana beneran deh menakutkan...
kamu malah masih berani nyebrang, saya malah udah patang arang duluan lihat kasarnya penyambutan di dermaga panelokan...
Duh hati2 ah Haley kalau udah mengerikan gitu mbok ya jangan diteruskan......  Soal dikerubutin pedagang asongan, menurutku sekarang sudah lebih tertib tinimbang 10 - 20 tahun lalu, tapi tetep aja ada yg ngrubutin pas di Kuta dan di Trunyan ini... padal kita wisatawan kan gak selalu ingin membeli barang/cenderamata, pinginnya jalan2 ngliat-ngliat pemandangan, mengenal budaya, dan juga wisata kuliner...
Aku juga heran, kenapa ya sejak puluhan tahun lalu pelaku wisata di wilayah itu tak pernah merubah diri dan memperbaiki citra. Coba klo orang-orangnya ramah, pasti akan lebih banyak wisatawan berkunjung kesana, apalagi pemandangan danau dan Gunung Batur indah banget. Klo dah banyak wisatawan, pasti penduduk pun lebih sejahtera, apalagi klo mereka bisa diorganisir sebagai penyelenggara wisata, dan bukan orang asing/pendatang yang menjadi penyelenggara wisata.
Hehehe... ya memang darah muda masih suka nekat mbak. Mesti denger cerita miring, tetep aja pengen pergi. Tp sekarang dah ngrasain gak enaknya, gak mau ngulang ah! |
 | Huehuehuehue... ayo ke Baliiiiiiiiii... |
 | cerita yang berharga...buat pengalaman dan ancer2 thanks mbak haley. |
 | cutyfruty wrote on Dec 19, '07, edited on Dec 19, '07 Ternyata nggak cuma di Besakih saja to acara pemerasan kayak gini. Waktu itu kami ke Besakih dan maunya mereka nih kami memakai jasa guide di sana. Ketika kami tanya harganya berapa, dia bilang tarifnya US$100 per jam (atau per sekali layanan lupa). Lha kok mahal banget yak. Kami bilang nggak perlu. Dia bilang soalnya daripada nggak ada yang pake jasa guide. Lha kalau caranya kayak gitu, gimana turis mau pake coba? Orang yang datang ke sana kan nggak selalu orang kaya.... |
 | bener banget deh... mau wisata aja kayak mau di palak ya duluuu, waktu jaman SMA study tour ke Bali ... sebetulnya sih guide udah bilang kalo di sana ga boleh megang2 barang yg dijajakan kecuali YAKIN BELI.
laah... antara sadar ga sadar...megang patung kayu yg dibawa ibu2 di sana.....kebiasaan di jakarta kali yaa, maunya liat2 dulu.... ya ampyuuun....aku diuber terus...padahal udah sampai pura2 ke toilet, mau ngumpet dulu. taunya pas aku keluar toilet, tuh ibu nungguin aku di depan pintu toilet...gubraksss....
ya udah, dibeli aja, padahal sumpah ga bagus2 amat dan ga terlalu maksimal manfaat patung kayu itu buat aku...
|
 | Lain kali ke Ceningan aja deh. Yang mengelola masyarakat tapi diorganisir oleh sebuah LSM di sana. Mungkin nampak mahal, tapi kalau melihat pelayanannya sih top. Tapi siapa tahu lho, ada tarif domestik dan tarif internasional. Kalau kami dulu dapat korting karena aku orang LSM. he...he...he... |
 | Thanks mbak infone... brusan aku jg dapat info ttg yayasan wisnu ini... next trip aku mampir ceningan deh...
