(Keterangan foto kiri: gambar searah jarum jam adalah tales, kentang ireng, ganyong, garut, kimpul, dan gembili)
Saat ini kita sudah mulai memasuki musim kemarau, meski anomali cuaca membuat hujan sesekali turun di beberapa tempat dan menyebabkan banjir. Salah satu kekawatiran yang muncul saat menghadapi musim kemarau ialah bencana kelaparan akibat kekeringan di beberapa wilayah. Kekeringan membuat tanaman (pangan) tak sanggup bertahan hidup, kelangkaan pangan pun terjadi. Meski kelangkaan pangan adalah argumen yang sangat debatable. Langka atau tak punya daya beli? Mustahil di daerah perkotaan kelangkaan pangan bisa terjadi. Makanan berlimpah di setiap pojok kota. Warung makan, restoran, supermarket, pasar, semuanya menjual makanan. Ketiadaan daya beli lah yang membuat sebagian masyarakat perkotaan tetap mengalami kelaparan. Kembali ke masalah musim kemarau— saat dimana kekawatiran akan langkanya pangan, justru saat itulah banyak umbi-umbian yang siap untuk dipanen. Sebut saja nama-nama ini: kentang ireng, ganyong, garut, kimpul, gembili, tales, suwek, uwi. Namun umbi-umbi ini sudah tidak populer lagi sebagai tanaman pangan. Petani sudah tak lagi menanamnya. Mbok-mbok di pasar pun sudah jarang menjualnya. Di Jawa, generasi muda yang lahir tahun 80-an sudah tidak lagi mengenal umbi-umbi tersebut. (Keterangan foto bawah: bermacam umbi yang dijual di Pasar Besar Madiun)
 Beberapa Fakta tentang Keanekaragaman Pangan Dibawah ini beberapa fakta yang bisa kudapat berhubungan dengan keanekaragaman pangan di negara kita. Gengsi dan Stigma Ada pendapat yang aneh ketika kita mengkonsumsi aneka ragam produk pangan yang sudah jarang didapat. Jika makanan seperti yang saya sebut diatas tersedia di sebuah rumah tembok kalangan menengah ke atas diartikan penghuni tersebut sedang menikmati makanan tradisional, bernostalgia, atau mencicipi makanan langka. Namun jika makanan seperti tersebut tersedia di sebuah rumah kayu keluarga miskin diartikan bahwa keluarga tersebut memang benar-benar miskin hingga tak mampu membeli beras, ataupun camilan roti. Sigh… Politisasi Pangan Politisasi pangan sudah terjadi sejak awal pemerintahan orde baru. Melalu revolusi hijau, petani di seluruh negeri diwajibkan menanam padi. Tidak memperhatikan kekhasan yang berlaku di setiap lokal, bahwa orang Papua makanan pokoknya hipere (umbi2an sejenis ketela) dan sagu, orang Ambon juga mengkonsumsi sagu, atau orang di sebagian daerah Jawa yang mengkonsumsi singkong dan jagung. Kebijakan ini telah berhasil memusnahkan keanekaragaman tanaman pangan negeri ini. Dari Sabang sampai Merauke padi terhampar, memusnahkan ladang-ladang hipere dan sagu. (Terbayangkah bahwa perubahan makanan pokok berarti berubahan sosial budaya masyarakat setempat. Berarti perubahan teknologi pertanian, teknologi pengolahan pangan, hingga adat istiadat setempat. Aku jadi meragukan ke-bhinneka tunggal ika-an Indonesia.) Jumlah Varietas Tanaman Pangan di Indonesia Berdasarkan penelitian, terdapat 361 varietas tanaman pangan yang ada di Indonesia. Jumlah yang fantastis, bukan! Berapa diantara kita yang mampu menyebutkan 20 macam saja? Selama ini kita hanya mengenal padi (gogo, mentik wangi, rojo lele, pandan wangi, siam unus, IR dan teman-temannya), atau tambahkan jagung (jagung manuk, jagung unyil, C7 dan teman-temannya), singkong, kacang-kacangan, dan sagu. Tapi masih lebih 300 varietas lain yang tidak kita kenal secara umum. Dan semua itu adalah kekayaan pangan kita. Kok gak kelihatan ya? Ngumpet kemana?
