Blog EntryLeuit - LumbungNov 28, '07 5:27 AM
for everyone


Leuit atau lumbung tempat penyimpanan padi adalah salah satu kearifan lokal di dusun Ciomas Desa Ciusul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Jumlah lumbung yang dimiliki oleh satu kepala keluarga minimal sebuah, selebihnya tergantung pada luas lahan dan hasil panen yang dimiliki.
 

Di desa ini rata-rata setiap rumah tangga mempunyai 5000 m2 sawah berpengairan teknis dan/atau ladang. Sawah ditanami satu kali dalam satu tahun dengan menggunakan benih padi varietas lokal. Masa tanam padi ini adalah enam bulan. Diantara puluhan jenis yang ada, terdapat lima jenis padi yang paling sering ditanam. Tiga diantaranya ialah padi yogya yang berwarna hitam, padi seksek yang berwarna merah, dan padi pete yang berwarna putih.

Hasil panen akan disimpan dalam bentuk pocong. Setiap pocong terdiri dari 3 ikat dimana tiap ikat seukuran genggaman tangan orang dewasa. Satu pocong padi jika diwujudkan dalam bentuk beras kurang lebih menghasilkan 3 liter beras.

Untuk setiap 100 pocong hasil panen, setiap KK harus memberikan 1 pocong untuk persediaan di lumbung desa. Padi yang disimpan di lumbung desa digunakan untuk keperluan acara adat dan untuk membantu warga yang mengalami kesusahan.


Salah satu kebijakan adat yang berhubungan dengan padi ialah larangan menjual beras dan nasi. Bila terpaksa melakukan penjualan, Warga hanya diperbolehkan menjual padi yang belum digiling, atau masih berbentuk pocongan. Penjualan padi pun terbatas untuk keperlukan proses produksi berikutnya, misalnya untuk membeli pupuk, atau membeli tanah sawah. Sementara untuk keperluan konsumtif dan menyekolahkan anak, masyarakat akan memakai uang hasil usaha lainnya, yaitu berdagang, menambang emas, atau menjadi kuli.

Untuk menghasilkan beras, sebagian masyarakat kadang kala masih menggunakan lesung untuk menumbuk dan melepaskan bulir padi dari kulitnya. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu. Hasil sampingan tumbukan padi ini digunakan sebagai pakan ayam, biasa disebut bekatul. Padi yang ditumbuk diyakini menghasilkan rasa beras yang lebih enak daripada beras yang digiling di penggilingan.

Leuit, atau lumbung, adalah cara masyarakat Ciomas menjaga ketersediaan pangan mereka sampai masa panen berikutnya. Untuk apa impor beras kalau kita bisa membangun ketahanan pangan kita?



32 CommentsChronological   Reverse   Threaded
shedariy wrote on Nov 28, '07
Indonesia harusnya tidak pernah impor beras, kalau semua energi yang kita punyai dikonsentrasikan untuk itu. Terlalu banyak KKN so, uang untuk ristek dan litbang gak ada...yah kita terpuruk terus kalo teknologi jaman baheula masih dipelihara.......thanks for writing this ya mbakyu....
niezniez wrote on Nov 28, '07
"Mba Haley..dah nyampe sinii yah.Duuh kepengen :)"
pijarapi wrote on Nov 28, '07
Sungguh indah negeri yang tidak hanya kaya dengan alamnya, tapi juga berbagai budaya dan pengetahuan dengan nilai-nilai yang arif. Sayang sekali, rakyat dan tanah air ini tak lagi bisa menjadi tuan di tanah sendiri, ketika arus imperialisme global mencengkeram kuat dan pemeritahan kita telah menjadi budaknya hehe....Negeri ini butuh orang Ciomas untuk mengurusinya kalau pemerintah kita tak bisa berlapang dada belajar dari rakyatnya seperti yang telah ditunjukan oleh komunitas adat di Ciomas.

