
Kutemui kau diantara sejuta nama yang bersliweran diantara kawat dan kabel-kabel melintang. Saat bulan tak mampu tembus jendela kaca dan nyamuk berdengung mencari mangsa. Bercakap kita tentang mentari siang yang membakar kepala, kuliah yang tak pernah selesai, selingkuh kekasihmu, paruh jiwaku, dendang hati dan irama masa muda.
Abuabutua, warna yang kaupancarkan. Muram? Mungkin... Misteri, kata yang tepat. Bagai kain transparan selubungi jiwa ragamu. Tak harap orang lain tahu, tak harap orang lain mengenalmu.
Hingga beberapa malam kutemui engkau. Celoteh-celoteh resah, celoteh tanpa makna, rindu, persimpangan, abai, dan nada-nada. Tak juga kukenal engkau. Misteri abuabutua. Namun seperti puisimu, engkau keindahan dibalik kata, yang hanya kau sendiri tahu maknanya.
Lalu kujumpai kau di suatu sore, di jalanan Maliobro yang ramai. Aku terpana. Keindahanmu serupa kupu gajah hitam besar dengan putih lingkaran mata. Keunikan dan jiwa merdeka yang terbang menari diantara warna merah, hijau, oranye, ungu, dan jutaan warna lain tanpa nama. Kelembutan yang pancarkan kekuatan perempuan muda dengan harga diri dan mimpi. Engkau selaksa nada dengan irama berbeda yang hantarkanku menari menuju pelangi. Aku terpikat. Bagiku engkau inspirasi yang tak pernah mati.
Abuabutua. Kutulis ini ketika dada membuncahkan kerinduan yang tak pernah redup. Kerinduan pada masa muda, pada jiwa merdeka, pada seni dan rasa. Abuabutua. A k u r i n d u...
Untuk
Ozel.