(Keterangan foto kanan: umbi suwek masih mentah)
Diversifikasi Pangan Kita: Impor Gandum! Tidak dipungkiri bahwa kita pemakan mie dan roti. Produk pangan yang bahannya harus kita impor ini, tiap tahunnya didatangkan kurang lebih sebanyak 3.300.000 ton (mengacu pada data Bogasari bahwa konsumsi gandum masyarakat Indonesia adalah 15 kg/kapita). Mengapa harus gandum (bertanya pada diri sendiri sbg bakul kue)? Mengapa harus membeli dari tetangga? Mengapa bukan aneka ragam umbi-umbian, jagung, dan beras yang menjadi bahan mie dan roti? Pengembangan Menjadi Produk Olahan Inilah gagasan yang harus terus dikembangkan. Mengembangkan produk pangan lokal kita menjadi produk olahan yang lebih bervariasi. Tiga ratus enam puluh satu varietas tanaman pangan adalah kekayaan yang tidak akan ada habisnya untuk diexplorasi. Kita sudah mengenal roti dari tales, mie dari jagung, sifon cake dari ketan item. Tapi pasti masih banyak produk yang bisa kita kembangkan dengan berbahan ganyong, garut, uwi, tales, gembili, beras merah, ketan ireng, kacang koro, dll. (Keterangan foto kiri: cake ketan ireng)
Tentu saja ini harus didukung dengan ketersediaan bahan. Saya termasuk penggemar sifon cake ketan ireng dan sesekali membuatnya. Tapi mencari tepung ketan ireng bukan perkara yang mudah di Solo. Ada sebuah toko yang menjualnya, tapi kurasa tidak murni ketan ireng, dicampur dengan ketan putih. Rasanya menjadi beda. Membawa ketan ireng ke pasar minta digilingkan, ditolak dengan alasan lengket di gilingan. Menggiling sendiri dengan blender, butuh 2 jam untuk 1 kg ketan ireng. Sigh… Well, tanpa berpanjang-panjang (soale wis luwe, ngomongke pangan), eh, para bakers, para ibu rumah tangga yang seneng masak, para teknisi pangan, yang punya restoran, warung makan ataupun angkringan, yang punya bisnis kue, peneliti pangan, peminat wisata kuliner, dll, yuk, mengembangkan pangan lokal menjadi makanan olahan yang menarik dan bermutu!!
 | Laris manis tanjung kimpulll |
 | Tanjunge opo kimpul-e mas? :p Jadi heran, kok ada ungkapan kek gitu yaaa... sejarahnya? |
 | modjo wrote on Jul 31, '07 eh jangan salahhh... tiap aku pulang pasti umbi2an ini setiap hari ada dimeja makan rumahku lhooo :) nikmat banget! apalagi kalo pas anget2 gitu... ciamik tenan... sudah musim kemarau ya mba? |
 | umbi suwek apaan seh? Gede sekali di gambar atas :D |
 | pephy wrote on Jul 31, '07 beruntung aku sampai sekarang masih makan itu semua, tiap hari ibuku ke pasar dan ada saja yang dibelinya. seandainya ada penelitian yang mengungkapkan kandungan gizinya dan ada pengolahan yang beragam pasti seru deh. one day I hope. sekarang baru trend"TELA-TELA" fried casava, siapa pernah nyoba? enak lo |
 | pephy wrote on Jul 31, '07 tak copy ya mbak, tak baca di rumah. |
 | mbak haley, ada di pasar bringharjo :P sayah waktu acara berburu di pasar bringharjo menemukan mbok2 jualan segala macem umbi inih dalam kondisi udah di rebus tinggal di hap :P |
 | keren euy ceritanya, jadi ingat waktu bulan lalu ke beringhardjo cari makanan ini |
 | Wah semua umbi2an itu karemanku jare, terutama KENTANG IRENG dan GARUT...Waduuuuuuh postingannya menarik! |
 | belum pernah nyobain umbi suwek... kalau singkong doyan banget direbus makannya pake gula...terus minumnya bajigur....duhhh serasa di Lembang....;-) |
 | haleeeeeeeeeeeey..doooh..aku kan penggemar tales.. di goreng trus di labur gula merah syeeedaaap.. ato mo yang rada internasional, pergi ke Mall beli cake tales..uuuenaak..tapi harga nya selangit hehehe.. sayang disini ga ada.. |
 | Garut kuwi irut yo? Aku kangen panganan iki.......kapan yo makan ini lagi. Disini aku belum nemuin irut. |
 | Searah jarum jam dimulai dari yang mana mbak??? |