Bener banget tu, kulihat di Bali, terutama di daerah pedesaan, masyarakat Bali jadi penonton gegap gembita wisata disana. Meski ada juga yg jadi penerima manfaat. Bayangpun, di dekat resort yang harga kamarnya ratusan hingga ribuan dollar sehari, ada masyarakat petani yg hidup sangat sederhana dari bertani rumput laut... sigh! |
 | aku melu tegang mbacanya mbak, sampe dalam hati maaf yo... memakimu... gendeng ik mbak haley, wis krungu2 trunyan kayak gitu kok nekad. aku beberapa kali kesana ga tertarik ke trunyan-nya, selain udah denger cerita2 ga enak... memang ga tertarik. palagi ini malah baca testimoni-mu. |
 | aku ke trunyan waktu masih SMA kiran tahun 85-an deh. Sampe sekarang masih begitu ya .. ck.. ck.. ck. Makanya cukup sekali aja ke trunyan, bukan kapok krn serem sama tengkorak, tp ya .. krn orang2 itu. |
 | ceretch wrote on Dec 19, '07, edited on Dec 19, '07 Mbak Haley dan ibu-ibu sekalian (kebanyakan ibu-ibu kan yah he he he :P)
Trunyan memang sangat sangat tidak recommended untuk jadi tujuan wisata, apalagi kalo cuman berdua saja ce jalan. Warga desa situ memang entah kenapa mentalnya preman dan matre. Sepi dari wisatawan trus malah maksa biar laku. Padahal itu kan malah blunder ... sekarang bisa dapet uang dari meres tapi orang yang diperes kasi kabar ke 100 orang, makin pada ga mau datang kesana.
Sayang sekali sih, sebab sebenernya desa itu indah sekali, salah satu tempat favoritku di Bali.
Kalau emang kebelet mau ke Trunyan, usul saya jangan lewat dermaga situ. Pergi ke Kedisan Resort yang terletak di sesudah demaga, milik Bapak Wayan Rena. Disini bisa makan enak, leyeh2 dengan nyaman menikmati keindahan danau dan kalau memang benar2 pingin ke Trunyan, mintalah ditemani ke Trunyan ama mereka.
Keluarga Pak Wayan ini sahabat baik saya, sekeluarga super baik dan ramah. Masakan ibunya juga juara se-bali kata saya mah. Saya sudah pernah merekomendasikan tempat ini ke banyak orang dan belum ada yang kesana dan ga betah. Semuanya ga pengen pulang ...
Saya rutin bolak balik ke Bali minimal sekali setahun, biasanya jalan berdua ce naik mobil menjelajah pelosok Bali dan sampe saat ini alhamdulilah aman-aman saja. Harus pinter-pinter baca situasi sih, belajar tegas menolak para pedagang acung. Bilang saja "Ten" (= tidak, dibaca seperti ten angka sepuluh, tapi t nya mbali ya :P)
Salam, Cindy |
 | Mbak Cindy, thanks a lot infone. Aku bru baca ttg Kedisan kemarin --notabene setelah pulang dari Bali-- soale pas mo brangkat dulu gak sempat cari2 info macem2... sibuk banget dioyak setoran. Pokoke thanks infone, tapi keknya gak pengen ke Trunyan lagi deeh... Hahahaha... Klo mampir ke Kedisan sih oke ajaa... wong memang pemandangan memang disitu indah banget!!!
Aku jg ngerasa aman kok jalan berdua kemarin... pegnen mengulang suatu saat. Tapi pas ke Trunyan bener2 cemassssss!!! Rasanya kaki ini pengen langsung bisa dipake terbang nyebrang danau... wekekekek... |
 | waduh , emang lebih serem daripada liat mayatnya bangun ya haley .. |
 | Ya Ampun jeng...untung ngga pa..pa.. tempat wisata kok jadi horor gitu sih...TFS siapa tau punya rezeki pulang ke Indo jadi ngerti deh... |
 | wah medenin mbak... ndak berani kesana hehe |
 | tahu koq, indo bukan hanya bali... :D dia gak betah panas dan polusinya. kali dari pengalaman di jkt, jadi rada2 kapok gitu. |
 | kalo di indonesia (jakarta, gak tahu kalo di kota lain), aku udah gak berani lagi jalan kaki malem2 sendirian karena banyak orang isengnya. kadang ada yg demen toel-toel 'anu', sembari jalan sembari tangannya main nyamber aja. belum lagi premannya. kan banyak tuh, kadang2 di tikungan, tukang ojek pada ngegerombol, bikin sebal aja kadang2 kelakuannya.
