Ketika masih kecil, di rumahku ada sebuah pohon nangka yang sangat besar. Saking besarnya, kedua tanganku tak cukup panjang memeluk lingkar pohon tersebut. Pohon nangka besar ini daunnya pun banyak dan lebat, namun tak demikian buahnya. Hampir tak pernah berbuah. Hahaha… Bapakku mempertahankan pohon itu karena mampu memberi keteduhan dan filter bagi udara panas
yang akan masuk ke rumahku.
Sepulang sekolah, dengan teman sepermainan aku mengambil setiap helai daun kuningnya yang jatuh memenuhi halaman rumah kami. Lalu dengan bantuan biting, kami bikin daun-daun itu menjadi ikat pinggang dan mahkota, lalu mengandaikan diri sebagai ratu bermahkota daun nangka… :p
(Anak-anak sekarang tidak mengenal permainan ini. Karena itu kuajak keponakanku mengambil setiap daun kering yangjatuh dan merangkainya. “Kayak gini kok permainan tho tante?” protes Theo, meski sebenarnya mereka pun menikmati mainan baru tersebut.)
Kadang-kadang menjelang siang yang hening, ada burung “prenjak” berkicau dan bermain diantara dahannya. Mbah Nem dan Lik Yem lalu akan berseru, “Wah, prenjak-e ngganter, meh ono dayoh teko.” (Wah, burung prenjaknya berkicau nyaring, akan ada tamu yang datang). Hingga sampai sekarang aku percaya bahwa bunyi prenjak ngganter adalah tanda akan ada tamu. Benar atau tidaknya, walahualam…
Namun setelah aku agak dewasa, pohon itu ditebang, digantikan dua pohon mangga yang sudah mulai besar, ditanam sederet dengan pohon nangka tersebut. Lumayan, meski buahnya pun tak begitu lebat, tapi pada musimnya, cukup untuk dibagi ke tetangga kanan kiri dan dikirim ke kakak-kakak yang di luar kota, agar mereka bisa merasakan buah mangga rumah.
Kira-kira 3 tahun lalu, masku Yahya datang dengan membawa bibit nangka yang kira-kira sudah setinggi 1 meter.
“Ayo nandur nangka meneh, ngganteni nangka sing dek mben.” Agakny
a ada romantisme khusus dengan pohon nangka…
“Wah, nunggu 6 tahun dong biar bisa manen.”
“Ora, ini nangka genjah kok, cepet berbuah, gak usah nunggu terlalu lama.”
Kemudian ditanamlah pohon nangka itu diantara banyak pohon di halaman rumah kami.
Tak ada perlakukan khusus. Tak ada pemupukan dan perampalan batang, tidak seperti pohon mangga kami. Namun tahun ini nangka itu sudah mengalami panen kedua. Panen pertama setahun lalu boleh dibilang semacam percobaan saja. Hanya menghasilkan 4 buah, dan isinya pun lebih banyak damen-nya tinimbang nangka. Setelah aksi operasi nangka, bedah sana sini, hanya ditemukan 10 pongge nangga. Hahaha…
Tapi kali ini lain. Pohon nangka kami benar-benar berbuah lebat. Hingga saat ini sudah 4 buah nangka besar dan 3 buah nangka kecil yang kami panen. Sementara di atas pohon masih terdapat lebih dari 5 buah nangka. Tentu saja bener-bener mblenger, apalagi sepuluh hari lalu 3 buah nangka matang dalam waktu bersamaan, sementara aku cukup sibuk untuk membelah satu-satu. Akhirnya mbak-mbakku dengan sukarela membawanya ke rumah mereka masing-masing, dan aku minta bersihnya saja, alias nangka yang sudah dipleceti.
Olehku, selain kumakan langsung atau kubikin campuran es dawet, ada sebuah makanan yang kukangeni. Makanan sederhana yang bernama samarinda. Makanan ini hanyalah nangka yang diiris selebar 1 cm, kotak-kotak ataupun memanjang, lalu dicampurkan dalam adonan tepung, telur, gula dan garam. Hmmm… nyam…. Dimakan anget-anget pada pagi yang hening dengan secangkir kopi.