 | Mbak Haley pintar buat ceritera, dan ceritera pas lagi. belum pernah dicoba tuh Mbak. |
 | wataauuu cake ketan itemnya mauuuu....... |
 | kayake arah jarum jame salah ya?... ora cocok karo gambare mbak, eh mbuh ding kali aku sing salah ngerti karo rupane umbi
|
 | mengembangkan pangan lokal menjadi makanan olahan yang menarik dan bermutu!!  mbak ning kene ono kripik dari umbi2an tapi regane luarang je... merknya TERRA http://www.terrachips.com/ nek rasane yo luwih enak kripik/panganan ning Indo, & semoga saja umbi2an di Indo bisa dikembangkan jadi makanan yg lebih variatif. |
 | oohhh ...... udah jarang kie Yu ..paling sing okeh di mBogor yo Tales ...hehehe |
 | Dari segitu banyak umbi2an cuma tau sedikit aja...hehehe. Ngga dibudidayakan lama2 punah juga.. sayang yah. |
 | Cuman pernah makan tales(kripik)-gembili (dikit)ama kentang ireng ...lan kimpul , lainnya belummm :D |
 | Aku mau tales goreng, mbakyu... Kentang ireng kayak apa sih? |
 | Ko aneh ya haley....... liat judul itu aku malah kepikiran gatot...heheheheh
|
 | mba itu tales apa enthik??? aku kangen enthik euyyy |
 | Ley , ternyata judul mu itu kentang irenge kau tulis 'ketan ireng' yach ..baru ngeh aku ...,di ralat gak cah ayu ?? :D OPo pas nulis lagi pengen ketan ireng nganggo klopo parut..emm enake.... |
 | aku suka ganyong... meski kadang suka kleru laos :)) Gethuk tales enak jugaaa
|
 | tigun wrote on Aug 2, '07 Bangsa ubi-ubian, saya selalu suka sejak kecil. Cuman satu yang harus saya lakukan setelah makan banyak ubi-ubian ini. Harus pergi menyendiri jauh-jauh dari lingkungan manusia, terutama manusia berstatus 'ndoro'. Maklum, susah bener nahan rasa pengen kentut ( ma'ap rada jorkse) setiap kenyang makan ubi-ubian ini... :) Eh...tahu ndak, saya lagi ngidam apa akhir2 ini, jeng Haley? Sukun goreng !!! |
 | tigun wrote on Aug 2, '07 Politisasi pangan sudah terjadi sejak awal pemerintahan orde baru. Melalu revolusi hijau, petani di seluruh negeri diwajibkan menanam padi. Tidak memperhatikan kekhasan yang berlaku di setiap lokal, bahwa orang Papua makanan pokoknya hipere (umbi2an sejenis ketela) dan sagu, orang Ambon juga mengkonsumsi sagu, atau orang di sebagian daerah Jawa yang mengkonsumsi singkong dan jagung.  Syukurlah kalau akhirnya banyak orang yang menyadari politisasi pangan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Belum banyak orang yang menyadari hal tersebut hingga saat ini. Tidak banyak yang menyadari, bahwa bisnis beras adalah monopoli lingkaran Orde Baru, melalui 'bulog' mereka yang penuh tipu muslihat, demi kepentingan lingkaran hitam tersebut. |
 | pephy wrote on Aug 3, '07 TApi aku suka konsep jualan tela-tela ini.. modern. Orang yg dulunya gak pernah makan singkong goreng, jadi mudah mendapatkannya...  Aku dulu nyoba karena penasaran tiap pulang mau masuk gang ke rumah banyak yang beli dan adikku pernah beli, pas tak rasain koq lumayan enak, tapi aku paling minta pedas asin aja solae ga doyan yang rasa aneh atau keju. Salut juga sama yang punya ide julan modern ini ya mbak, siapa tahu nanti ada konsep serupa dengan jenis umbi yang beda. |
 | Salam kenal sebelumnya... kalau soal umbi-umbian minor, saya pernah ngerjain sampai detil, tapi ya itu dipromosikan pun akhirnya sampai sebatas kertas makalah nasional, gak ada yang respon tuh... sedih juga sebenernya sih, tp paling nggak infonya sudah masuk data base, jadi kalau ada yang perlu tinggal ambil saja |
 | Salam kenal kembali Oh iya mbak Haley (bener ya nulisnya), seneng sekali kalo ada yang masih suka menikmati jenis makanan yang beginian, apalagi membawanya ke forum yang luas (yah paling tidak dari yang gak tahu jadi tahu lah...) Ini khasanah yang hampir dilupakan di Indonesia, padahal di luaran sana mereka mau mengeksploatasi khasiatnya lho... |
| |