di thailand (bangkok, chonburi, phuket, ko samui) dan di malaysia (jb, kuala lumpur, klang) masih relatif lebih aman (menurut pengalaman saya lho ya). pas lagi di thailand dan di malaysia, aku masih berani jalan sendiri keluar dari hotel, cari makan malam atau balik dari toko ke hotel, sembari jalan kaki. ya tentunya sih gak lewat jalan2 yg gelap dan sepi sih. |
 | nah.... kapoook kan ke Trunyan... he he :)) |
 | modjo wrote on Dec 19, '07 kok medeni sih mba... aku kira ceritanya bakalan mengarah ke yang magic2... ehh lha kok ini malah orang beneran.. malha lebih medeni.. kok bisa ya mrk kay agitu? apa krn tinggal di kuburan? jadi 'gelap'? :P |
 | Bener... kata turis Aussie yang ketemu di Ubud, dia bilang disana many crazy people... Jadi deh aku ga kesana... |
 | tangisan pelajar trunyan? apa kami begitu rendahkah, dimata masyarakat luar........disaat melanjutkan keSMP, SMA kami sering dapat cemohan, cibiran, dan kata-kata yang tidak mengenakan sering kami dengar/dapat, tidak jarang dan sedikit anak-anak trunyan putus sekolah karena tidak kuat mental untuk menerima semua itu! saya sangat beruntun bisa bertahan duduk di bangku kuliah sampai detik ini. kami akan buktikan bahwa orang trunyan bisa untuk mempebaiki citra trunyan itu sendiri di kemudian hari dan tunggu perubahannya delapan tahun lagi.kami tunggu kedatangannya para pencinta aset negara ini yang langka dan unik.mohon doa dan dukungannya?.......tapi kami tetap butuh masukan dan dukungan dari kaum intelektual, pemeritah, tolong carikan solusi dan jangan kami dijadikan anak tiri!. kami pengen hidup lebih baik....cobalah buka hati nurani bapak-bapak/ibu-ibu! kami tahu dan sadar bahwa pohon tarumenyan hanya ada satu didunia, yang mampu menyerap bau mayat! apa bapak-bapak/ibu-ibu tega melihat ombyek wisata trunyan ancur karena perbuatan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab?tapi coba pikirkan apabila ini sampai terjadi yang merasa kehilangan bukan, hanya masyarakat trunya ,tetapi Bali bahkan Indonesia....tolong kami bukan uang/harta, tapi solusi dan cara-cara mengolah pariwisata yang baik dan benar yang kami harapkan ? trim'sya.........jaya |
 | Kawan Rully, yang pertama harus dilakukan tentunya mengubah mental penduduk disana dari sebagai peminta-minta dan pemeras menjadi tuan rumah yang baik. Kalau sebuah tempat wisata dikelola dengan baik, fasilitas tersedia dan gampang diakses, penduduknya pun ramah-ramah, niscaya akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat disana. Apalagi seperti Trunyan mempunyai keistimewaan yang kawan Rully sampaikan bahwa pohon itu sangat unik dan satu-satunya di dunia. |
 | TFS Wah ...wah.. pemberani |
 | Wah...makasih banyak ya, udah sharing cerita Trunyan-nya. Kirain yang miring-miring di Trunyan teh jadul doang...ternyata masih aja ya! Padahal rencananya pengen kesana liburan besok, gini caranya sih, sorry dorry morry. Kecuali lewat Kedisan kali ya! Mudah2an Pak Wayan-nya mau nemenin..penasaran juga euy soalnya mo lihat 'dibawah' pohon kemenyan itu..siapa tahu ada 'decomposing body'... |
 | yang bener ini mbak wah gawat padahal aku mo hunting kesana nih... |
 | hahahaha... persis sekali yang aku alami! ada di site aku tuh trunyan! hahaha....
kapok dah!
aku baca kisah ini, sampe merinding, mengingatkan dengan apa yang aku alami, sama persis!!! |
| |