ronny2yola wrote on Nov 28, '07
wah udah sampe ke lebak jugaaa.. keren yahhh....
rasti812 wrote on Nov 28, '07
Bagus sistemnya...harusnya sistem tradisional gini dilestarikan dan dibantu keberadaannya serta lebih diberdayakan...kalau sistem tradisional ini di adopt kemungkinan menuju swa sembada pangan lebih bisa terwujud kali ya..TFS...fotonya keren-keren...aku beberapa kali ke Ciomas dan perkebunan tehnya...malah nggak kesini...
cutyfruty wrote on Nov 28, '07
Pada masyarakat Dayak, secara tradisional sebetulnya mereka juga punya kepercayaan ini yaitu dilarang menjual beras karena sekali mereka menjual beras, maka mereka justru akan membeli beras suatu kali nanti. Aturan ini dilanggar (lha yo karena perubahan jaman, pengin tipi dsb kali ya), dan ternyata memang betul. Mereka sekarang harus membeli beras. Yang masih mempertahankan adat malah justru masih makmur, nggak kekurangan beras. Aku melihat ini di Kalimantan Selatan....
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Indonesia harusnya tidak pernah impor beras, kalau semua energi yang kita punyai dikonsentrasikan untuk itu. Terlalu banyak KKN so, uang untuk ristek dan litbang gak ada...yah kita terpuruk terus kalo teknologi jaman baheula masih dipelihara.......thanks for writing this ya mbakyu....
Betul banget mbak, tapi jangan salah lhoo... Sawah dan lumbung di Ciomas ini juga teknologi jaman baheula... dan terbukti menyembadakan pangan mereka...
GoI kurang panjang sih mikirnya... kenapa kita tak bertumpu pada ekonomi berbasis pertanian?
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Wehehehe... jalannya gak gampang mbak. Dari Bogor kurang lebih 4-5 jam. Sebelum masuk desa ini musti nglewati jalur berbatu kurang lebih sejam naik mobil, trus jalan kaki 20 menit.
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Ciomas relatif belum tersentuh imperialisme global, tapi ku kawatir ini tak akan bertahan lebih lama. Semenjak listrik masuk desa 1-2 minggu lalu, banyak yg mulai demen nonton VCD dangdut... Coba klo jalannya dah diperbaiki dan transportasi lancar... perubahan sosial budaya yg drastis tak akan terelakkan.
Perubahan ini semoga bisa disikapi dengan arif...
Tertarik melakukan pendampingan disana?
haleygiri wrote on Nov 28, '07
mumpung ada yg memfasilitasi... heheheh :p
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Betul banget, kearifan lokal spt ini yg harus dijaga kan? Teknologi bisa berubah, tapi spiritnya masih tetap...
Lah, emang Ciomas ada perkebunan teh yaaa?
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Kalimantan Selatan mana mbak?
Di Dayak di Pegunungan Meratus masih setia dengan adat menyimpan dan tidak memperjualbelikan beras... Malah ada padi/gabah yg usianya 14 tahun... gileee...
wiendacontat wrote on Nov 28, '07
disini juga ada lumbung Haley namanya grenier
haleygiri wrote on Nov 28, '07
ohya? cerita dong mbak...
cutyfruty wrote on Nov 28, '07
Kalimantan Selatan mana mbak?
Di Dayak di Pegunungan Meratus masih setia dengan adat menyimpan dan tidak memperjualbelikan beras... Malah ada padi/gabah yg usianya 14 tahun... gileee...
Waktu itu aku di Meratus juga. Yang tinggal di puncak masih mempertahankan adat menyimpan di lumbung, tapi yang tinggal di balai-balai yang bawah sudah nggak semuanya (malah sebagian besar) sudah kehabisan persediaan beras. Thesis master ku juga membahas tentang ini.
nanaheitmeier wrote on Nov 28, '07
jadi pengen kesanaaa
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Waktu itu aku di Meratus juga. Yang tinggal di puncak masih mempertahankan adat menyimpan di lumbung, tapi yang tinggal di balai-balai yang bawah sudah nggak semuanya (malah sebagian besar) sudah kehabisan persediaan beras. Thesis master ku juga membahas tentang ini.
Uh, sayang sekali yaaa...
Klo kek gini, ngliat lumbung tuu jadi sesuatu yg "antik"... kek aku kemarin terkagum-kagum melihat lumbung :D
wiendacontat wrote on Nov 28, '07
ohya? cerita dong mbak...
nanti deh Haley , mana fotonya udah tak hapus lagi
haleygiri wrote on Nov 28, '07
jadi pengen kesanaaa
Weehehehe... ntar deh aku usulkan ke mereka tuk menjadikan desanya jd desa wisata...
Tapi susah lho jalan ke sana naa...
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Oke mbak... aku tunggu...
Lha wong petani Perancis aja masih memelihara lumbung kok, mosok beberapa petani kita dah meninggalkannya...
erm718 wrote on Nov 28, '07
Wehehehe... jalannya gak gampang mbak. Dari Bogor kurang lebih 4-5 jam. Sebelum masuk desa ini musti nglewati jalur berbatu kurang lebih sejam naik mobil, trus jalan kaki 20 menit.
ternyata masih pelosok ya, tapi memang yg ditakutkan pengaruh modernisasi... bar listrik mlebu delok maneh wis macem2, semoga saja adat disana bisa bertahan.
indolondo wrote on Nov 28, '07
fotone apik2 mbak, adem rasane hati ini ngliatnya ....
haleygiri wrote on Nov 28, '07
Tengkiu mbak...
Aku sendiri terharu banget ngliat masih banyak lumbung di desa ini...
ayinda wrote on Nov 28, '07
wah ngeri pocongan kok dijual hehe
fitrids wrote on Nov 28, '07
aduuuh...damai banget ga siy ...
wlzone wrote on Nov 28, '07
Menarik ya liat2 begini. Kenapa negara kita kekurangan beras ya ?
haleygiri wrote on Nov 29, '07
@ Ayinda: Hebat thooo... pocongan isoh dadi komoditi...:p

@ Mbak Fitri: iyalah mbakkk... ayem tentrem loh jinawi

@ Welly: emang bener kita kekurangan beras? Atau ada sekelompok orang yg ingin bermain-main dan mendapat keuntungan dari beras impor?
mbaktika wrote on Nov 30, '07, edited on Nov 30, '07
kangen ikut ani ani dulu sekolahku smtk di tengah sawah pas musim panen suka madol ikutan ani ani ehhehe
pijarapi wrote on Nov 30, '07
Mbak Haley... gerak zaman tak bisa dilawan. Masyarakat kita juga butuh kemajuan peradaban, perlu jalan dan listrik, perlu teknologi. Tapi, ketika peradaban modern dikuasai segelintir orang serakah, maka ketimpangan sosial dan ekolgi tak terelakan. Setuju menyikapinya secara lebih arif, artinya perlu menegakan keadilan untuk rakyat neger ini.

Kalau nanti ke Ciomas lagi, titip salamku dari kampung jauh yang menghadapi problem sama di zaman edan ini hehe....
haleygiri wrote on Dec 3, '07
Kalau nanti ke Ciomas lagi, titip salamku dari kampung jauh yang menghadapi problem sama di zaman edan ini hehe....
mas, mbok penjenengan pindah ke ciomas... bikin OR disana... :p
lumbungdesa wrote on Mar 21
waduh, romantisme kaum urban rupanya. fotonya bagus mba, selamat deh. aku jg lg memaknai spirit leuit. meski kini hilang di desaku, tapi bukan berari ruh nya telah samasekali tiada. buktinya ya mba Haley... salam
haleygiri wrote on Mar 24
Semoga bukan hanya ruhnya yg terbang melayang-layang... hehehe
Salam kenal juga... :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help